Prof. Rokhmin Jelaskan Keseimbangan Doa dan Ikhtiar sebagai Kunci Hadapi Dampak El-Nino

Anggota DPR RI sekaligus Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri saat menyampaikan khutbah. Dok IST

Ikhbar.com: Menghadapi ancaman El Nino tidak cukup mengandalkan teknologi ataupun doa semata. Keduanya perlu berjalan beriringan agar masyarakat siap menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus tetap menumbuhkan keyakinan kepada Allah Swt.

Pandangan tersebut disampaikan pakar kelautan dan perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri dalam Talk Highlight Radio Elshinta, Selasa, 7 Juli 2026. Menurutnya, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal saat menghadapi berbagai persoalan, termasuk ancaman kekeringan dan krisis pangan.

“Kalau kita berdoa, mudah-mudahan El Nino tahun ini tidak berkepanjangan. Prediksi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) kan bisa berlangsung sampai Mei tahun depan. Wah, ini ngeri-ngeri sedap,” kata Prof. Rokhmin, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.

Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil

Meski demikian, Anggota Komisi IV DPR RI tersebut menegaskan bahwa doa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan langkah antisipasi. Pemerintah dan masyarakat tetap berkewajiban melakukan berbagai upaya agar dampak El Nino dapat ditekan sejak dini.

Prof. Rokhmin mencontohkan pentingnya membangun embung, menyediakan cadangan air, memperbaiki irigasi, memperkuat logistik pangan, serta meningkatkan kapasitas petani dan nelayan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi musim kering.

“Kalau Allah Swt sudah berkehendak, ya tentu terjadi. Tapi kita juga enggak bisa kemudian bilang, ‘Ah santai, ada Allah, kita enggak usah siap-siap.’ Enggak boleh begitu,” ujarnya.

Prof. Rokhmin mengatakan ajaran Islam menempatkan ikhtiar sebagai bagian dari kewajiban manusia. Setelah seluruh kemampuan dikerahkan, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah melalui sikap tawakal.

“Etos atau akhlak Islam yang benar itu manusia punya dua hak yang harus dilaksanakan, yaitu hak berikhtiar dan hak berdoa. Tetapi hasil harus diserahkan kepada Allah, tawakal,” katanya.

Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut, keseimbangan itu akan melahirkan sikap qanaah. Seseorang tetap bekerja secara profesional, memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tidak larut dalam kekecewaan apabila hasil akhirnya berbeda dari harapan.

Prof. Rokhmin juga menyinggung berbagai pelajaran dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan mitigasi bencana dan pengelolaan pangan. Kisah Nabi Nuh maupun Nabi Yusuf, menurutnya, menunjukkan bahwa para nabi telah memberikan teladan mengenai pentingnya persiapan menghadapi masa sulit.

“Bagi umat Islam seharusnya sangat indah. Berbicara mengenai antisipasi terhadap bencana alam, dikisahkan soal Nabi Nuh. Kemudian di Surat Yusuf ada pelajaran tentang manajemen stok pangan,” ujarnya.

Prof. Rokhmin menyayangkan pelajaran tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam tata kelola pangan nasional. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia yang semestinya mampu menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai inspirasi dalam merancang kebijakan.

“Jepang belajar soal penyimpanan pangan. Ini paradoks atau ironi. Harusnya Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia lebih mumpuni soal manajemen pertanian dan pangan karena begitu banyak ibrah dalam Al-Qur’an maupun hadis shahih,” katanya.

Selain kesiapan pemerintah, Prof. Rokhmin menilai masyarakat juga memiliki tanggung jawab meningkatkan kualitas kehidupan beragama. Menurutnya, nilai-nilai Islam akan lebih mudah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari apabila ibadah ritual berjalan seiring dengan penerapan ajaran Islam di berbagai bidang kehidupan.

Prof. Rokhmin mengutip data yang pernah disampaikan Kementerian Agama mengenai tingkat pelaksanaan salat di Indonesia sebagai pengingat bahwa kualitas kehidupan beragama perlu terus diperbaiki.

“Kalau umat Islam salatnya parah, bagaimana mau mengikuti tuntunan-tuntunan yang lainnya, termasuk manajemen pertanian, manajemen pergudangan, pascapanen, logistik, sampai memanen air hujan,” ujarnya.

Baca: Kejar Sewajarnya, Ikhlas Sepenuhnya: Nasihat Prof. Rokhmin Dahuri soal Rezeki

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa ancaman El Nino seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian bersama. Pemerintah dituntut menyusun kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, sedangkan warga didorong meningkatkan kepedulian, memperkuat ikhtiar, serta tidak meninggalkan doa.

Menjelang akhir dialog, Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon, tersebut berharap seluruh unsur bangsa dapat bekerja secara kolaboratif agar dampak El Nino terhadap pangan dan kehidupan masyarakat dapat diminimalkan.

“Mudah-mudahan pembicaraan kita bermanfaat untuk pemerintah, rakyat, dan bangsa secara keseluruhan sehingga kita secara bertahap tetapi pasti akan mengurangi dampak-dampak negatif dari peristiwa alam, termasuk El Nino, dan pada saat yang sama meningkatkan produktivitas, daya saing, kemakmuran, serta keberlanjutan bangsa ini,” tutur Prof. Rokhmin.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.