Buya Said Sebut 3 Modal Manusia saat Ditunjuk sebagai Khalifah di Dunia

Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, saat memberikan taushiyah dalam Puncak Peringatan Haul Ke-37 KH Aqiel Siroj dan Sesepuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ahad, 20 September 2026. Dok TL YT KHAS/IKHBAR

Ikhbar.com: Ulama kharismatik, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, menjelaskan tiga perangkat yang diberikan Allah kepada manusia ketika dipercaya menjadi khalifah di muka bumi. Menurut Pembina Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon itu, perangkat tersebut berkaitan dengan kecerdasan, kekuatan ide, dan unsur ilahi dalam diri manusia.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam mauidzah hasanah pada Puncak Peringatan Haul Ke-37 KH Aqiel Siroj dan Sesepuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Ahad, 20 September 2026.

Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil

Buya Said, sapaan masyhurnya, mengawali penjelasan dengan mengutip QS. Al-Baqarah ayat 30 tentang ketika Allah menyampaikan kepada para malaikat bahwa manusia akan dijadikan khalifah di bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'”

Menurut Buya Said, malaikat mempertanyakan keputusan tersebut karena manusia berpotensi membuat kerusakan, melakukan pembunuhan, dan menumpahkan darah. Malaikat merasa lebih layak karena senantiasa bertasbih dan menaati Allah.

Allah kemudian menjawab:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Buya Said mengatakan manusia kemudian diberi sejumlah perangkat agar mampu menjalankan perannya sebagai khalifah.

“Ternyata manusia diberi kepercayaan menjadi khalifah di muka bumi, dan diberi tiga perangkat,” ungkap Buya Said.

Baca: Penyebab Korupsi masih Marak di Indonesia menurut Buya Said

Perangkat pertama disebut “al-quwwah an-natiqah” atau the power of intelligence. Buya Said menjelaskannya sebagai kekuatan kecerdasan yang berada pada otak. Melalui perangkat tersebut, manusia dapat menggunakan akal untuk mencapai kebenaran secara sistematis dan logis.

Menurutnya, kemampuan tersebut perlu digunakan secara maksimal, termasuk ketika santri menghafal, memahami, dan mendalami kandungan Al-Qur’an.

Perangkat kedua adalah “al-quwwah al-mutakhayyilah” atau the power of idea. Buya Said menjelaskan bahwa kekuatan ide tersebut berkaitan dengan dua nafsu, yakni ghadabiyyah dan syahwatiyyah.

Nafsu ghadabiyyah, menurut penjelasannya, dapat mendorong seseorang mengejar kedudukan, status sosial, pangkat, atau jabatan. Jika niat, tujuan, dan cara yang ditempuh benar, dorongan tersebut dapat berubah menjadi himmah, yakni cita-cita dan kemauan yang kuat.

Baca: Buya Said: Bodoh Bisa Berbuah Dosa

Sementara nafsu syahwatiyyah berkaitan dengan keinginan memperoleh kekayaan dan kesejahteraan. Buya Said mengatakan dorongan tersebut juga dapat diarahkan kepada tujuan yang baik apabila digunakan untuk membantu orang lain dan memperjuangkan kebaikan.

Perangkat ketiga, menurut Buya Said dengan merujuk Imam Al-Ghazali, adalah “an-nafkhah ar-rabbaniyyah“, atau tiupan Allah. Dari unsur tersebut, ia menjelaskan adanya bashirah, dhamir, dan fu’ad dalam diri manusia.

Buya Said mengatakan bashirah membuat manusia mampu mengenali baik dan buruk, benar dan salah. Setelah itu, dhamir atau hati nurani memberikan dorongan untuk melakukan yang benar dan meninggalkan yang salah.

Sementara fu’ad, menurut Buya Said, berfungsi menjatuhkan penilaian terhadap tindakan manusia.

“Ketiga perangkat tersebut membuat manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, memiliki cita-cita, sekaligus mengarahkan kehidupan berdasarkan pertimbangan moral,” pungkas Buya Said.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.