Prof. Rokhmin Dorong Perubahan Paradigma Pembangunan Berbasis Laut

Ilustrasi. Dok NATIONAL OCEANOGRAPHIC

Ikhbar.com: Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB-University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. mendorong perubahan paradigma pembangunan Indonesia dari land based development (pembangunan berbasis daratan) menuju ocean and island based development (pembangunan berbasis laut dan kepulauan) untuk mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.

Menurut Prof. Rokhmin, sapaan akrabnya, perubahan arah pembangunan diperlukan agar strategi pembangunan sesuai dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

“Hari Maritim Nasional (23 September) harus menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi mendalam, apakah kita sungguh-sungguh telah membangun negeri ini sesuai dengan jati dirinya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia?” tulis Prof. Rokhmin dalam opini berjudul “Pembangunan Blue Economy Menuju Indonesia Emas 2045” di Sukabumi Update, Rabu, 23 September 2026.

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri. Foto: Dok. DPR RI

Baca: Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Ini Definisi ‘Karbon Biru’ menurut Prof. Rokhmin Dahuri

Refleksi tersebut berkaitan dengan target Indonesia pada 2045, ketika usia kemerdekaan mencapai satu abad. Prof. Rokhmin menyebut Indonesia bercita-cita menjadi negara maju, adil, makmur, dan berdaulat. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan peta jalan serta strategi pembangunan yang tepat dan tidak berjalan dengan pola business as usual (seperti biasa).

Prof. Rokhmin menilai strategi dan program pembangunan nasional sejak 2005 belum mampu menghasilkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas, inklusif, serta berkelanjutan. Salah satu kunci untuk mencapai target tersebut, menurut Prof. Rokhmin, terletak pada kemampuan Indonesia membangun dan memanfaatkan kekayaan laut.

“Indonesia memiliki sekitar 77 persen wilayah berupa laut. Negara ini juga mempunyai lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai sekitar 108.000 kilometer. Kondisi geografis tersebut memperkuat karakter Indonesia sebagai negara kepulauan,” terangnya.

Namun, pembangunan selama berpuluh-puluh tahun dinilai lebih banyak berorientasi pada daratan. Laut, menurut Prof. Rokhmin, seolah ditempatkan sebagai halaman belakang dan dipandang sebagai pemisah antarpulau.

“Padahal laut seharusnya menjadi halaman depan Indonesia, dan penghubung serta pemersatu kita bangsa Indonesia,” tulisnya.

Perubahan cara pandang tersebut kemudian diarahkan pada pembangunan yang menjadikan laut dan kepulauan sebagai salah satu basis utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pendekatan itu juga dikaitkan dengan sumber kesejahteraan rakyat dan peningkatan daya saing bangsa secara berkelanjutan.

“Untuk itu, menuju Indonesia 2045, kita memerlukan perubahan paradigma dari land based development menuju ocean and island based development,” tulis Prof. Rokhmin.

Baca: Kunjungi Tiongkok, Prof. Rokhmin Jajaki Kerja Sama Akuakultur

Menurut Prof. Rokhmin, karakter kepulauan Indonesia merupakan salah satu keunggulan yang dapat menjadi pijakan pembangunan. Laut tidak semestinya hanya dilihat dari aspek administrasi wilayah, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Pandangan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari industri dan ekonomi hingga sosial, budaya, politik, serta pertahanan dan keamanan. Dengan begitu, pembangunan berbasis laut tidak berhenti pada pemanfaatan sumber daya kelautan, tetapi menjadi bagian dari arah pembangunan nasional.

Prof. Rokhmin menilai pengembangan blue economy atau ekonomi biru perlu berjalan bersama perubahan paradigma tersebut. Pemanfaatan kekayaan laut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, daya saing, serta kedaulatan Indonesia.

“Ia harus menjadi fondasi, platform, dan strategi pembangunan industri, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pertananan dan keamanan (Hankam) nasional,” tulis Prof. Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.