Ikhbar.com: Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Dr. KH Marzuki Wahid, mendorong agar kekuatan karisma ulama Nahdlatul Ulama (NU) tidak berhenti sebagai pengaruh kultural di tengah masyarakat. Menurut Kiai Marzuki, karakter keulamaan perlu diterjemahkan ke dalam tata kelola organisasi agar menjadi bagian dari sistem NU.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Cirebon itu menilai NU masih memiliki banyak ulama besar dan tokoh yang memiliki karisma kuat.
Persoalan yang muncul, menurut Kiai Marzuki, bukan hilangnya ulama karismatik. Tantangannya terletak pada perubahan pola kepemimpinan yang semakin dipengaruhi logika rasional, organisatoris, dan administratif.
“Karisma ulama NU menurut saya masih cukup kuat. Hari ini NU tidak kekurangan ulama besar di pesantren, dan ulama yang berkarisma pun masih banyak,” kata Kiai Marzuki saat menjadi narasumber dalam program Jurnal9 Siang di TV9 Nusantara, Selasa, 11 Agustus 2026.

Baca: Kiai Marzuki Wahid: Kepemimpinan NU Adalah Amanah, Bukan Jabatan yang Patut Diperebutkan
Kiai Marzuki menjelaskan bahwa karisma ulama memiliki sejumlah ukuran yang berbeda dari popularitas publik. Keilmuan, sanad, zuhud, kedekatan dengan umat, khidmah kepada pesantren, serta keberanian mengontrol kezaliman, kebatilan, dan kekuasaan menjadi bagian penting dari karakter tersebut.
Menurut Kiai Marzuki, persoalan berikutnya adalah bagaimana kualitas tersebut dapat masuk ke dalam sistem organisasi. Selama ini, kekuatan karisma ulama lebih banyak terlihat dalam wilayah kultural. Kondisi tersebut perlu dikembangkan agar prinsip keulamaan juga memiliki posisi yang jelas dalam tata kelola NU.
“Karisma ini tidak boleh hanya berada di wilayah kultural seperti selama ini, tetapi harus mewujud menjadi tata kelola,” ujarnya.
Baca: Rektor ISIF Cirebon: Jangan Rusak Muktamar NU dengan Elektoral Transaksional
Kiai Marzuki menyebut perbincangan tentang tata kelola tersebut berkaitan dengan posisi ulama dalam struktur NU. Menurut Kiai Marzuki, diperlukan mekanisme yang dapat memastikan supremasi keulamaan menjadi bagian dari sistem, bukan hanya bergantung pada figur tertentu.
Salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan adalah keberadaan ahlul halli wal aqdi (AHWA), yaitu wadah ulama yang memiliki kredibilitas keilmuan dan integritas moral. Dalam struktur tersebut, zuhud menjadi salah satu kualitas penting karena berkaitan dengan kemampuan menjaga organisasi dari kepentingan duniawi.
Kiai Marzuki juga memandang kepemimpinan NU tidak tepat jika dibangun sebagai kepemimpinan individual. Organisasi dengan cakupan persoalan yang luas membutuhkan kepemimpinan kolektif kolegial dengan keterlibatan berbagai disiplin keilmuan.
Menurut Kiai Marzuki, unsur keulamaan tetap menjadi fondasi, sementara bidang tanfidziyah dapat melibatkan teknokrat dan orang-orang dengan keahlian lain. Struktur Syuriyah dan AHWA, menurut Kiai Marzuki, perlu mendapatkan perhatian khusus sebagai penjaga marwah NU.
“Yang tengah dipikirkan banyak kalangan sekarang adalah bagaimana supremasi ulama, bukan supremasi Suriyah, masuk ke dalam tata kelola NU sehingga menjadi sistem,” tutur Kiai Marzuki.
Tata kelola tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang terhadap kepemimpinan NU. Penentuan pemimpin tidak lagi semata dilihat dari kekuatan elektoral, tetapi dari kualitas keilmuan, moral, kedekatan dengan umat, pengabdian kepada pesantren, dan kemampuan menjaga kepentingan masyarakat.
“Tantangan organisasi semakin kompleks sehingga tradisi keulamaan perlu dipertahankan sekaligus diterjemahkan ke dalam sistem yang mampu menjawab persoalan zaman,” ungkap Kiai Marzuki.