Ikhbar.com: Pengembangan pesantren membutuhkan kesabaran, waktu yang panjang, dan dukungan ekonomi. Ketiga hal tersebut menjadi bekal penting agar pendidikan Islam dapat berjalan secara berkelanjutan serta mampu menyediakan fasilitas pembelajaran bagi para santri.
Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler Banyumas Jawa Tengah, KH Zuhrul Anam Hisyam dalam Haflah Khatmil Qur’an dan Haul Ke-78 KH R. Muhammad Mahfudz At-Tarmasi di Pondok Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an (BUQ), Betengan, Demak, Jawa Tengah, Jumat, 6 November 2026.
Dalam mauizah hasanah, sosok yang karib disapa Gus Anam itu menjelaskan tiga bekal tersebut melalui perumpamaan kesabaran seperti Nabi Ayub, umur panjang seperti Nabi Nuh, dan kemampuan harta seperti Qarun.
Pertama, kesabaran diperlukan karena proses menuntut ilmu tidak selalu berjalan mudah. Para santri harus siap menghadapi keterbatasan fasilitas, biaya, maupun kenyamanan selama menjalani pendidikan.
Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak dapat diperoleh tanpa ketekunan dan kerendahan hati. Para santri perlu menjalani proses belajar dengan sungguh-sungguh serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Kedua, waktu yang panjang diperlukan karena penguasaan ilmu membutuhkan proses berkelanjutan. Santri tidak boleh terburu-buru merasa cukup setelah menyelesaikan satu jenjang pendidikan.
Baca: Tak Kenal Usia, Ibu-ibu hingga Lansia Ikuti Khataman Al-Qur’an di Ponpes BUQ Demak
“Kebiasaan mengaji perlu dipertahankan meskipun telah menyelesaikan pendidikan pesantren, menikah, atau memiliki kesibukan keluarga,” katanya.
Ketiga, dukungan ekonomi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan lembaga pendidikan. Pesantren membutuhkan tanah, bangunan, ruang belajar, dan berbagai fasilitas penunjang kegiatan santri.
“Pesantren membutuhkan dukungan banyak pihak. Ada kebutuhan tanah, bangunan, sarana belajar, dan biaya operasional. Karena itu, orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi dapat mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan,” jelasnya.
Gus Anam menambahkan, dukungan masyarakat dan para pengusaha dapat membantu pesantren mengembangkan fasilitas pendidikan. Kerja sama tersebut diperlukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa seluruh fasilitas dan dukungan ekonomi harus diarahkan untuk menunjang pendidikan serta pengabdian. Kekayaan dan sarana pesantren menjadi bagian dari kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak para santri untuk meneladani kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu. Santri perlu menjaga adab kepada guru, bersabar menjalani proses pendidikan, dan tidak mudah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki.
Ia berharap Ponoes BUQ terus berkembang dan mampu melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki keluasan ilmu, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan mudah menyerah dalam menuntut ilmu. Santri harus sabar, tekun belajar dalam waktu yang panjang, serta menjaga adab kepada guru,” pungkasnya.