Ikhbar.com: Dini hari 25 Januari 1835, di sebuah rumah kecil di Ladeira da Praça, Kota Salvador, Provinsi Bahia, sekelompok orang berjubah putih bergerak diam-diam menjelang fajar. Beberapa saat kemudian, kota pelabuhan terpenting Brasil pada abad ke-19 itu berubah menjadi medan pertempuran. Pemberontakan budak tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu pergolakan berbasis agama terbesar dalam sejarah perbudakan di Benua Amerika. Peristiwa itu juga menjadi salah satu penanda penting yang menelusuri jejak awal Islam di Brasil.
Peristiwa itu dikenal sebagai Pemberontakan Malê, berasal dari kata Yoruba “imale”, sebutan bagi Muslim asal Afrika Barat. Ratusan budak dan mantan budak, sebagian besar berasal dari etnis Hausa dan Nagô (Yoruba), mengangkat senjata dengan tujuan membebaskan diri dari perbudakan sekaligus membangun tatanan baru.
João José Reis, sejarawan Universitas Federal Bahia yang menulis kajian paling otoritatif tentang peristiwa tersebut dalam Slave Rebellion in Brazil: The Muslim Uprising of 1835 in Bahia (1993), mencatat bahwa para pemberontak mengusung cita-cita mendirikan pemerintahan yang dipimpin kaum Muslim setelah terbebas dari perbudakan.
“Bahia Malê akan menjadi bangsa yang dikuasai orang Afrika, dipimpin oleh kaum Muslim,” tulis Reis, sebagaimana dikutip dari wawancaranya dengan media Travel Noire.
Tanggal pemberontakan juga dipilih dengan pertimbangan khusus. Reis mencatat bahwa 25 Januari 1835 bertepatan dengan hari-hari terakhir Ramadan kala itu, sehingga memiliki makna penting bagi para pemberontak.
Namun, pertempuran hanya berlangsung beberapa jam. Pasukan militer dan polisi kolonial berhasil memukul mundur sekitar 600 pemberontak serta menewaskan puluhan orang Afrika, menurut riset sejarah Afrika global yang dihimpun BlackPast.org pada 2022. Setelah itu, pihak berwenang menyita seluruh naskah berbahasa Arab, jimat bertuliskan ayat Al-Qur’an, serta tasbih yang ditemukan pada para tawanan.
Sejarawan Dale T. Graden, dalam kajian yang dimuat di jurnal Hispanic American Historical Review (1996), menulis bahwa represi pascapemberontakan menjadi bagian dari upaya sistematis pemerintah kolonial Bahia untuk “mengusir segala sesuatu yang berbau Afrika” dari tatanan sosial setempat.
“Tekanan itu, secara tak terduga, justru ikut mendorong penghentian legal impor budak dari Afrika ke Brasil pada 1850,” tulisnya.
Baca: Menyapa Islam di Argentina
Budak yang disingkirkan
Kisah Islam di Brasil sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum 1835, seiring kedatangan kapal-kapal budak dari pesisir Afrika Barat. Sekitar 37 persen dari seluruh budak yang diperdagangkan melintasi Samudra Atlantik dibawa ke Brasil, jumlah terbesar dibandingkan negara lain di Benua Amerika. Sebagian dari mereka membawa ajaran Islam yang telah mengakar di tanah kelahirannya, mulai dari Kekhalifahan Sokoto hingga kerajaan-kerajaan Yoruba.
Ketika akhirnya ditangkap, para pemberontak Malê masih mengenakan busana Muslim lengkap dengan penutup kepala dan jubah putih. Mereka juga membawa tasbih serta jimat bertuliskan ayat Al-Qur’an sebagai pelindung diri, sebagaimana dicatat Religious Literacy Project Harvard Divinity School dalam entri riset tentang peristiwa tersebut. Temuan itu menunjukkan bahwa identitas keislaman tetap terpelihara meski berada dalam tekanan sistem perbudakan.
Setelah pemberontakan dipadamkan, jejak Islam yang dibawa budak asal Afrika perlahan menghilang dari ruang publik Brasil. Pemerintah memberlakukan hukum darurat, menjual paksa banyak budak Nagô ke luar Bahia, dan membuat praktik keislaman berlangsung secara tertutup selama hampir satu abad.
Islam kemudian kembali hadir secara terbuka di Brasil melalui jalur yang berbeda. Agama ini tidak lagi datang bersama kapal-kapal budak, melainkan bersama gelombang kapal yang membawa para imigran.

Baca: Sejarah dan Tumbuh Kembang Islam di Prancis
Gelombang baru dari Timur Tengah
Menjelang pergantian abad ke-20, ribuan imigran dari wilayah Syam (Lebanon, Suriah, dan Palestina yang saat itu masih berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah) mulai berdatangan ke Brasil. Mereka datang akibat runtuhnya industri sutra di Gunung Lebanon serta gejolak politik di Timur Tengah. Mayoritas imigran tersebut beragama Kristen, sedangkan kelompok Muslim yang turut datang kemudian menjadi fondasi komunitas Islam Brasil modern.
Vitória Peres de Oliveira, dosen madya bidang Sains dan Agama di Universidade Federal de Juiz de Fora, dalam “Islam in Brazil or the Islam of Brazil?” yang dimuat di jurnal Religião & Sociedade (2006), mencatat bahwa komunitas tersebut pada awalnya berkembang sebagai “agama yang hampir-etnis”. Agama ini menjadi perekat identitas bagi para imigran yang tinggal jauh dari kampung halaman, alih-alih berkembang melalui aktivitas dakwah untuk menarik pemeluk baru.
Dari komunitas itulah masjid pertama di Brasil lahir. Pada 1927, sekelompok imigran Palestina mendirikan Perhimpunan Amal Muslim Palestina di São Paulo. Dua tahun kemudian, seiring bertambahnya pendatang dari Suriah dan Lebanon, organisasi tersebut berubah menjadi Sociedade Beneficente Muçulmana (Perhimpunan Amal Muslim) São Paulo. Organisasi ini kemudian menjadi pelopor pembangunan Mesquita Brasil di kawasan Cambuci.
Pembangunan masjid tersebut dimulai pada 1929 dan baru diresmikan sepenuhnya pada 1960. Peresmian itu dihadiri perwakilan resmi Organisasi Kerja Sama Islam sehingga Mesquita Brasil tercatat sebagai masjid tertua di Brasil sekaligus salah satu yang tertua di Amerika Selatan. Perkembangan serupa kemudian terjadi di Rio de Janeiro, Curitiba, dan terutama Foz do Iguaçu, kota di perbatasan tiga negara yang kini menjadi salah satu pusat populasi Muslim terbesar di luar São Paulo.
Baca: Riwayat Islam di Australia, dari Nelayan Indonesia hingga Rombongan Penunggang Unta
Muslim Brasil dalam angka
Jumlah umat Islam di Brasil masih menjadi perdebatan karena setiap lembaga menggunakan metode penghitungan yang berbeda.
Sensus resmi Instituto Brasileiro de Geografia e Estatística (IBGE) tahun 2010 mencatat 35.167 Muslim, naik dari 27.239 orang pada sensus 2000 atau sekitar 0,018 persen dari total penduduk Brasil saat itu.
Pew Research Center pada 2020 juga memperkirakan jumlah yang tidak jauh berbeda, yakni sekitar 36.900 jiwa.
Di sisi lain, Federação das Associações Muçulmanas do Brasil (FAMBRAS), organisasi payung Muslim terbesar di Brasil, memperkirakan jumlah umat Islam mencapai 1,2 hingga 1,5 juta jiwa. Angka tersebut tercantum dalam Laporan Kebebasan Beragama Internasional Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat untuk Brasil tahun 2021 dan 2022.
Oliveira, dalam kajian akademiknya pada 2006, menjelaskan bahwa perbedaan itu berakar pada metode pendataan. Sensus resmi menghitung penduduk berdasarkan pengakuan agama dalam kuesioner rumah tangga. Sebaliknya, sejumlah organisasi Muslim memasukkan mereka yang memiliki garis keturunan atau afiliasi budaya Islam, meski tidak selalu aktif menjalankan ibadah.
Dalam kunjungannya ke berbagai masjid, Oliveira juga menemukan bahwa jumlah jemaah yang menghadiri salat Jumat sering kali jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah anggota yang tercatat oleh pengurus masjid. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing data memiliki keterbatasan karena mengukur kelompok yang berbeda.
Yang tidak diperdebatkan adalah persebarannya. Mayoritas Muslim Brasil terkonsentrasi di negara bagian São Paulo, disusul Rio de Janeiro, Paraná, dan Rio Grande do Sul. Foz do Iguaçu juga menjadi salah satu pusat komunitas Muslim terbesar setelah Kota São Paulo.
Baca: Tumbuh Kembang Islam di Jepang
Masjid, sekolah, dan wajah Islam di Negeri Samba
Saat ini terdapat sekitar 150 masjid yang tersebar di seluruh Brasil. Jumlah tersebut meningkat pesat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya, berdasarkan penghitungan Wikipedia dalam entri “List of Mosques in Brazil” yang diperbarui pada Oktober 2025. Namun, pertumbuhan jumlah masjid belum selalu diikuti penguatan pembinaan umat.
Situs riset dakwah Caribbean Muslims pernah memuat keterangan Syekh Khaled Taqei Ed-Din, imam sebuah masjid di São Paulo, yang menyebut bahwa dari sekitar 120 masjid saat itu hanya terdapat 40 imam dan pendakwah aktif. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar menamatkan pendidikan syariah formal di perguruan tinggi. Kondisi tersebut mendorong Syekh Al-Sadiq Al-Othmani, Kepala Departemen Urusan Islam di Pusat Dakwah Islam Amerika Latin yang berbasis di São Paulo, mengembangkan dakwah melalui media digital.
“Internet adalah salah satu sarana dakwah kontemporer paling berhasil,” ujarnya kepada IslamOnline.net, seraya bercerita bahwa satu ceramahnya tentang pembebasan budak dalam Islam yang diunggah ke internet ditonton hingga 800 ribu kali hanya dalam sepekan.

Dari sisi kelembagaan, FAMBRAS berdiri pada 1979 sebagai organisasi payung bagi lebih dari 20 organisasi Muslim di berbagai daerah. Lembaga ini juga mengelola sertifikasi halal melalui FAMBRAS Halal yang telah beroperasi selama lebih dari empat dekade. Mayoritas Muslim Brasil menganut mazhab Sunni dan hidup berdampingan dengan masyarakat luas. Menurut Oliveira (2006), kondisi tersebut berbeda dengan komunitas Syiah yang jumlahnya lebih sedikit dan cenderung membentuk kelompok yang lebih tertutup di São Paulo, Curitiba, dan Foz do Iguaçu.
Perkembangan lain terlihat dari meningkatnya jumlah muallaf, yakni warga Brasil non-Arab yang memeluk Islam tanpa memiliki garis keturunan Timur Tengah. Data sensus IBGE menunjukkan sekitar 70 persen muallaf merupakan perempuan. Oliveira dalam penelitiannya juga menemukan bahwa jilbab menjadi salah satu sarana dakwah yang efektif.
“Sehelai kain penutup kepala mempromosikan agama ini lebih baik daripada berlembar-lembar baliho di kota,” tulisnya mengutip pengakuan seorang muallaf yang ia wawancarai.
Upaya mempererat persatuan komunitas mencapai salah satu momentum penting pada Juni 2023. Saat itu, komunitas Muslim São Paulo menggelar perayaan Idul Adha bersama yang untuk pertama kalinya mempertemukan 17 masjid dan sekitar 3.000 jemaah. Penggagas kegiatan tersebut, Omar Mohamad Hindi, menuturkan kepada Arab News bahwa sejak menjabat sebagai ketua komunitas, ia bertekad merangkul seluruh jemaah yang selama ini terpisah berdasarkan daerah asal leluhur mereka di Lebanon. Syeikh Mustafa Anis Orra, yang telah tiga dekade memimpin sebuah masjid di kawasan Interlagos dengan jemaah dari Bangladesh, Suriah, Lebanon, Mesir, hingga Pakistan, merangkum semangat perayaan itu dalam satu kalimat kepada Arab News.
“Itulah makna sejati Islam, berkumpul dan menyatukan hati sesama Muslim,” katanya.
Baca: Islam di Burundi, Negara Termiskin yang Populer di TikTok
Antara toleransi konstitusional dan Islamofobia
Konstitusi Brasil menjamin kebebasan beragama dan melarang negara berpihak pada agama tertentu. Secara hukum, posisi umat Islam relatif terlindungi dibandingkan di sejumlah negara dengan penduduk mayoritas non-Muslim. Meski demikian, tantangan masih dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kajian akademik pada 2022 tentang islamofobia di Amerika Latin, yang datanya turut dihimpun ResearchGate mengenai distribusi Muslim Brasil, mencatat meningkatnya perlakuan diskriminatif terhadap perempuan pekerja berhijab. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara perlindungan hukum dan praktik yang terjadi di masyarakat.
Survei pada akhir 2023 juga mencatat sekitar 60 persen Muslim Brasil pernah mengalami intoleransi agama dalam berbagai bentuk.
Pemerintah Brasil menerapkan sanksi hukum terhadap pelaku intoleransi beragama. Laporan Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat untuk Brasil tahun 2021 menyebutkan bahwa pelaku perundungan maupun diskriminasi kerja yang didasarkan pada keyakinan dapat dijatuhi hukuman penjara hingga lima tahun.
Laporan yang sama juga mencatat keberhasilan penasihat hukum FAMBRAS, Mohamed Charanek, memenangkan gugatan di Pengadilan Brasília yang memerintahkan penghapusan konten media sosial yang mengaitkan Islam dengan terorisme. Putusan tersebut kemudian menjadi salah satu rujukan dalam upaya advokasi terhadap kasus serupa.
Baca: Masjid Hangzhou, Madrasah Penyebaran Islam di Cina
Tradisi keislaman di Bahia
Perjalanan Islam di Brasil menghadirkan sejumlah pengalaman yang terasa dekat bagi pembaca Muslim Indonesia. Di antaranya adalah upaya menjaga identitas keagamaan di tengah keterbatasan, kebutuhan akan ulama yang memiliki kapasitas keilmuan memadai, serta ikhtiar memperkuat ukhuwah di tengah keragaman latar belakang etnis dalam satu jemaah. Perbedaannya, tradisi keilmuan Islam di pesantren Nusantara diwariskan secara turun-temurun melalui sanad yang panjang. Sementara itu, komunitas Muslim Brasil harus membangun kembali fondasi tersebut setelah represi kolonial menghapus sebagian besar jejak Malê selama hampir satu abad.
Perayaan Idulfitri di Mesquita Brasil dengan hidangan yang memadukan cita rasa Levant dan Brasil mencerminkan semangat silaturahmi yang juga hidup dalam tradisi halal bihalal di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai kebersamaan tetap tumbuh di mana pun komunitas Muslim berada.
Ketika perhatian dunia tertuju ke Brasil dalam gelaran Piala Dunia FIFA 2026, publik Muslim Indonesia dapat melihat sisi lain Negeri Samba yang kerap luput dari perhatian. Di balik popularitas sepak bolanya, Brasil menyimpan sejarah Islam yang lahir dari perjuangan para budak Muslim, bertahan menghadapi tekanan, lalu tumbuh kembali melalui gelombang imigrasi hingga membentuk komunitas yang terus berkembang.