Ikhbar.com: Seminar Internasional bertajuk “Dekolonisasi Pengetahuan Keagamaan: Ikhtiar Mencari Jalan Baru Pengembangan Kajian Keagamaan Berbasis Keilmuan Lokal” akan digelar di Kampus UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis, 24 September 2026.
Forum ini mengajak akademisi, ulama, pengasuh pesantren, mahasiswa, dan masyarakat umum membahas posisi pengetahuan lokal dalam pengembangan kajian keagamaan.
Seminar tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dengan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dan didukung Yayasan Harkat Perempuan Indonesia. Kegiatan menghadirkan Prof. Farish A. Noor, M.A., Ph.D., sejarawan dan ilmuwan politik Asia Tenggara, serta Lies Marcoes Natsir, M.A., peneliti, penulis, dan feminis.
Persoalan utama yang dibahas berkaitan dengan bagaimana pengetahuan keagamaan dibentuk, siapa yang memiliki kewenangan untuk memproduksinya, serta pengalaman siapa yang selama ini diakui sebagai sumber pengetahuan. Dalam ToR seminar disebutkan, kolonialisme tidak hanya bekerja melalui penguasaan wilayah, ekonomi, dan politik, tetapi juga melalui produksi, klasifikasi, dan legitimasi pengetahuan.
Pembahasan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa tradisi intelektual Nusantara memiliki kekayaan yang panjang. Pesantren, kitab kuning, manuskrip Nusantara, tradisi lisan, praktik keagamaan masyarakat, pemikiran ulama Nusantara, hingga gerakan ulama perempuan telah menghasilkan pengetahuan dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Baca: Mahasiswa ISIF Cirebon Sulap Sampah Jadi Pupuk Cair
“Pengetahuan lokal sering ditempatkan sebagai objek yang harus dijelaskan, bukan sebagai epistemologi yang dapat menjelaskan,” demikian salah satu persoalan yang menjadi dasar penyelenggaraan seminar.

Seminar ini juga akan membahas kemungkinan menjadikan tradisi pesantren sebagai sumber untuk membaca perubahan sosial. Konsep yang hidup dalam tradisi Islam Nusantara, seperti maslahah, ma‘ruf, mubadalah, musyawarah, rahmah, adab, dan barakah, turut dipertanyakan potensinya untuk dikembangkan sebagai kategori analitis dan perangkat produksi pengetahuan.
Dari perspektif gender, forum tersebut mengangkat pengalaman perempuan sebagai salah satu sumber pengetahuan keagamaan. Pembahasan ini berkaitan dengan pertanyaan apakah pengalaman kehidupan perempuan dapat digunakan untuk menguji kembali cara teks dibaca dan hukum keagamaan dirumuskan.
ToR seminar mencatat bahwa pengalaman perempuan dalam perkembangan pemikiran Islam Indonesia telah dipertemukan dengan sumber-sumber Islam melalui perspektif mubadalah, keadilan hakiki, dan ma‘ruf. Pendekatan tersebut menjadi salah satu kemungkinan pengembangan epistemologi keagamaan yang tumbuh dari pengalaman Indonesia.
Prof. Farish A. Noor akan menyampaikan materi “Decolonizing Religious Knowledge: Coloniality and the Politics of Knowledge in Southeast Asia”. Sementara itu, Lies Marcoes Natsir akan membawakan materi “Whose Knowledge Counts? A Feminist Perspective on Decolonizing Religious Knowledge.”
Dalam sesi Prof. Farish, salah satu pertanyaan yang akan dibahas ialah mengapa teori yang lahir dari Barat kerap disebut “theory”, sedangkan pengetahuan yang lahir dari Asia disebut “local knowledge”. Pembahasan juga diarahkan pada keberlanjutan struktur kolonial dalam produksi pengetahuan melalui teori, kurikulum, publikasi, pemeringkatan perguruan tinggi, dan bahasa akademik.
Sementara itu, Lies Marcoes Natsir akan membahas dekolonisasi pengetahuan keagamaan dari perspektif feminis. Salah satu pertanyaan yang diangkat ialah bagaimana pengalaman perempuan, termasuk pengalaman biologis dan sosial, dapat ditempatkan sebagai sumber pengetahuan keagamaan, bukan sekadar objek penerapan hukum Islam.
Seminar ini diarahkan untuk membangun pembahasan mengenai kemungkinan pengembangan kajian keagamaan yang berakar pada tradisi intelektual Nusantara, pesantren, manuskrip, tradisi lisan, praktik sosial-keagamaan, serta pengalaman masyarakat. Forum tersebut juga menargetkan penguatan perspektif gender dan keadilan epistemik dalam kajian Islam.
Cirebon menjadi bagian penting dalam agenda tersebut karena memiliki sejarah perjumpaan Islam, pesantren, keraton, perdagangan, kebudayaan Jawa dan Sunda, tradisi pesisir, serta berbagai ekspresi keagamaan masyarakat. UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bersama ISIF dipandang memiliki ruang untuk mengembangkan kajian keagamaan yang kontekstual dan berakar pada pengalaman masyarakat.
Karena itu, masyarakat yang ingin mengikuti pembahasan mengenai masa depan kajian keagamaan berbasis keilmuan lokal dapat menghadiri Seminar Internasional Dekolonisasi Pengetahuan Keagamaan.
Kegiatan berlangsung Kamis, 24 September 2026, dengan rangkaian acara mulai pukul 14.00 WIB untuk registrasi dan sesi seminar pada pukul 14.30–16.30 WIB, bertempat di Kampus UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Peserta yang dituju meliputi dosen, peneliti, mahasiswa, pengkaji Islamic Studies dan Religious Studies, ulama, pengasuh pesantren, serta masyarakat umum.
Mari mengikuti seminar ini dan mendiskusikan bagaimana tradisi lokal, pesantren, serta pengalaman masyarakat dapat mengambil posisi sebagai sumber produksi pengetahuan keagamaan.
Pendaftaran: https://forms.gle/k1KJe2q7UdcvTXot8
Informasi: Abdul Rasyidi, M.A. | +62 857-9744-8804