5 Bahaya Sikap Sombong dan Arogan menurut Islam

Gejala semacam ini tampak ketika kewenangan dijalankan berdasarkan asumsi tanpa memberi ruang penjelasan bagi pihak yang dituduh.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Kasus yang menimpa Sudrajat (49), penjual es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, menyentak kesadaran publik tentang kesembronoan menuding di ruang terbuka. Tuduhan tanpa verifikasi, teguran bernada keras, hingga perusakan dagangan terjadi hanya berbekal isu bahwa jajanan yang sejatinya telah dikenal sejak dulu itu bisa membahayakan anak-anak.

Dalam salah satu rekaman yang beredar luas, bahkan seorang aparat terlihat mengambil sepotong es gabus lalu mengarahkannya ke mulut Sudrajat. Sudrajat mengikuti arahan tersebut dengan mulut terbuka dan tubuh condong ke depan, sementara warga di sekitar hanya terdiam turut menyaksikan.

Belakangan, hasil uji laboratorium memastikan es tersebut aman dikonsumsi. Fakta ini muncul setelah peristiwa tersebut telanjur membekas di ruang sosial. Situasi itu pada akhirnya membuka ruang refleksi tentang sikap yang dalam Islam mendapat peringatan keras, yaitu kesombongan dan arogansi.

Dalam pandangan Islam, kesombongan merupakan problem akhlak yang bisa berdampak luas dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Sikap ini mendorong penolakan terhadap klarifikasi, mengabaikan kebenaran dari pihak lain, serta melahirkan rasa berhak menilai. Gejala semacam ini akan kian tampak ketika kewenangan dijalankan berdasarkan asumsi, tanpa memberi ruang penjelasan bagi pihak yang dituduh.

Karena itu, Rasulullah Muhammad Saw menegaskan perbaikan akhlak sebagai inti risalah kenabian:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Atas dasar itulah, Islam menjelaskan berbagai bahaya kesombongan dalam kehidupan individu dan masyarakat:

Baca: Hukum Sawer ke Qari saat Tilawah Al-Qur’an

1. Dibenci Allah dan rasul-Nya

Bahaya pertama dari sikap sombong adalah kebencian Allah Swt. Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku angkuh dalam hubungan antarmanusia.

Allah Swt berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Luqmān: 18)

Kesombongan menumbuhkan perasaan lebih mulia, lebih tahu, dan lebih berhak menentukan nasib orang lain.

Dalam konteks peristiwa ini, sikap tersebut tercermin melalui bahasa tubuh, nada perintah, serta posisi yang menegaskan dominasi di hadapan pedagang kecil. Padahal, jabatan, kewenangan, ilmu, dan kekuasaan bersumber dari Allah Swt serta bersifat titipan. Ketika titipan itu digunakan untuk merendahkan pihak lain, yang muncul adalah murka Allah, bukan kemuliaan.

Rasulullah Saw menjelaskan makna kesombongan secara ringkas dan tegas:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Definisi ini relevan dalam berbagai situasi sosial ketika klarifikasi tersedia dan kebenaran disampaikan, tetapi ditolak karena ego menguasai sikap.

Baca: Sekilas Fikih Lalu Lintas, Pedoman Keselamatan dan Etika di Jalan Raya

2. Diabaikan Allah dan dijauhkan dari rahmat

Bahaya kedua adalah ancaman diabaikan Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda:

ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan manusia yang kelak tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Allah tidak menyucikan mereka dan tidak memandang mereka dengan pandangan rahmat. Bagi mereka azab yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, penguasa pendusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan tidak selalu bersumber dari kekayaan atau jabatan tinggi. Sikap tersebut dapat lahir dari rasa berkuasa, keyakinan merasa paling benar, atau klaim mewakili kepentingan umum. Ketika kesombongan dibiarkan, rasa syukur memudar, prasangka tumbuh, dan empati melemah. Kondisi ini menjauhkan seseorang dari sesama manusia sekaligus dari rahmat Allah Swt.

Baca: ‘Wajarlah Manusia, Bukan Nabi, Boy!’ Benarkah Para Rasul Terbebas dari Dosa?

3. Menjadi makhluk hina

Islam mengingatkan bahwa kesombongan mengikis kepekaan nurani. Allah Swt berfirman:

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Jika mereka melihat seluruh tanda itu, mereka tetap tidak beriman. Jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak menempuhnya, dan jika melihat jalan kesesatan, mereka memilihnya. Hal itu terjadi karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mengabaikannya.” (QS. Al-A‘rāf: 146)

Orang sombong cenderung sulit menerima kritik. Teguran sering dibalas dengan pembelaan diri atau kemarahan. Dalam peristiwa ini, kepekaan sosial tampak menipis ketika pedagang kecil diperlakukan sebagai ancaman tanpa ruang dialog yang setara. Dampaknya, kekeliruan berpotensi berulang.

Dalam ranah sosial, sikap semacam ini melahirkan tindakan yang melukai martabat manusia dengan alasan ketertiban, keamanan, atau kepentingan umum. Tanpa pijakan moral, kewenangan mudah berubah menjadi tekanan.

4. Hati terkunci

Bahaya berikutnya adalah tertutupnya hati dari kebenaran. Al-Qur’an menegaskan:

الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

“Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa dasar yang benar sangat besar kemurkaan Allah terhadap mereka dan terhadap orang-orang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Gāfir: 35)

Ketika hati tertutup, fakta tidak dipahami secara jernih. Klarifikasi dipandang sebagai ancaman, sementara kebenaran dianggap gangguan. Hasil uji laboratorium yang memastikan keamanan es gabus hadir setelah kerugian dialami pihak yang diperlakukan tidak adil. Dalam situasi semacam ini, keyakinan merasa benar tetap bertahan meski bukti menunjukkan hal berbeda.

Islam mengajarkan jalan keluar melalui tobat yang sungguh-sungguh dan kesediaan merendahkan diri di hadapan kebenaran.

Baca: Allah Memaafkan, Tapi Kadang tak Melupakan

5. Mengikuti jalan Iblis

Bahaya paling serius dari kesombongan adalah mengikuti jejak Iblis. Al-Qur’an mencatat bahwa kejatuhan Iblis bermula dari sikap takabur.

Allah Swt berfirman:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam.’ Mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, lalu termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Rasulullah Saw memperingatkan konsekuensi sikap tersebut:

أَهْلُ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Penduduk neraka adalah orang-orang yang keras, kasar, dan sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesombongan berkembang menjadi sikap merasa paling benar, menutup ruang klarifikasi, serta membenarkan tindakan tidak adil atas nama kewenangan. Islam menawarkan sikap tawadhu sebagai jalan yang berlawanan. Kerendahan hati membuka ruang mendengar, menerima koreksi, dan memperbaiki diri.

Rasulullah Saw bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Peristiwa di Kemayoran menunjukkan bahwa kebenaran tanpa akhlak berpotensi berubah menjadi arogansi. Islam menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari kuasa, seragam, atau otoritas, melainkan dari kerendahan hati dalam menerima kebenaran dan memuliakan manusia.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.