Dari Rahim Alam: Bacaan Segar Karya Nyai Tho’ah Ja’far

Buku “Dari Rahim Alam: Seikat Catatan Perempuan Pesantren tentang Keadilan Gender hingga Pelestarian Lingkungan (2026)” hadir dalam format 14 × 21 cm dengan ketebalan XX + 262 halaman.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Bagaimana jika langit dan bumi diajak berbicara tentang kehidupan manusia? Bagaimana jika kemerdekaan perempuan dimulai dari pertanyaan tentang siapa yang berhak menentukan hidupnya sendiri? Atau bagaimana jika seorang ayah justru diminta berhenti menjadi raja di rumahnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat buku berjudul Dari Rahim Alam: Seikat Catatan Perempuan Pesantren tentang Keadilan Gender hingga Pelestarian Lingkungan (2026) terasa berbeda sejak halaman awal. Buku karya Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’ah Ja’far, yang diterbitkan Ikhbar Press ini, menyuguhkan esai-esai yang bergerak dari persoalan perempuan, keluarga, pendidikan, pesantren, spiritualitas, hingga lingkungan.

Cara Nyai Tho’ah, sapaan akrabnya, membicarakan berbagai persoalan tersebut pun jauh dari kesan uraian akademik yang kaku. Gagasan besar kerap dibuka melalui pertanyaan, peristiwa sehari-hari, perbandingan, atau kalimat yang sengaja dibuat mengusik.

“Semoga apa yang tertulis dapat menjadi teman berpikir yang menemani, bukan sekadar bacaan yang lewat sesaat lalu terlupakan,” ungkap Nyai Tho’ah, dalam Prakata Penulis buku tersebut, dikutip Kamis, 10 September 2026.

Nyai Tho’ah Ja’far saat memimpin pengajian di Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon. Dok IST

Baca: Manusia dan Kemanusiaan dalam Islam: Buku Baru dan Penting Karya Buya Husein

Menggeser cara pandang

Kesegaran buku ini salah satunya terasa dari cara Nyai Tho’ah memilih pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang sebenarnya telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat.

Kemerdekaan, misalnya, tidak berhenti pada cerita tentang bendera dan perayaan. Pertanyaan kemudian diarahkan kepada pengalaman perempuan. Setelah perlombaan selesai dan bendera diturunkan, pembaca diajak bertanya apakah semua orang benar-benar sudah merdeka.

Pada bagian lain, persoalan relasi ayah dan anak dibuka dengan kalimat provokatif, “Banyak laki-laki menjadi bapak, tetapi tidak semuanya layak disebut ayah.” Dari sana, pembahasan bergerak kepada perbedaan antara kekuasaan dan kasih, perintah dan teladan, serta kebanggaan dan pengabdian.

Judul esainya pun dibuat komunikatif. “Jadilah Ayah, Bukan Raja“, misalnya, langsung menyodorkan gagasan yang hendak dibicarakan tanpa bahasa yang berputar-putar.

“Menjadi ayah berarti menanam kasih yang berbuah keberanian, ketulusan, dan akhlak. Dunia tidak memerlukan lebih banyak raja atau mereka yang ingin ditakuti atau dipuja di rumah,” tulisnya.

Gaya semacam itu membuat gagasan keagamaan terasa dekat dengan pembaca. Ayat dan hadis tidak ditempatkan sebagai hiasan untuk menguatkan tulisan setelah kesimpulan dibuat. Dalil digunakan untuk mengembangkan percakapan tentang persoalan yang sudah dikenali pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembahasan tentang keluarga, misalnya, Nyai Tho’ah mengutip sabda Rasulullah Muhammad Saw:

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ayat Al-Qur’an, hadis, pengalaman, dan pengamatan kemudian dipertemukan dalam bahasa populer. Hasilnya adalah tulisan yang tetap membawa identitas pesantren, tetapi tidak mensyaratkan pembaca memiliki latar belakang pesantren untuk memahaminya.

Baca: Peluncuran Buku Jurnalisme Pesantren Warnai Haul dan Imtihan Ke-47 Ponpes Ketitang Cirebon

Persoalan besar di sisi terdekat

Kekuatan lain buku ini terletak pada kebiasaan penulis mengambil persoalan besar lalu menurunkannya ke ruang kehidupan yang dekat.

Perempuan dan keadilan dibicarakan melalui keluarga, pendidikan, kepemimpinan, serta pengalaman perempuan dalam menentukan hidup. Lingkungan pun tidak berhenti sebagai isu global tentang perubahan iklim, tetapi masuk melalui sampah, kebiasaan manusia, hubungan dengan bumi, dan cara menjalankan tanggung jawab keagamaan.

Pilihan judul esai memperlihatkan kecenderungan tersebut. Ada Lebaran dari Sampah, Andai Nabi Ibrahim Punya Kulkas, Menyulap Sapu Menjadi Doa, Jangan Wariskan Beban, hingga Bumi Adalah Ibu Manusia. Judul-judul itu membuat pembaca berhenti sejenak sebelum masuk ke isinya.

Di sinilah buku tersebut menemukan salah satu daya tariknya. Persoalan lingkungan yang sering disampaikan melalui istilah besar justru ditarik ke benda dan kebiasaan yang dapat ditemui setiap hari.

Dalam Lebaran dari Sampah, misalnya, pembaca diajak melihat kembali makna Idulfitri melalui jejak sampah yang tertinggal di ruang publik. Pertanyaannya kemudian dibuat tajam, “Sudahkah Lebaran benar-benar menghadirkan makna fitri, yaitu terbebas dari sampah?” tulis Nyai Tho’ah.

Pembahasan lingkungan juga dipertautkan dengan ajaran keimanan. Salah satu hadis yang digunakan berbunyi:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR Muslim).

Dari hadis tersebut, persoalan yang tampak kecil mendapat makna baru. Menyingkirkan gangguan dari jalan dapat dibaca sebagai tindakan kepedulian. Sampah yang mengganggu lingkungan kemudian ditempatkan dalam pembicaraan yang lebih luas tentang tanggung jawab manusia.

Cara menghubungkan hal-hal yang tampak berjauhan menjadi ciri yang cukup menonjol dalam buku ini. Peristiwa keagamaan dapat menjadi pintu menuju pembicaraan lingkungan. Pengasuhan keluarga dapat menjadi jalan membicarakan keadilan. Pengalaman perempuan pesantren dapat menjadi sumber pengetahuan untuk membaca persoalan sosial.

Tampilan jilid Buku “Dari Rahim Alam: Seikat Catatan Perempuan Pesantren tentang Keadilan Gender hingga Pelestarian Lingkungan (2026)” karya Nyai Tho’ah Ja’far. Dok IKHBAR

Baca: Membedah Puisi Nyai Tho’ah tentang Perempuan dan Kesetaraan

Ajakan untuk berpikir

Buku ini juga menarik karena penulis tidak selalu terburu-buru memberikan jawaban. Banyak tulisan justru dibangun dengan pertanyaan yang dibiarkan bekerja di kepala pembaca.

Dalam esai tentang kemerdekaan perempuan, misalnya, pertanyaan tentang makna merdeka menjadi pintu masuk untuk membicarakan hak menentukan hidup. Dalam tulisan tentang lingkungan, pertanyaan tentang apa yang diwariskan kepada bumi menjadi cara untuk menggeser perhatian dari kebutuhan manusia hari ini kepada generasi yang akan datang.

Cara bertutur tersebut membuat buku terasa seperti percakapan panjang. Pembaca diajak mengikuti alur pemikiran, kemudian diberi ruang untuk menyetujui, mempertanyakan, atau bahkan membantah.

Sikap tersebut memang dinyatakan sejak bagian Prakata Penulis. Nyai Tho’ah menjelaskan bahwa tulisan-tulisannya merupakan ikhtiar memahami persoalan, bukan vonis terakhir. Setiap tulisan tetap terbuka terhadap pendalaman, koreksi, dan dialog dengan pembaca maupun ulama yang lebih memahami.

Sebagian besar esai dalam buku tersebut juga sebelumnya pernah dibagikan melalui media sosial, serta sejumlah media lokal dan nasional. Kehadiran buku kemudian mempertemukan tulisan-tulisan itu dalam satu rangkaian yang lebih utuh.

Baca: Getok Tular Teladan Buya Ja’far

Latar pengalaman Nyai Tho’ah sebagai perempuan pesantren memberi warna kuat pada cara pandangnya. Pengetahuan tidak selalu dicari dari ruang formal. Pengalaman mengasuh, mendidik, membaca, berdiskusi, dan menyaksikan kehidupan sekitar ikut menjadi bahan untuk menyusun gagasan.

Dari sana, buku Dari Rahim Alam hadir sebagai bacaan yang menawarkan cara melihat ulang persoalan yang dekat dengan kehidupan. Bahasanya populer, judul-judul esainya mengundang rasa ingin tahu, pertanyaannya kerap mengusik, dan gagasan keagamaannya berusaha dibawa turun ke pengalaman konkret.

Kesegaran buku ini akhirnya bukan karena semua gagasan di dalamnya benar-benar baru. Kesegarannya muncul dari cara melihat, cara menghubungkan, dan cara mengajak pembaca memikirkan kembali sesuatu yang mungkin selama ini dianggap biasa.

Nyai Tho’ah sendiri tidak ingin tulisan-tulisannya berhenti sebagai kesimpulan yang selesai ketika halaman terakhir ditutup. Harapannya justru lebih panjang dari itu.

“Semoga apa yang tertulis dapat menjadi teman berpikir yang menemani, bukan sekadar bacaan yang lewat sesaat lalu terlupakan,” pungkas Nyai Tho’ah.

Buku Dari Rahim Alam: Seikat Catatan Perempuan Pesantren tentang Keadilan Gender hingga Pelestarian Lingkungan (2026) hadir dalam format 14 × 21 cm dengan ketebalan XX + 262 halaman. Buku ini dapat diperoleh dengan harga Rp80.000, belum termasuk ongkos kirim dari Cirebon.

Bagi pembaca yang ingin memiliki buku ini, pemesanan dapat dilakukan melalui +62895393501444 (WhatsApp only). Pengiriman tersedia ke seluruh Indonesia.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.