Ikhbar.com: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. KH Abdul Mu’ti menjelaskan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang mengikuti model Programme for International Student Assessment (PISA). Penyesuaian tersebut mencakup penggunaan bacaan panjang untuk mengukur kemampuan akademik murid.
Kiai Mu’ti menyampaikan, penjelasan itu setelah meninjau pelaksanaan hari pertama TKA gelombang pertama di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin.
“Kami juga menyampaikan tes TKA ini kami sesuaikan dengan model tes PISA. Jadi model tes PISA,” katanya.
Baca: Jadwal TKA Jenjang SMA
Menurutnya, penggunaan bacaan panjang merupakan bagian dari karakteristik soal yang mengacu pada model PISA. Hal tersebut sekaligus menjawab keluhan sejumlah peserta pada pelaksanaan TKA tahun sebelumnya yang menilai soal terlalu panjang.
“Kalau kemudian ada tahun lalu yang komplain kok soalnya panjang-panjang, ya memang begitu,” ujarnya.
Kiai Mu’ti menegaskan, TKA merupakan tes terstandar yang dirancang dengan tingkat validitas dan reliabilitas tinggi. Penyusunan soalnya menggunakan variasi tingkat kesulitan untuk mengukur kemampuan akademik murid secara lebih objektif.
Ia menjelaskan, soal TKA memiliki tingkat kesulitan beragam, mulai dari kategori mudah hingga sulit. Variasi tersebut merupakan bagian dari teori evaluasi yang digunakan dalam penyusunan instrumen penilaian.
Melalui pendekatan tersebut, hasil TKA diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan akademik murid secara lebih menyeluruh. Penilaian tidak hanya berfokus pada jumlah jawaban benar atau salah, tetapi juga pada pengukuran kemampuan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Ia menegaskan, TKA tidak dirancang untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan seorang murid. Pemerintah menggunakan hasil tes tersebut untuk memetakan mutu pendidikan sekaligus menjadi dasar perbaikan proses pembelajaran.
Kiai Mu’ti menjelaskan, asesmen dalam pendidikan memiliki tiga fungsi. Pertama, assessment of learning, yaitu penilaian untuk mengetahui tingkat kemampuan akademik murid. Kedua, assessment for learning, yakni pemanfaatan hasil penilaian sebagai dasar untuk memperbaiki pembelajaran. Ketiga, assessment as learning, yaitu penilaian yang menjadi bagian dari proses belajar dan perbaikan secara berkelanjutan.
Menurutnya, hasil TKA dapat membantu mengidentifikasi aspek pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh murid dan guru untuk memperbaiki kemampuan serta proses belajar sebelum murid menyelesaikan pendidikannya.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem penilaian TKA menggunakan skala skor yang berbeda dari sistem penilaian konvensional dengan nilai maksimal 100. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari standardisasi evaluasi pendidikan yang mengacu pada standar internasional.
Ia meminta masyarakat memahami fungsi TKA sebagai instrumen untuk memetakan kemampuan akademik dan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Hasil tes tersebut perlu dimanfaatkan sesuai dengan tujuan penilaian pendidikan.
“TKA tidak bertujuan untuk menentukan murid berhasil atau gagal, melainkan memetakan mutu pendidikan dan menjadi dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran,” tegasnya.