Ikhbar.com: Hajar Aswad, benda hitam yang terletak di salah satu pojok bangunan Ka’bah, hanyalah sebuah batu. Sayyidina Umar bin Khattab, bahkan mengaku mengetahuinya dengan sangat jelas. Batu tersebut tidak dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat. Meski demikian, sahabat Nabi yang dikenal tegas dan rasional itu tetap menciumnya.
Sayyidina Umar tidak menganggap batu tersebut memiliki kekuatan gaib. Ia menciumnya karena pernah melihat Rasulullah Muhammad Saw melakukan hal yang sama.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, kisah Sayyidina Umar tersebut menyimpan pelajaran penting tentang batas nalar dan ketundukan seorang Muslim kepada tuntunan Nabi Saw.
“Sayyidina Umar memang dikenal sebagai sahabat yang memiliki daya pikir paling rasional. Tetapi ketika berhadapan dengan sesuatu yang dilakukan Nabi Saw, beliau tidak lagi mempertentangkannya dengan nalarnya,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, KH Ahmad Zuhri Adnan, dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Musala Baitul Abid, Desa Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Sabtu, 5 September 2026.

Baca: Anak Kecil yang Tak Gentar dengan Khalifah Umar
Ketegasan Umar
Kiai Zuhri, sapaan masyhurnya, mengisahkan bahwa karakter tegas Sayyidina Umar sudah dikenal bahkan sebelum memeluk Islam. Umar pernah menjadi salah satu orang yang keras menentang dakwah Nabi Muhammad Saw. Setelah masuk Islam, ketegasan tersebut justru menjadi kekuatan dalam membela Rasulullah Saw dan dakwah Islam.
Salah satu gambaran menarik tentang karakter tersebut tampak ketika Sayyidina Umar berhadapan dengan Hajar Aswad. Ia pernah melihat Rasulullah Saw mencium batu yang berada di salah satu sudut Ka’bah itu. Karena mengikuti apa yang dilakukan Nabi, Umar pun melakukan hal serupa.
Namun, sebelum menciumnya, Sayyidina Umar seolah berbicara langsung kepada Hajar Aswad.
وَاللَّهِ، إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ
“Demi Allah, aku mengetahui bahwa kamu hanyalah batu. Kamu tidak dapat memberikan mudarat dan tidak pula memberikan manfaat.”
Sayyidina Umar kemudian menegaskan alasan yang membuatnya tetap mencium batu tersebut.
وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Kalau bukan karena aku melihat Nabi Saw menciummu, aku tidak akan menciummu.”
Kisah tersebut, kata Kiai Zuhri, dicatat Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn dengan mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari.
“Kisah tersebut memperlihatkan kedalaman iman Sayyidina Umar. Ia tidak menuhankan benda, tetapi juga tidak menjadikan keterbatasan nalar sebagai alasan untuk meninggalkan tuntunan Nabi,” ujar dai lulusan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut.
Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil
Menjaga keliaran akal
Menurut Kiai Zuhri, sikap Sayyidina Umar tidak tepat jika dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap keutamaan Hajar Aswad. Perkataan Sayyidina Umar justru menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjaga pemahaman umat agar tidak kembali kepada cara pandang jahiliah yang menganggap benda mempunyai kekuatan sendiri.
Masyarakat Makkah ketika itu baru melewati masa panjang kepercayaan terhadap berhala. Karena itu, ucapan Sayyidina Umar dapat dipahami sebagai penegasan bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini sebuah benda mampu memberikan manfaat atau mudarat secara independen dari kehendak Allah Swt.
Pada saat yang sama, Sayyidina Umar menunjukkan prinsip lain yang tidak kalah penting, yaitu ittiba‘, yakni mengikuti tuntunan Rasulullah.
Ia tidak mencium Hajar Aswad karena menemukan penjelasan rasional tentang susunan batu, sifat materialnya, atau manfaat fisiknya. Ia menciumnya karena melihat Nabi melakukannya.
Kiai Zuhri mengaitkan sikap tersebut dengan penjelasan Ibnu Hajar dalam Fatḫul Bârî. Dalam persoalan ibadah, terdapat amalan yang dijalankan berdasarkan tuntunan Nabi. Seorang Muslim tidak selalu dituntut menemukan seluruh alasan rasional di balik setiap bentuk ibadah sebelum mengerjakannya.
“Tidak semua ibadah harus kita ukur dengan kemampuan akal kita. Ada ibadah yang dasarnya adalah ittiba’. Nabi Saw melakukan, maka kita mengikuti. Justru di situlah terlihat ketundukan seorang hamba kepada Rasulullah,” tutur Kiai Zuhri.
Baca: Iman adalah Kecerdasan Tertinggi di Era AI
Kisah Sayyidina Umar mempertemukan dua hal yang kerap dipertentangkan, yaitu nalar dan iman. Umar tidak mematikan nalarnya ketika mencium Hajar Aswad. Ia justru menggunakan nalarnya untuk memastikan bahwa batu tersebut tidak diyakini memiliki kekuatan sendiri. Ketika berhadapan dengan tuntunan Rasulullah, ia memilih untuk tunduk dan mengikuti.
“Iman itu bukan berarti membuang akal. Akal tetap digunakan untuk menjaga tauhid, tetapi ada saatnya seorang mukmin berkata, ‘saya belum memahami seluruh hikmahnya, tetapi karena ini tuntunan Rasulullah, maka saya ikuti.’ Itulah makna ittiba’,” pungkas Dewan Pakar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Cirebon tersebut.