Ikhbar.com: Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S meninjau perkembangan teknologi akuakultur modern dalam kunjungan kerja ke Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, Jumat, 18 September 2026. Kunjungan tersebut mencakup Yellow Sea Fisheries Research Institute (YSFRI) dan Qihang Innovation Company.
Kedua lokasi tersebut menjadi bagian dari agenda penjajakan kerja sama riset dan transfer teknologi perikanan budidaya. Prof. Rokhmin melihat langsung fasilitas penelitian, teknologi pembenihan, sarana budidaya laut lepas pantai, hingga sistem otomasi yang dikembangkan untuk mendukung kegiatan akuakultur.
Kunjungan pertama dilakukan di YSFRI. Di lembaga tersebut, Prof. Rokhmin bersama delegasi meninjau laboratorium nasional pemuliaan benih laut serta berdiskusi dengan jajaran pimpinan dan peneliti senior.
“Pembahasan diarahkan pada peluang kerja sama konkret antara lembaga riset Tiongkok dan Indonesia. Tiga komoditas menjadi perhatian, yakni tiram, lobster, dan udang,” kata Prof. Rokhmin.
Baca: Di Australia, Prof. Rokhmin Kaji Teknologi Modern untuk Kemajuan Akuakultur Indonesia
Untuk tiram, pembahasan mencakup peluang budidaya terintegrasi, termasuk rencana eksplorasi kawasan Selat Bali. Sementara itu, pengembangan lobster diarahkan pada penguasaan teknologi pembenihan dan pembesaran modern. Adapun komoditas udang menjadi bagian dari pembahasan peningkatan produktivitas tambak skala industri secara berkelanjutan.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 tersebut juga melihat pengembangan teknologi tidak berhenti pada proses produksi. Hilirisasi menjadi bagian penting agar komoditas perikanan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah pengolahan limbah cangkang tiram menjadi pupuk hayati. Produk tersebut telah diaplikasikan pada jutaan hektare lahan pertanian di Tiongkok tanpa merusak kesuburan tanah dengan bahan kimia, sebagaimana dijelaskan dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Dari YSFRI, agenda dilanjutkan ke Qihang Innovation Company. Perusahaan tersebut bergerak dalam penyediaan solusi teknologi fasilitas perikanan lepas pantai dan smart aquaculture.
Didampingi Direktur Suan Ming Liang atau Sam, Prof. Rokhmin meninjau sejumlah maket dan purwarupa teknologi. Salah satunya berupa keramba jaring apung lingkar berbahan HDPE yang dirancang memiliki daya tahan tinggi terhadap gelombang samudera.
Baca: Di Laos, Prof. Rokhmin Dorong Kerja Sama Ketahanan Air dan Iklim Asia-Pasifik
Teknologi lain yang ditinjau berupa platform terapung multifungsi. Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung penyimpanan logistik dan pos keamanan budidaya serta dilengkapi integrasi pembangkit energi terbarukan berbasis hybrid wind energy (energi angin hibrida).
Delegasi juga melihat sistem pembersihan dan robotik bawah air. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu otomasi pemeliharaan keramba serta pemantauan biota budidaya secara lebih efisien.
Guru Besar FPIK IPB University itu menilai pengalaman yang diperoleh dari kunjungan tersebut penting bagi pengembangan teknologi kelautan Indonesia. Menurut Prof. Rokhmin, modernisasi fasilitas budidaya dapat memperkuat daya saing nelayan dan pembudidaya, meningkatkan devisa, serta mendukung ketersediaan sumber protein bagi masyarakat.
“Kemajuan akuakultur kita di masa depan harus digerakkan oleh riset bioteknologi yang presisi, hilirisasi yang tuntas, serta adopsi teknologi fasilitas lepas pantai modern yang ramah lingkungan. Dari pesisir hingga laut lepas, potensi bahari harus bermuara pada kemandirian dan kemakmuran rakyat Indonesia,” pungkasnya.