Kiai Muhammad Bj: Ibadah Haji tak Bisa Diukur dengan Logika dan Matematika

Kiai Muhammad Bin Ja’far (kiri) menyampaikan tausiah dalam acara Walimah Safar Ustaz Ahmad Kaelani di Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Selasa (14/4/2026). Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa ibadah haji merupakan panggilan Allah dan tidak sepenuhnya dapat diukur dengan logika dan perhitungan manusia. Dok. IKHBAR

Ikhbar.com: Tidak semua orang yang mampu secara finansial bisa berangkat haji. Sebaliknya, ada yang secara hitungan belum siap justru lebih dulu terbang ke Tanah Suci. Fenomena ini terus terjadi setiap tahun dan menunjukkan bahwa ibadah haji tidak sepenuhnya ditentukan oleh perhitungan manusia.

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad Bin Ja’far (Bj), saat menyampaikan ceramah dalam acara Walimah Safar Ustaz Ahmad Kaelani di Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Selasa, 14 April 2026.

“Haji adalah panggilan Allah, bukan semata hasil perencanaan manusia,” katanya.

Baca: Seputar Walimah Safar: Dari Sejarah hingga Hukum Tasyakuran sebelum Berangkat Haji

Kiai Muhammad mengutip kisah Nabi Ibrahim AS saat diperintahkan menyeru manusia untuk berhaji dari Jabal Qubais. Allah Swt berfirman:

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ

“Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Ḥajj: 27)

Kiai Muhammad menjelaskan, Nabi Ibrahim hanya menjalankan perintah untuk memanggil, sedangkan yang menggerakkan manusia untuk memenuhi panggilan tersebut sepenuhnya merupakan kehendak Allah Swt.

“Haji itu tidak bisa menggunakan logika matematika,” ujarnya.

Penjelasan itu sejalan dengan pengalaman banyak orang. Ada yang telah lama menabung, tetapi belum juga berangkat, sementara sebagian lain justru dimudahkan jalannya dalam waktu singkat. Dalam pandangan Kiai Muhammad, kondisi tersebut bukan kebetulan, melainkan bagian dari panggilan Ilahi.

Baca: Kita Semua Pernah Menjawab Panggilan Haji

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Cirebon itu juga menyinggung bahwa sejak alam ruh, manusia telah merespons panggilan tersebut. Karena itu, ketika seseorang berangkat haji, hal itu berkaitan dengan jawaban yang telah tertanam jauh sebelumnya.

“Yang menggerakkan orang untuk menjawab itu Allah Swt,” katanya.

Kiai Muhammad mengingatkan agar cara pandang terhadap haji tidak direduksi sebatas urusan biaya dan kesiapan administratif. Ikhtiar tetap penting, tetapi bukan penentu utama.

Di sisi lain, Kiai Muhammad juga mengajak jemaah yang akan berangkat untuk memperbanyak rasa syukur dan menjaga kesadaran bahwa keberangkatan itu merupakan karunia, bukan prestasi pribadi.

“Jadi, haji itu benar-benar panggilan dari Allah Swt,” ucap Kiai Muhammad.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.