Ikhbar.com: Pondok Pesantren Ketitang Cirebon menggelar peluncuran buku Jurnalisme Pesantren: Sanad, Kaidah, hingga Kaifiah Pengembangan Media Kaum Sarungan karya KH Sobih Adnan pada Kamis, 18 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Haul dan Imtihan Ke-47.
Ketua Pelaksana, Ustaz Sofhal Adnan, menjelaskan bahwa buku tersebut sebagai ‘kitab panduan’ bagi para pengelola media, santri, dan pegiat literasi yang ingin mengembangkan media berbasis pesantren.
“Jurnalisme pesantren tidak cukup berhenti pada aktivitas pemberitaan. Pengembangan media perlu diikuti dengan penguatan budaya literasi dan penerbitan agar gagasan-gagasan yang lahir dari lingkungan pesantren dapat terdokumentasi dan menjangkau masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.
“Alhamdulillah buku ini menjadi buku kedua yang diterbitkan setelah Peta Jalan Ramadan. Ini bukan akhir, tetapi awal dari lahirnya karya-karya berikutnya,” katanya.
Baca: Ikhbar.com Luncurkan Buku ‘Peta Jalan Ramadan’ di Pesantren Ketitang Cirebon
Pada akhir sambutannya, Ustaz Sofhal mengajak para penulis, akademisi, dan santri untuk memperkuat tradisi menulis dan penerbitan di lingkungan pesantren.
“Kami membuka ruang kolaborasi. Siapa pun yang memiliki naskah, gagasan, dan karya yang layak dibaca publik, mari kita terbitkan bersama. Pesantren harus menjadi rumah bagi lahirnya karya-karya besar,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Cirebon, Ustaz Ismail Marzuki, menilai buku Jurnalisme Pesantren dapat menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin mengembangkan media pesantren di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan yang saat ini menjadi tantangan baru dalam dunia jurnalistik.
“Kalau kita tidak mengikuti perkembangan AI, kita akan tertinggal. Tetapi kalau menggunakannya tanpa kendali, kita juga menghadapi berbagai risiko,” katanya.
Menurut Ustaz Ismail, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Namun, penggunaan AI harus tetap ditempatkan sebagai sarana pendukung yang membantu kerja jurnalistik, bukan menggantikan peran manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Ia menegaskan bahwa unsur kepercayaan tetap menjadi fondasi utama dalam praktik jurnalistik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Mesin bisa menulis berita. Mesin bisa merangkum informasi. Tetapi kepercayaan publik tidak pernah dibangun oleh mesin. Kepercayaan dibangun oleh integritas manusia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ismail mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mengubah alat kerja, tetapi juga memengaruhi cara manusia memandang dan mengolah informasi.
“Karena itu AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis seorang jurnalis,” tegasnya.
Apresiasi juga disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan. Menurutnya, salah satu bagian paling menarik dalam buku Jurnalisme Pesantren adalah pembahasan mengenai akar historis jurnalisme yang ditelusuri melalui tradisi periwayatan hadis.
Kiai Zuhri menilai, sejumlah pihak menganggap jurnalisme lahir dari tradisi Barat modern, padahal praktik verifikasi informasi telah lama dikenal dalam khazanah keilmuan Islam.
“Banyak orang menganggap jurnalisme lahir dari tradisi Barat modern. Padahal dalam Islam, praktik verifikasi informasi sudah berlangsung berabad-abad yang lalu melalui ilmu hadis. Saya bahkan berani mengatakan bahwa tradisi jurnalistik tertua yang paling ketat adalah tradisi periwayatan hadis,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa seorang perawi hadis tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan menghafal, tetapi juga integritas moral, kejujuran, kredibilitas, dan kualitas keilmuan yang dimilikinya.
“Hadis tidak diterima hanya karena seseorang berkata bahwa ia mendengar dari gurunya. Ada proses verifikasi yang panjang. Ada penelitian terhadap perawi, ada penelitian terhadap sanad, ada penelitian terhadap isi riwayat. Prinsip-prinsip inilah yang hari ini menjadi ruh dari jurnalisme yang bertanggung jawab,” katanya.
Selain mengulas aspek historis jurnalisme dalam tradisi Islam, Kiai Zuhri juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia yang menurutnya masih memerlukan perhatian bersama.
“Hari ini kita sering mendengar bahwa tingkat literasi Indonesia masih rendah. Orang lebih banyak berbicara daripada menulis. Padahal tulisan memiliki umur yang jauh lebih panjang dibandingkan ucapan,” ujarnya.
Menurut Kiai Zuhri, karya tulis menjadi salah satu cara paling efektif untuk meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi berikutnya.
“Kalau ingin dikenang keluarga, berbicaralah. Kalau ingin dikenang masyarakat, berkaryalah. Tetapi kalau ingin dikenang lintas generasi dan lintas zaman, menulislah,” pungkasnya.