Ikhbar.com: Sejumlah mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon sukses mengembangkan pengolahan sampah organik di Kelurahan Karyamulya, Kota Cirebon, melalui Praktik Islamologi Terapan (PIT) berbasis Participatory Action Research (PAR). Program yang mengangkat tema Ekoteologi tersebut berlangsung selama dua bulan, mulai 23 Juli hingga 18 September 2026.
Salah satu mahasiswa peserta PIT-PAR, Nabil Ismatullah al Maulidy menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari akademik berbobot 4 SKS yang memadukan praktik lapangan dengan riset aksi partisipatif. Pada 2026, LP3M ISIF menetapkan tiga wilayah pelaksanaan PIT, yakni Dukupuntang, Karyamulya, dan Rawa Urip.
Menurut Nabil, kelompok mahasiswa yang ditempatkan di Karyamulya mendapatkan pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Latifatul Jannah, M.Pd. Kegiatan tersebut melibatkan M. Najhaf Armia, Mellin Herlinah, Siswa Raharja, M. Jaenuri, Rafreza Septa Hudana, Ahmad Anwarudin, Nabil Ismatullah al Maulidy, Sholah Mafaza Muhammad, Syifa Khairunnisa, Sofi Laelatul Maulidy, Mila Minhatul Maula, dan Nihayah.
“Pelaksanaan PIT-PAR di Karyamulya berangkat dari persoalan sampah yang kami temukan di lingkungan masyarakat. Kondisi permukiman yang terlihat bersih belum menggambarkan persoalan sampah secara keseluruhan,” kata Nabil.
Baca: Meneropong Kurikulum ISIF Cirebon, Kampus Berbasis Kultur Pemikiran Gus Dur
Nabil menerangkan, persoalan tersebut berkaitan dengan peningkatan volume sampah harian yang belum sebanding dengan kapasitas penampungan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan riset aksi di wilayah RW 03 Kelurahan Karyamulya yang dipimpin Ketua RW Haji Temu.
Melalui pendekatan ekoteologi, mahasiswa kemudian mengarahkan kegiatan pada peningkatan kesadaran masyarakat sekaligus pengolahan sampah dari sumbernya. Salah satu fokusnya adalah sampah organik rumah tangga yang diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Ia mengatakan, sejumlah kegiatan pengolahan sampah organik telah dilakukan selama pelaksanaan PIT-PAR. Program tersebut mencakup pembuatan eco-enzyme, Pupuk Organik Cair (POC), serta berbagai produk turunan berbahan dasar organik.
Pelaksanaan program turut melibatkan komunitas warga RT 03/RW 03 Kelurahan Karyamulya, Pandan Mulya. Komunitas tersebut berada di bawah koordinasi Habib Nadzar selaku ketua komunitas.
“Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam proses pengolahan sampah. Edukasi dan praktik dilakukan bersama agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan masyarakat,” ujar Nabil.
Rangkaian pembuatan eco-enzyme dan POC dilaksanakan selama sekitar tiga minggu. Mahasiswa bersama warga memanfaatkan bahan-bahan yang dapat diolah menjadi produk turunan eco-enzyme.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah sabun ramah lingkungan. Dalam prosesnya, digunakan Metil Estel Sulfonat (MES) sebagai salah satu bahan aktif berbasis minyak kelapa sawit yang digunakan dalam pembuatan sabun ramah lingkungan.
Pengolahan tersebut memberikan pemanfaatan lanjutan terhadap limbah organik rumah tangga. Produk yang dihasilkan juga dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh warga yang terlibat dalam kegiatan.
Nabil mengeklaim bahwa warga pengguna memberikan tanggapan terhadap produk sabun yang telah dibuat. Salah satu pengguna menyampaikan bahwa sabun tersebut terasa lebih lembut di kulit dan dapat digunakan untuk kebutuhan pembersihan harian.
“Sabun turunan eco-enzyme ini dirasakan lebih lembut di kulit dan dapat digunakan untuk kebutuhan pembersihan sehari-hari,” kata Nabil.
Selain manfaat penggunaan, pengolahan sampah menjadi produk serbaguna juga dinilai membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat. Komunitas Pandan Mulya turut terlibat dalam proses produksi dan penerapan hasil pengolahan sampah di lingkungan setempat.
Program PIT-PAR Ekoteologi di Karyamulya juga diarahkan untuk memiliki keberlanjutan setelah masa praktik mahasiswa berakhir. Dalam rangka mendukung keberlanjutan tersebut, ISIF menyetujui pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KASIL atau Komunitas Sadar Iklim dan Lingkungan.
Pembentukan UKM KASIL mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Rektor ISIF Cirebon, Dr. KH Marzuki Wahid Kehadiran UKM tersebut menjadi bagian dari upaya kampus untuk melanjutkan kegiatan yang berkaitan dengan kesadaran iklim dan lingkungan.
Menurut Nabil, keberlanjutan program juga diarahkan melalui kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Salah satu bentuknya dilakukan melalui pemantauan bersama dengan Komunitas Pandan Mulya di Kelurahan Karyamulya.
“PIT-PAR ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mengelola sampah secara mandiri serta berkelanjutan,” tutur Nabil.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa PIT-PAR Kelompok 4 menjalankan riset aksi berbasis partisipasi masyarakat dengan fokus pada pengelolaan sampah organik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan tema Ekoteologi dalam Praktik Islamologi Terapan ISIF Cirebon tahun 2026.