Jejak Pencarian Lailatul Qadar: Mengapa Nabi Beralih dari Iktikaf Pertengahan ke Sepuluh Hari Terakhir Ramadan?

Nabi Saw mencari Lailatul Qadar pada beberapa fase Ramadan.
Ilustrasi: Para sahabat Nabi Saw sedang beriktikaf di Masjid Nabawi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Tradisi menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan iktikaf di masjid sering dipahami sebagai pola ibadah yang sejak awal langsung dilakukan Nabi Muhammad Saw. Padahal, sejumlah riwayat sahih menunjukkan praktik tersebut melalui proses yang bertahap.

Pada suatu masa, Nabi Saw justru beriktikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Ibadah tersebut dilakukan dalam rangka mencari Lailatul Qadar. Setelah memperoleh petunjuk yang lebih jelas mengenai waktunya, Rasulullah Saw kemudian memusatkan iktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga akhir hayat.

Penjelasan mengenai proses ini banyak dibahas para ulama. Salah satunya Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Lathāif al-Ma‘ārif fī Mā li Mawāsim al-‘Ām min al-Wazhāif, ketika mengulas fase pertengahan Ramadan.

Baca: Gara-gara Ini Lailatul Qadar Jadi Misteri

Sepuluh hari pertengahan Ramadan

Riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri menjelaskan bahwa Nabi Saw pernah beriktikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ، فَاعْتَكَفَ عَامًا حَتَّى إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ، وَهِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي يَخْرُجُ فِي صَبِيحَتِهَا مِنِ اعْتِكَافِهِ، قَالَ: مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ، وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا، وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ مِنْ صَبِيحَتِهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، وَالْتَمِسُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ

“Rasulullah biasa beriktikaf pada sepuluh hari pertengahan Ramadan. Ketika tiba malam kedua puluh satu, malam terakhir iktikaf pada waktu itu, beliau bersabda: ‘Siapa yang beriktikaf bersamaku hendaknya beriktikaf pada sepuluh hari terakhir. Aku pernah diperlihatkan malam itu, tetapi kemudian aku dibuat lupa. Aku melihat diriku bersujud di air dan tanah pada pagi harinya. Maka carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dan pada malam-malam ganjilnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat tersebut juga mencatat peristiwa yang menyertainya. Pada malam itu turun hujan, sedangkan atap Masjid Nabawi ketika itu masih terbuat dari pelepah kurma. Air hujan menetes hingga lantai masjid menjadi basah.

Abu Sa’id Al-Khudri melihat bekas air dan tanah di dahi Rasulullah pada pagi hari tanggal 21 Ramadan. Peristiwa ini menjadi salah satu tanda yang menguatkan mimpi Nabi Saw tentang malam Lailatul Qadar.

Baca: Gambaran Nabi tentang Lailatul Qadar

Pencarian bertahap

Riwayat lain dalam hadis sahih menjelaskan bahwa pencarian Lailatul Qadar oleh Nabi Saw berlangsung melalui beberapa tahap.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

اعْتَكَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ قَالَ: إِنِّي أُتِيتُ فَقِيلَ لِي إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ

“Nabi beriktikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian beriktikaf pada sepuluh hari pertengahan. Setelah itu beliau bersabda: ‘Aku didatangi dan diberi tahu bahwa malam itu berada pada sepuluh hari terakhir. Siapa yang ingin beriktikaf maka beriktikaflah.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa pada awalnya Nabi Saw mencari Lailatul Qadar pada beberapa fase Ramadan. Setelah memperoleh petunjuk bahwa malam tersebut berada pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw kemudian memusatkan ibadah iktikaf pada masa itu.

Baca: Cerita Imam Nawawi Berjumpa Lailatul Qadar

Iktikaf Nabi hingga akhir hayat

Riwayat dari Sayyidah Aisyah Ra dan sejumlah sahabat menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut, Nabi Saw secara konsisten beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ

“Nabi selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat ini menjadi dasar kuat bagi praktik umat Islam hingga sekarang. Sepuluh malam terakhir Ramadan dipandang sebagai waktu utama untuk memperbanyak ibadah seperti iktikaf, qiyamul lail, zikir, dan doa.

Baca: Kapan Malam Lailatul Qadar? Ini Prediksi Ulama

Hikmah perubahan praktik

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa pencarian Lailatul Qadar tidak langsung memiliki pola yang tetap sejak awal. Nabi Saw pernah mencarinya pada sepuluh hari pertama Ramadan, kemudian pada sepuluh hari pertengahan.

Setelah memperoleh petunjuk bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir, beliau memusatkan iktikaf pada masa tersebut hingga akhir hayat.

Perjalanan ini menjelaskan mengapa umat Islam menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan berbagai ibadah. Tradisi tersebut mengikuti praktik Nabi dalam mencari malam yang paling mulia dalam setahun.

Perubahan praktik ini juga memberi pelajaran penting. Kemuliaan Lailatul Qadar tidak ditetapkan secara pasti pada satu malam tertentu. Umat Islam dianjurkan mencarinya dengan kesungguhan melalui rangkaian ibadah. Karena itu Nabi menganjurkan umatnya menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, terutama malam-malam ganjilnya, agar ibadah tidak terpusat pada satu malam saja, tetapi berlangsung sepanjang penghujung Ramadan.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.