Penyebab Korupsi masih Marak di Indonesia menurut Buya Said

Mustasyar PBNU, KH Said Aqil Siroj. Foto: MUI Digital

Ikhbar.com: Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj menyebht bahwa maraknya korupsi dan berbagai bentuk kezaliman di Indonesia menunjukkan keimanan sebagian umat Islam belum benar-benar tertanam dalam hati.

Pernyataan tersebut disampaikan Buya Said saat mengisi tausiah pada acara Cahaya Hati Cahaya Indonesia bertema Merawat Iman, Menjaga Umat, Membangun Bangsa di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Buya Said, perkembangan syiar Islam di Indonesia berlangsung sangat pesat. Pengajian, ceramah, dan berbagai kegiatan keagamaan semakin mudah dijumpai di berbagai daerah. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan perbaikan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.

“Mengapa di Indonesia syiar Islam semakin banyak, tetapi kemungkaran seperti korupsi dan kezaliman masih terus terjadi? Karena iman kita kebanyakan masih sebatas di lisan, belum benar-benar masuk ke dalam hati,” ujar Buya Said.

Baca: MUI: Koruptor Layak Dihukum Mati

Ia menjelaskan bahwa keimanan tidak cukup diwujudkan melalui pengucapan dua kalimat syahadat atau dipahami sebatas pengetahuan dalam ilmu kalam dan teologi. Menurutnya, iman yang sejati harus bersemayam di dalam hati sehingga mampu mengarahkan setiap sikap dan perilaku manusia.

Dalam tausiahnya, ia menerangkan bahwa hati manusia memiliki tiga unsur penting. Unsur pertama ialah bashirah atau penglihatan batin yang berfungsi membedakan kebenaran dan kebatilan. Unsur kedua adalah dhamir atau hati nurani yang mendorong seseorang melakukan kebaikan serta menjauhi kemaksiatan. Adapun unsur ketiga ialah fuad, yakni bagian hati yang menjadi penilai atas setiap perbuatan manusia.

“Fuad tidak pernah berbohong. Mulut bisa berdusta, tetapi hati akan selalu mengetahui apakah seseorang benar atau salah,” katanya.

Buya Said menuturkan, hati nurani akan terus memberikan peringatan ketika seseorang melakukan kesalahan. Namun, apabila kesalahan terus diulang tanpa disertai pertobatan, kepekaan hati akan semakin berkurang hingga akhirnya sulit merasakan teguran dari dalam diri.

Ia juga menyampaikan bahwa tidak sedikit orang baru menyadari kesalahannya ketika menghadapi musibah, menderita sakit berat, atau berada dalam situasi yang mengancam keselamatan jiwa. Dalam kondisi tersebut mereka berjanji untuk bertobat, tetapi setelah keadaan kembali membaik, sebagian kembali mengulangi perbuatan yang sama.

Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan ajaran agama sebagai pedoman moral dalam setiap aspek kehidupan, bukan hanya ketika berada di lingkungan keagamaan atau demi kepentingan tertentu.

“Keimanan yang hakiki akan melahirkan akhlak yang baik di mana pun kita berada. Agama harus menjadi pedoman hidup, bukan sekadar simbol atau slogan,” tegasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.