Kemdiktisaintek Salurkan Rp1,7 Triliun Dana Riset, Mayoritas Penerima dari Kampus Swasta

Ilustrasi riset. Foto: Freepik

Ikhbar.com: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyalurkan dana riset sebesar Rp1,7 triliun untuk mendukung 18.215 kegiatan penelitian dan pengembangan di berbagai perguruan tinggi. Mayoritas penerima berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi kepada seluruh penerima pendanaan atas dedikasi dalam menghasilkan riset dan inovasi yang berdampak.

“Selamat kepada seluruh penerima. Ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi luar biasa dalam menyiapkan diri bersama tim, berkolaborasi dengan dosen dan peneliti untuk menyiapkan proposal, melaksanakan penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sehingga menghasilkan karya riset dan inovasi yang berdampak,” ujarnya pada Selasa, 14 April 2026.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman menegaskan bahwa skema pendanaan tahun 2026 dirancang agar hasil riset dapat segera memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.

“Program ini diarahkan untuk menjawab berbagai permasalahan strategis nasional, memperkuat ekosistem riset, serta mendorong percepatan hilirisasi hasil riset ke masyarakat dan industri. Pada saat yang sama, kolaborasi lintas perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan terus diperkuat agar pemanfaatan hasil riset dapat berlangsung lebih luas dan berdampak,” katanya.

Baca: Mengapa Riset Kampus Indonesia Banyak yang Gagal Masuk Pasar? Ini Penjelasan Prof. Rokhmin

Sebanyak 60% penerima pendanaan berasal dari perguruan tinggi swasta, sementara 40% lainnya merupakan perguruan tinggi negeri. Para penerima berasal dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.

Sementara itu, kebijakan baru juga diterapkan pada tahun ini, yakni alokasi sebesar 25% dari total dana riset untuk honorarium peneliti, guna meningkatkan kualitas dan produktivitas riset.

Pendanaan riset difokuskan pada sejumlah bidang prioritas yang dinilai strategis, yaitu:

  • Kesehatan: 27%
  • Ketahanan pangan: 25%
  • Hilirisasi dan industrialisasi: 16%
  • Digitalisasi (termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor): 15%
  • Energi: 7%
  • Manufaktur dan material maju: 4%
  • Maritim: 4%
  • Pertahanan: 2%

Distribusi anggaran riset tersebut mencakup berbagai program, antara lain:

  • Penguatan kapasitas riset dosen serta riset dasar dan terapan sebesar Rp1,04 triliun untuk 13.028 proposal
  • Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Rp167 miliar untuk 3.328 tim
  • Program Hilirisasi Riset Prioritas Rp318 miliar untuk 925 proposal
  • Program Pengujian Model dan Prototipe Rp46 miliar untuk 354 proposal
  • Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB) Rp62,4 miliar untuk 102 konsorsium
  • Penguatan kapasitas kelembagaan riset Rp7,85 miliar
  • Program Mahasiswa Berdampak Rp21,9 miliar untuk 202 proposal
  • Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Rp17,5 miliar untuk 244 proposal
  • Program PHC-Nusantara Rp2,2 miliar untuk 15 proposal.

Di sisi lain, Brian menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha agar hasil riset tidak berhenti di ranah akademik, melainkan dapat diimplementasikan secara luas.

“Mari jadikan sains dan teknologi sebagai penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi kita demi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing,” tututpnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.