Makna Mendalam Surat Pendek Al-Qur’an menurut Nyai Tho’ah Ja’far

Pengasuh Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho'atillah Ja'far. Foto: KHAS Kempek Cirebon

Ikhbar.com: Khatmil Juz ‘Amma harus menjadi pintu awal bagi santri untuk membangun kecintaan yang lebih dalam kepada Al-Qur’an. Hafalan dan kemampuan membaca dengan fasih perlu dilanjutkan dengan pemahaman serta pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan Pengasuh Asrama Putri Al-Nashir Al-Manshur Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far, dalam acara Haflah Khatmil Juz ‘Amma Haul Ke-37 KH Aqiel Siroj Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ahad, 20 September 2026.

Menurut Nyai Tho’ah, Juz ‘Amma menjadi bagian awal yang banyak digunakan pesantren dan majelis taklim dalam pembelajaran Al-Qur’an. Juz ke-30 tersebut berisi surat-surat pendek yang lebih mudah dipelajari sebagai pijakan awal.

“Pendek bukan berarti ringan maknanya. Justru karena pendek, ia lebih mudah diresapi dan dibawa sepanjang hidup,” ujar Nyai. Tho’ah.

Ia menjelaskan, kumpulan surat-surat pendek dalam Juz ‘Amma dikenal dengan istilah al-mufashshal. Struktur suratnya yang relatif ringkas membuatnya mudah dipelajari, terutama bagi orang yang baru membangun kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Dalam proses pembelajaran, kemampuan membaca dengan benar juga menjadi bagian penting dalam menjaga bacaan Al-Qur’an. Nyai Tho’ah mengutip QS. Al-Muzzammil: 4.

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil,” tuturnya.

Baca: Kiai Niam: Paham Nahu Saraf bikin Baca Al-Qur’an Bernilai 700 Kebaikan per Huruf

Menurutnya, tartil mencakup ketepatan makhraj, panjang dan pendek bacaan, serta tempat berhenti sesuai kaidah. Karena itu, proses koreksi yang dijalani santri dalam membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari proses pembelajaran.

Ia juga mengingatkan santri yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an agar tidak merasa rendah diri. Nyai Tho’ah mengutip hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan keutamaan orang yang membaca Al-Qur’an dengan kesulitan dan memperoleh dua pahala.

“Yang lancar mendapat kemuliaan bersama malaikat, sedangkan yang masih berjuang keras justru mendapat dua pahala sekaligus,” katanya.

Pesan tersebut, lanjut Nyai Tho’ah, juga menjadi pengingat bagi santri yang sudah lancar membaca Al-Qur’an agar tidak merasa lebih tinggi daripada santri lain yang masih belajar.

Ia kemudian menekankan pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Hafalan menjadi bagian dari proses, sedangkan kecintaan terhadap bacaan Al-Qur’an dapat menjadi dorongan untuk terus membaca dan mengamalkannya.

Ia menyampaikan kisah seorang imam di Masjid Quba yang selalu membaca Surat Al-Ikhlas dalam setiap rakaat sebelum membaca surat lainnya. Ketika ditanya mengenai kebiasaan tersebut, sang imam menjawab, “Sesungguhnya aku mencintainya.”

Menurutnya, Rasulullah Saw tidak menegur kebiasaan tersebut. Dalam riwayat yang disampaikannya, Rasulullah Saw menyebut kecintaan terhadap surat tersebut sebagai sebab masuk surga.

“Bayangkan, kecintaan tulus pada satu surat pendek yang bahkan dihafal anak-anak kita sejak kecil, dijanjikan surga oleh Rasulullah Saw,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan keutamaan Surat Al-Ikhlas yang terdiri atas empat ayat. Dalam hadis yang dikutip, Rasulullah Saw menyebut Surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang setara dengan sepertiga Al-Qur’an.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa ukuran fisik atau panjang sebuah bacaan tidak menentukan besarnya nilai yang terkandung di dalamnya. Hal serupa dapat ditemukan dalam Surat Al-Qadr yang menyebut Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.

Lebih lanjut, Nyai Tho’ah menegaskan, kemampuan menghafal dan membaca Juz ‘Amma dengan fasih perlu dilanjutkan dengan pengamalan. Nilai-nilai yang terkandung dalam surat-surat pendek perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan Surat Al-‘Ashr yang terdiri atas tiga ayat. Surat tersebut memuat pesan tentang waktu, kerugian manusia, iman dan amal saleh, serta pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Surat Al-Ma’un juga menjadi contoh lain. Ia menjelaskan bahwa surat tersebut menghubungkan keberagamaan dengan kepedulian terhadap anak yatim dan orang yang membutuhkan.

“Hafal bacaannya saja tidak cukup jika hati masih pelit terhadap anak yatim dan orang yang membutuhkan,” katanya.

Menurut Nyai Tho’ah, pesan dalam Al-‘Ashr, Al-Ma’un, An-Nas, Al-Falaq, dan surat-surat lainnya perlu hadir dalam perilaku. Dengan demikian, hafalan tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat, tetapi berlanjut pada pembentukan sikap dan akhlak.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti peran orang tua dalam perjalanan pendidikan Al-Qur’an seorang anak. Lembaga tersebut, menurut dia, tidak berhenti ketika santri berada di pesantren.

Baca: Dari Rahim Alam: Bacaan Segar Karya Nyai Tho’ah Ja’far

Doa, keteladanan, dan suasana rumah yang dekat dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari kesinambungan pendidikan setelah santri kembali ke rumah. Dukungan orang tua juga menyertai proses belajar anak selama berada di pesantren.

“Secanggih apa pun pengajaran di pesantren, ia tetap membutuhkan kesinambungan doa dan keteladanan di rumah,” ujarnya.

Karena itu, keberhasilan seorang anak dalam menghafal dan mencintai Al-Qur’an juga berkaitan dengan dukungan keluarga. Pengorbanan orang tua dalam mengantarkan anak belajar di pesantren dan menjalani masa pendidikan menjadi bagian dari proses tersebut.

Ia menegaskan, Khatmil Juz ‘Amma merupakan pencapaian yang perlu disyukuri sekaligus awal untuk melanjutkan perjalanan bersama Al-Qur’an.

“Khatmil Juz ‘Amma bukan garis finis, melainkan gerbang,” tegasnya.

Setelah menyelesaikan Juz ‘Amma, masih terdapat 29 juz Al-Qur’an yang perlu dibaca, dijaga hafalannya, dipahami, ditadaburi, dan diamalkan.

Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat tumbuh melalui sesuatu yang dekat dan sederhana. Kecintaan terhadap surat-surat pendek yang dipelajari sejak dini diharapkan menjadi pintu menuju kecintaan terhadap keseluruhan Al-Qur’an.

Ia pun mengajak santri menjadikan Khatmil Juz ‘Amma sebagai awal untuk membangun kedekatan yang lebih kuat dengan Al-Qur’an, sementara wali santri diharapkan terus mendampingi perjalanan tersebut melalui doa dan keteladanan di rumah.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.