Ikhbar.com: Generasi Z perlu membangun kedekatan dengan Al-Qur’an agar tidak terjebak dalam budaya media sosial yang dipenuhi kebutuhan pengakuan, kebiasaan membandingkan diri, dan kesenangan instan. Al-Qur’an dapat menjadi pedoman dalam membangun karakter dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Tokoh Filsafat Islam, Dr. KH Fahruddin Faiz, M.Ag dalam Talkshow Kebangsaan IQTAF FEST XIV 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu, 7 November 2026.
Dr. Faiz menjelaskan, Gen Z memiliki lima karakteristik yang perlu dikenali. Pertama, passion, yaitu kecenderungan menjalani sesuatu berdasarkan kesenangan. Kedua, existence, yakni keinginan memperoleh pengakuan atas keberadaan diri.
Ketiga, comparison, yaitu kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial. Keempat, validation, yakni kebutuhan memperoleh pengakuan melalui tanda suka, komentar, dan jumlah pembagian konten.
“Kelima, tension, yaitu kondisi mudah khawatir, tegang, dan tertekan ketika menghadapi persoalan kehidupan maupun ketidakpastian masa depan,” jelasnya.
Baca: Kiat Berantas Buta Huruf Al-Qur’an dari Dr. Faiz
Menurutnya, kelima kecenderungan tersebut perlu diimbangi dengan kedewasaan diri. Generasi muda harus belajar menikmati proses, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, serta tidak menjadikan pengakuan orang lain sebagai ukuran keberhasilan.
Dr. Faiz mengutip ungkapan Syekh Ibnu Athaillah, Idfan wujudaka fi ardhil khumul, yang mengandung pesan agar seseorang tidak terburu-buru menampilkan diri sebelum mencapai kematangan.
“Setiap orang punya rutenya sendiri. Genjot kualitas dirimu tanpa harus minta divalidasi,” ungkapnya.
Di tengah tantangan tersebut, Dr. Faiz mengajak generasi muda membangun hubungan emosional dengan Al-Qur’an. Ia mengibaratkan kitab suci sebagai surat cinta dari Allah yang diberikan agar manusia tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.
Allah telah membekali manusia dengan akal dan memberikan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Kehadiran nabi juga menjadi bagian dari bimbingan agar manusia dapat memahami dan menjalankan ajaran-Nya.
“Al-Qur’an adalah bukti cinta Allah agar manusia tidak tersesat di muka bumi. Allah memberi kita akal, tapi karena sayang, Allah menambahkannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan menuntunnya lewat Nabi,” jelasnya.
Dr. Faiz juga menceritakan kisah Syekh Bisyir Al-Hafi yang mengalami perubahan kehidupan setelah memuliakan sepotong kertas bertuliskan nama Allah. Ketika menemukannya di jalan, Bisyir mengambil, membersihkan, memberinya wewangian, kemudian meletakkannya di tempat yang lebih tinggi.
Kisah tersebut menggambarkan pentingnya memuliakan nama Allah. Dr. Faiz mengajak mahasiswa memperlakukan Al-Qur’an dengan penuh penghormatan, membacanya secara rutin, memahami kandungannya, dan menjalankan pesan-pesannya.
“Perlakukanlah Al-Qur’an seperti kamu menerima surat cinta dari orang yang paling kamu sayangi, dibaca, dihormati, dipeluk, dijaga, dan yang terpenting dituruti isinya,” pesannya.