Ikhbar.com: Dewan Penasihat (Senior Advisor) Jaringan Gusdurian, Ning Inaya Wahid menilai, integritas dan independensi harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan bakal calon (bacalon) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-35 NU. Menurutnya, pemimpin NU pada abad kedua perlu memiliki rekam jejak yang menunjukkan komitmen terhadap organisasi dan kepentingan kebangsaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Ning Inaya dalam diskusi bertajuk “Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua” yang digelar pada Selasa, 11 Agustus 2026. Diskusi itu juga menghadirkan Hatim Ghazali, Taufik Damas, dan Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulan Sari.
Ning Inaya menyebut, Muktamar Ke-35 NU memiliki posisi penting karena menjadi muktamar pertama setelah memasuki abad kedua. Ia menilai momentum tersebut perlu diikuti dengan perhatian serius terhadap kualitas kepemimpinan organisasi.
“Muktamar besok itu akan jadi Muktamar pertama di abad kedua,” ujar Ning Inaya.
Menurut putri keempat KH Abdurrahman Wahid ini, besarnya jumlah warga NU membuat keputusan yang dihasilkan dalam muktamar memiliki dampak luas. Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan internal organisasi, tetapi juga dapat bersinggungan dengan dinamika sosial dan politik di Indonesia.
Ia mengatakan, perubahan masyarakat membuat NU perlu kembali meneguhkan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri organisasi. Kondisi NU saat ini, menurutnya, berbeda dengan situasi ketika organisasi tersebut pertama kali berdiri sehingga membutuhkan pembacaan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Ning Inaya juga menyoroti banyaknya narasi mengenai NU yang beredar di ruang publik. Ia menilai sebagian narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi NU secara keseluruhan.
Baca: Jelang Muktamar Ke-35, PCNU Cirebon Dorong Putra Daerah Jadi Rais Aam PBNU
“Banyak narasi-narasi yang sebenarnya tidak tepat, tidak menggambarkan NU secara keseluruhan, tapi kemudian itu digunakan untuk menggambarkan NU,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijawab dengan penguatan posisi NU sekaligus evaluasi dari dalam organisasi. Evaluasi diperlukan agar NU dapat melihat persoalan internal dan tidak memberikan ruang bagi berkembangnya narasi yang tidak sesuai dengan kondisi organisasi.
Ning Inaya menilai, independensi menjadi salah satu kriteria penting yang harus dimiliki bacalon Ketua Umum PBNU. Ia menekankan pentingnya kemampuan pemimpin NU dalam menjaga hubungan dengan pemerintah tanpa kehilangan jarak terhadap kekuasaan.
Menurutnya, NU tidak berada pada posisi yang menolak politik. Namun, hubungan dengan dunia politik harus tetap ditempatkan dalam batas yang tidak menghilangkan kemandirian organisasi.
“Bagaimana memberikan batasan supaya bisa menjaga tadi, dengan pemerintah tapi masih bisa independen, masih bisa memiliki jarak atas kekuasaan, masih bisa bahkan mungkin memberikan kritik-kritik yang membangun kepada pemerintah,” ujar Ning Inaya.
Ia menegaskan, komitmen menjaga independensi perlu dibuktikan melalui rekam jejak bacalon. Pernyataan yang disampaikan selama proses menuju muktamar dinilai perlu dilihat bersama pengalaman dan tindakan calon dalam perjalanan sebelumnya.
Inayah juga mengingatkan agar NU tidak diposisikan sebagai sarana untuk memperoleh jabatan tertentu. Menurutnya, calon pemimpin harus memiliki motivasi yang sejalan dengan kepentingan organisasi.
“Enggak menganggap NU itu kemudian jadi batu loncatan untuk mendapatkan jabatan tertentu,” katanya.
Ia menilai perkembangan teknologi membuat rekam jejak calon semakin mudah diperiksa. Informasi dari media sosial maupun berbagai dokumen dapat menjadi bahan untuk melihat perjalanan dan sikap seseorang sebelum menentukan pilihan.
“Data atau dokumen asli itu berbicara. Ada begitu banyak jejak di sosial media,” ujarnya.
Menurutnya, rekam jejak tersebut dapat membantu melihat kesungguhan calon dalam menjalankan amanah organisasi. Dari sana, dapat diketahui apakah seseorang memiliki komitmen terhadap NU atau lebih berorientasi pada posisi yang ingin diperolehnya.
Ning Inaya kemudian mengaitkan kriteria kepemimpinan NU dengan sejarah berdirinya organisasi. Ia mengingatkan bahwa para pendiri NU memiliki perhatian terhadap persoalan kebangsaan dan perjuangan melawan ketidakadilan.
“Saya sangat percaya kalau para muassis itu bangun NU itu untuk melawan kolonialisme dan imperialisme. Artinya, melawan ketidakadilan,” katanya.
Menurutnya, nilai perjuangan tersebut perlu tetap menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua.
Bagi Ning Inayah, bacalon Ketua Umum PBNU perlu memiliki integritas, menjaga independensi, serta menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan NU melalui rekam jejaknya.