Prof. Rokhmin Dorong Penerapan Akuakultur Modern di Indonesia

Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. (kanan, berbaju merah), saat menyimak pemaparan teknologi fasilitas akuakultur bersama perwakilan Qihang Innovation Company, di Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, Jumat (18/9/2026). Dok. TL RDI/IKHBAR

Ikhbar.com: Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S mendorong percepatan modernisasi akuakultur Indonesia melalui penguatan riset, pengembangan teknologi, dan hilirisasi produk perikanan. Dorongan tersebut disampaikan saat mengunjungi dua pusat inovasi kelautan di Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, Jumat, 18 September 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Rokhmin bersama delegasi mendatangi Yellow Sea Fisheries Research Institute (YSFRI) dan Qihang Innovation Company. Kedua kunjungan tersebut diarahkan untuk melihat perkembangan teknologi budidaya, menjajaki kerja sama riset, serta mempelajari penerapan teknologi perikanan modern.

“Salah satu fokus pembahasan adalah peluang membangun kemitraan riset antara institusi penelitian di Tiongkok dan Indonesia,” ujar Prof. Rokhmin.

Baca: Kunjungi Tiongkok, Prof. Rokhmin Jajaki Kerja Sama Akuakultur

Setidaknya ada tiga komoditas yang disoroti dan dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kerja sama tersebut, yakni tiram, lobster, dan udang.

“Pengembangan tiram diarahkan pada budidaya terintegrasi, termasuk peluang eksplorasi kawasan Selat Bali. Sementara lobster menjadi salah satu komoditas yang dapat dikembangkan melalui teknologi pembenihan dan pembesaran modern,” katanya.

Untuk udang, perhatian diarahkan pada peningkatan produktivitas budidaya tambak skala industri dengan tetap memperhatikan keberlanjutan. Pengembangan teknologi dinilai penting agar peningkatan produksi tidak berhenti pada aspek kuantitas, tetapi juga memperkuat daya saing produk perikanan.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu juga menyoroti pentingnya hilirisasi. Salah satu praktik yang dipelajari dalam kunjungan tersebut adalah pemanfaatan limbah cangkang tiram sebagai pupuk hayati.

Teknologi tersebut disebut telah diaplikasikan pada jutaan hektare lahan pertanian di Tiongkok. Pemanfaatan limbah itu menjadi contoh pengembangan produk bernilai tambah sekaligus penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam sektor kelautan dan perikanan.

Agenda kemudian dilanjutkan ke Qihang Innovation Company. Di perusahaan tersebut, Prof. Rokhmin meninjau sejumlah purwarupa dan maket teknologi budidaya laut modern dengan pendampingan Direktur Suan Ming Liang atau Sam.

Teknologi yang ditinjau mencakup keramba jaring apung lingkar berbahan HDPE yang dirancang tahan terhadap gelombang samudera. Delegasi juga melihat platform terapung multifungsi yang dapat digunakan untuk penyimpanan logistik dan pos keamanan budidaya serta terintegrasi dengan pembangkit energi terbarukan berbasis hybrid wind energy (energi angin hibrida).

Baca: Di Australia, Prof. Rokhmin Kaji Teknologi Modern untuk Kemajuan Akuakultur Indonesia

Selain fasilitas, tersedia pula sistem pembersihan dan robotik bawah air untuk membantu pemeliharaan keramba serta pemantauan biota budidaya. Teknologi semacam itu menunjukkan arah pengembangan akuakultur yang semakin mengandalkan otomasi dan pemantauan berbasis teknologi.

Prof. Rokhmin menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor tersebut. Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 itu, potensi bahari Indonesia perlu ditopang penguasaan teknologi agar mampu memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

“Kemajuan akuakultur kita di masa depan harus digerakkan oleh riset bioteknologi yang presisi, hilirisasi yang tuntas, serta adopsi teknologi fasilitas lepas pantai modern yang ramah lingkungan. Dari pesisir hingga laut lepas, potensi bahari harus bermuara pada kemandirian dan kemakmuran rakyat Indonesia,” katanya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.