‘Raksasa’ Ekonomi Biru Indonesia Ada di Timur, Prof. Rokhmin Ungkap Potensinya

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri. Foto: DPR RI

Ikhbar.com: Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB-University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. menyebut Indonesia Timur memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi biru Indonesia. Potensi tersebut tersebar di Maluku, Papua, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sejumlah wilayah lain di kawasan timur Indonesia.

Maluku menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian khusus dalam pandangan Prof. Rokhmin. Berabad-abad lalu, kawasan tersebut telah menjadi bagian penting dalam perdagangan dunia melalui komoditas cengkih dan pala. Kekayaan Maluku kemudian tidak berhenti pada komoditas rempah, tetapi juga mencakup sumber daya laut.

“Maluku adalah laboratorium alam untuk masa depan ekonomi biru Indonesia,” tulis Prof. Rokhmin dalam opini berjudul “Pembangunan Blue Economy Menuju Indonesia Emas 2045” di Sukabumi Update, Rabu, 23 September 2026.

Baca: Prof. Rokhmin: Potensi Ekonomi Biru Indonesia hampir Rp25 Ribu Triliun

Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura disebut menyimpan kekayaan perikanan yang sangat besar. Ekosistem di kawasan timur Indonesia juga mencakup terumbu karang, mangrove, padang lamun, rumput laut, ikan pelagis, ikan demersal, udang, lobster, kepiting, rajungan, dan berbagai biota laut.

Kekayaan tersebut tidak hanya terdapat di Maluku. Prof. Rokhmin juga menyebut Papua, Papua Barat Daya, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan wilayah Indonesia Timur lainnya memiliki sumber daya yang beragam.

“Di kawasan ini kita menemukan kombinasi yang sangat lengkap, yakni laut yang luas, pulau-pulau kecil, terumbu karang, mangrove, padang lamun, perikanan, rumput laut, pariwisata bahari, energi, mineral, dan keanekaragaman hayati,” tulisnya.

Baca: Prof. Rokhmin Dorong Perubahan Paradigma Pembangunan Berbasis Laut

Ragam sumber daya tersebut menjadi bagian dari potensi ekonomi biru Indonesia. Namun, Prof. Rokhmin menilai kekayaan yang ada di kawasan timur belum dikelola secara optimal.

“Itulah gambaran raksasa ekonomi biru Indonesia, yang sayangnya belum dikelola secara optimal,” tulis Prof. Rokhmin.

Selain kekayaan sumber daya, Prof. Rokhmin menyoroti cara pandang terhadap Indonesia Timur. Kawasan tersebut selama ini kerap dilihat dari perspektif keterisolasian. Pandangan tersebut dinilai berbeda dengan pengalaman sejarah masyarakat maritim di kawasan tersebut.

Salah satu contoh yang disebut adalah pelaut Bugis. Tradisi pelayaran mereka menunjukkan cara pandang yang menempatkan laut sebagai ruang penghubung, bukan semata-mata pemisah antardaerah.

“Pelaut Pelaut Bugis misalnya, telah lama berpikir, apa yang disebut keterisolasian itu adalah koneksivitas,” tulisnya.

Pandangan tentang konektivitas tersebut kemudian dikaitkan dengan sejarah maritim Indonesia. Prof. Rokhmin menyebut pelaut-pelaut Bugis telah menjelajah dunia dengan paradigma yang tidak melihat laut sebagai batas keterisolasian.

Gagasan mengenai peran strategis Indonesia Timur juga dikaitkan dengan pemikiran Presiden Soekarno. Prof. Rokhmin menyebut Bung Karno memiliki cita-cita menjadikan Kepulauan Maluku sebagai pusat ekonomi, industri, dan pendidikan maritim dunia.

“Bung Karno punya cita-cita menjadikan Kepulauan Maluku sebagai pusat ekonomi, industri dan pendidikan maritim dunia,” tulis Prof. Rokhmin.

Cita-cita tersebut menjadi bagian dari pandangan bahwa laut dan kepulauan Indonesia Timur memiliki posisi penting dalam pembangunan nasional. Kekayaan sumber daya, sejarah maritim, dan posisi geografis kawasan tersebut dapat menjadi pijakan untuk melihat kembali orientasi pembangunan berbasis kelautan.

Bagi Prof. Rokhmin, pengembangan ekonomi biru di Indonesia Timur juga berkaitan dengan penempatan laut sebagai bagian utama perekonomian nasional. Laut Nusantara dipandang memiliki dasar historis untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.

“Menjadikan laut nusantara sebagai garda depan perekonomian Indonesia adalah sesuatu yang niscaya dan punya landasan historis,” tulis Prof. Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.