Ikhbar.com: Ibadah haji kerap mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat. Sebagian orang memandangnya sebagai capaian sosial atau simbol keberhasilan. Padahal, inti dari seluruh rangkaian ibadah ini terletak pada niat yang lurus sejak awal.
Demikian disampaikan Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad Bin Ja’far (Bj), saat menyampaikan ceramah dalam acara Walimah Safar Ustaz Ahmad Kaelani di Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Selasa, 14 April 2026.
“Haji memiliki karakter yang tidak dimiliki ibadah lain, terutama dalam hal orientasi niat,” katanya.

Baca: Kiai Muhammad Bj: Ibadah Haji tak Bisa Diukur dengan Logika dan Matematika
Kiai Muhammad menjelaskan, perintah haji dalam Al-Qur’an sejak awal ditegaskan sebagai ibadah yang ditujukan sepenuhnya kepada Allah Swt.
Allah Swt berfirman:
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
“(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” (QS. Āli ‘Imrān: 97)
Menurut Kiai Muhammad, redaksi ayat tersebut menempatkan kata “lillah” sebagai dasar utama. Sejak keberangkatan, haji diarahkan sebagai ibadah yang murni karena Allah.
Penegasan tersebut kembali ditegaskan dalam ayat lain. Allah Swt berfirman:
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ
“Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Dari dua ayat tersebut, ia menilai haji merupakan ibadah yang sejak awal hingga akhir berada dalam satu orientasi yang sama.
“Yang penting itu ‘lillah,’ bukan karena yang lain,” ungkap Kiai Muhammad.
Baca: Seputar Walimah Safar: Dari Sejarah hingga Hukum Tasyakuran sebelum Berangkat Haji
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Cirebon itu melihat, persoalan niat menjadi titik rawan dalam praktik haji saat ini. Gelar haji kerap membawa konsekuensi sosial, mulai dari penghormatan hingga pengakuan di lingkungan sekitar. Dalam kondisi tersebut, niat mudah bergeser tanpa disadari.
Menurut Kiai Muhammad, seluruh rangkaian ibadah haji harus tetap berada dalam orientasi awal. Sejak ihram hingga tahallul, semuanya berada dalam garis yang sama.
Kiai Muhammad juga mengingatkan bahwa ukuran duniawi tidak menjadi tolok ukur dalam haji. Besar kecilnya biaya, fasilitas perjalanan, atau tingkat kenyamanan selama di Tanah Suci tidak menentukan nilai ibadah seseorang.
“Mari membersihkan niat sejak sebelum berangkat. Segala dorongan selain ibadah harus disingkirkan, termasuk keinginan untuk dipuji atau dianggap lebih tinggi,” katanya.
Menurut Kiai Muhammad, jika niat tidak dijaga, maka haji kehilangan ruh meskipun seluruh rukun telah dijalankan dengan sempurna. Sebaliknya, ketika niat tetap lurus, seluruh rangkaian ibadah bernilai di sisi Allah Swt.
“Seperti ayat tadi, sempurnakan haji dan umrahmu karena Allah Swt,” ucapnya.