Ikhbar.com: Ulama kharismatik, KH Muhammad Musthofa Aqiel Siroj, mendorong para santri untuk kembali membiasakan diri menulis dalam proses belajar. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon itu, menulis tidak sekadar membantu mencatat pelajaran, tetapi juga melibatkan sejumlah kemampuan tubuh dan pikiran secara bersamaan.
Hal tersebut disampaikan Kiai Musthofa dalam Haflah Khatmil Juz ‘Amma dan Haul ke-37 KH Aqiel Siroj di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ahad, 20 September 2026.
Kiai Musthofa menjelaskan, kegiatan menulis membuat sejumlah anggota tubuh bekerja dalam satu proses. Tangan bergerak, mulut membaca, mata melihat tulisan, telinga mendengar, sedangkan otak merekam informasi.
“Orang yang menulis kecerdasannya luar biasa, sebab ada lima anggota yang bekerja,” ungkapnya.
Baca: Kiai Musthofa Aqiel: Berzikirlah, tidak Ada yang Bisa Diharap Selain Allah
Menurut Kiai Musthofa, proses tersebut membuat kegiatan menulis memiliki hubungan erat dengan kemampuan memahami dan mengingat pelajaran. Kiai Musthofa kemudian mengaitkannya dengan firman Allah Swt dalam QS. Al-‘Alaq tentang pena dan proses pengajaran manusia.
Dalam penjelasannya, Kiai Musthofa mengutip ayat:
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena.”
Kiai Musthofa kemudian melanjutkan dengan QS. Al-‘Alaq ayat 5:
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Kiai Musthofa mengatakan, penggunaan pena berkaitan dengan proses memperoleh pengetahuan. “Kalau memakai pena, yang tadinya tidak tahu pasti akan tahu,” ujarnya.
Kiai Musthofa juga menyoroti kebiasaan belajar sebagian santri yang menurutnya mulai meninggalkan tradisi menulis. Makna kitab, kata dia, banyak diperoleh melalui fotokopi atau membeli makna yang sudah jadi.
Menurut Kiai Musthofa, kebiasaan tersebut dapat mengurangi proses belajar yang sebelumnya dilakukan secara langsung melalui tulisan tangan. Bahkan, tasrifan dan Imriti kini dapat difotokopi sehingga santri tidak lagi harus menuliskannya sendiri.
Kiai Musthofa kemudian mengisahkan pengalaman sang kakak, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, ketika masih belajar di Lirboyo. Menurut Kiai Musthofa, Buya Said Aqil pernah menyalin kitab Alfiyah as-Suyuthi dengan tulisan tangan sendiri.
Baca: Bahaya Membaca Al-Qur’an tanpa Ilmu Nahu menurut Kiai Musthofa Aqiel
Contoh tersebut disampaikan untuk menunjukkan bahwa tradisi menulis pernah menjadi bagian penting dalam proses belajar para santri. Bagi Kiai Musthofa, menulis membantu menghubungkan aktivitas membaca, melihat, mendengar, bergerak, dan mengingat dalam satu kegiatan belajar.
Pesannya kepada para santri kemudian ditutup dengan penekanan bahwa pena memiliki peran dalam proses seseorang dari tidak mengetahui menjadi mengetahui.
“Kalau memakai pena, yang tadinya tidak tahu pasti akan tahu,” pungkas Kiai Musthofa.