Kiat Berantas Buta Huruf Al-Qur’an dari Dr. Faiz

Tokoh Filsafat Islam, Dr. KH Fahruddin Faiz, M.Ag dalam Talkshow Kebangsaan IQTAF FEST XIV 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu, 7 November 2026. Foto: Ikhbar/FSJ

Ikhbar.com: Kemampuan membaca Al-Qur’an di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Pengalaman seorang mahasiswi yang menemukan sekitar 80% siswa kelas IX belum mampu membaca Al-Qur’an menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam Talkshow Kebangsaan IQTAF FEST XIV 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu, 7 November 2026.

Menanggapi persoalan tersebut, Tokoh Filsafat Islam, Dr. KH Fahruddin Faiz, M.Ag menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan Al-Qur’an membutuhkan dukungan lingkungan, pembentukan karakter, dan ketersediaan fasilitas pembelajaran.

Ia menggunakan pendekatan teori praksis sosial Pierre Bourdieu yang mencakup tiga unsur, yaitu arena, habitus, dan kapital. Ketiganya dapat menjadi landasan untuk membangun budaya membaca Al-Qur’an di sekolah.

Pertama, arena atau lingkungan. Sekolah perlu menciptakan suasana yang mendukung kegiatan membaca Al-Qur’an. Guru juga harus memberikan teladan melalui kegiatan mengaji bersama setelah salat zuhur atau membaca surah pendek sebelum pembelajaran dimulai.

Baca: 5 Tingkatan Literasi Al-Qur’an menurut Dr. Faiz

Kedua, lanjut Dr. Faiz, habitus atau pembentukan karakter. Siswa perlu dibiasakan mencintai Al-Qur’an melalui pendekatan yang menyenangkan.

“Proses pembelajaran hendaknya tidak menimbulkan ketakutan atau pengalaman traumatis. Pemberian apresiasi terhadap perkembangan kemampuan siswa juga dapat membantu membangun kebiasaan tersebut,” katanya.

Ketiga, kapital atau modal. Sekolah perlu menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai, mulai dari ketersediaan mushaf, musala yang nyaman, hingga tenaga pengajar yang kompeten.

“Guru tidak hanya memerintah, tetapi memberi teladan,” jelas Faiz.

Selain dukungan sekolah, konsistensi membaca Al-Qur’an juga memerlukan pengaturan waktu dan komitmen pribadi. Ia mengingatkan pentingnya membedakan gangguan yang benar-benar menghalangi kegiatan dengan alasan yang digunakan untuk menunda kewajiban.

Dr. Faiz menyarankan pelajar menyusun jadwal khusus untuk membaca Al-Qur’an setiap hari. Target bacaan dapat dimulai dari jumlah kecil dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Ia mencontohkan target dua halaman sehari sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan. Target tersebut dapat ditingkatkan setelah kegiatan membaca Al-Qur’an menjadi bagian dari rutinitas harian.

“Jangan langsung menargetkan lima juz sehari. Mulailah dari target kecil yang realistis, misalnya dua halaman sehari. Yang terpenting adalah konsistensinya,” pesannya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.