Ikhbar.com: Otoritas keulamaan perempuan dalam Islam memiliki akar sejarah yang kuat. Salah satu buktinya terlihat pada figur Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, ulama perempuan abad kedua Hijriah yang diakui para imam besar.
Hal itu ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Putri Kempek Cirebon, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far, dalam Ngaji Pasanan Pemikiran Islam (NPPI) II di Kampus Transformatif Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.
“Sayyidah Nafisah adalah perempuan alim yang menjadi rujukan, bahkan didatangi para imam untuk dimintai doa dan nasihat,” ujar Nyai Tho’ah, sapaan karibnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Kajian serial yang mengangkat tema “Studi Pemikiran Sayyidah Nafisah” itu menyoroti perjalanan intelektual dan spiritual cucu keturunan Sayyidina Hasan bin Ali sebagai legitimasi historis keulamaan perempuan.

Baca: 20 Tokoh Pemikiran Islam bakal Dibedah di ‘Ngaji Pasanan’ ISIF Cirebon
Tumbuh dalam tradisi ilmu
Sayyidah Nafisah lahir di Makkah pada 145 Hijriah, kemudian dibesarkan di Madinah dalam lingkungan keluarga yang sarat tradisi keilmuan. Ayahnya, Hasan al-Anwar, dikenal sebagai ulama dan pernah menjabat wali Madinah. Sejak kecil, ia menghafal Al-Qur’an dan mempelajari hadis.
Nyai Tho’ah menjelaskan bahwa Sayyidah Nafisah memiliki jejak interaksi keilmuan yang kuat dengan para ulama besar Madinah, termasuk Imam Malik. Sayyidah Nafisah tidak berhenti pada hafalan, tetapi juga pemahaman. Riwayat menyebutkan bahwa ia menghafal Al-Qur’an beserta tafsirnya.
Nyai Tho’ah menekankan bahwa kapasitas intelektual tersebut terbentuk dari lingkungan rumah yang menjadi ruang berkumpulnya ulama, fuqaha, dan sastrawan.
“Beliau (Sayyidah Nafisah) tumbuh dalam tradisi dialog dan transmisi ilmu. Itu fondasi penting yang sering luput dibaca,” ujarnya.
Pada masa pernikahan, banyak tokoh terkemuka melamarnya. Namun, ayahnya memilihkan Ishaq al-Mu’taman, sosok yang dikenal amanah dan saleh, yang ditunjukkan melalui isyarat mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw.
“Pernikahan tersebut mempertemukan dua garis keturunan Hasan dan Husain,” katanya.
Baca: Reformasi Fikih ala Imam Syafi’i
Diakui Imam Syafi’i
Salah satu fakta penting dalam bedah tokoh tersebut adalah relasi Sayyidah Nafisah dengan Imam Syafi’i. Disebutkan bahwa Imam Syafi’i kerap berkunjung dan meminta doa kepadanya.
Ketika sang imam sakit, ia mengirim utusan untuk memohon doa. Sayyidah Nafisah menjawab, “Semoga Allah memberinya kenikmatan memandang wajah-Nya yang mulia.” Jawaban itu dipahami sebagai isyarat bahwa ajal Imam Syafi’i telah dekat.
Menurut Nyai Tho’ah, pengakuan tersebut tidak berhenti pada dimensi spiritual.
“Imam Syafi’i adalah mujtahid besar. Fakta bahwa beliau datang dan meminta doa menunjukkan pengakuan atas kedalaman ilmu dan maqam ruhani Sayyidah Nafisah,” katanya.
Nyai Tho’ah juga menceritakan bahwa ketika Imam Syafi’i wafat, jenazahnya dibawa ke rumah Sayyidah Nafisah dan ia menyalatinya. Peristiwa tersebut memperlihatkan kedudukan terhormatnya di mata para ulama.
Dalam Al-Kawākib as-Sayyārah fī Tartīb az-Ziyārah, karya Ibnu al-Zayyat, dikutip sebuah hadis Nabi yang kerap dijadikan dasar penghormatan terhadap Ahlul Bait dalam tradisi keilmuan dan ziarah:
النُّجُومُ أَمَانٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِ وَأَهْلُ بَيْتِي أَمَانٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ
“Bintang-bintang adalah penjaga bagi penduduk langit, dan keluargaku adalah penjaga bagi penduduk bumi.”
Bagi Nyai Tho’ah, hadis tersebut penting dalam membaca posisi Sayyidah Nafisah sebagai bagian dari Ahlul Bait yang dimuliakan karena nasab, otoritas ilmu, dan keteladanan hidup.
“Riwayat ini sering dikaitkan dengan posisi Ahlul Bait sebagai sumber keberkahan dan keteladanan,” tutur Nyai Tho’ah, seraya menegaskan bahwa kemuliaan itu pada diri Sayyidah Nafisah terwujud melalui kapasitas keulamaan dan integritas spiritual.
Baca: Benarkah Zuhud Harus Tinggalkan Urusan Dunia?
Zuhud dan integritas spiritual
Dimensi keulamaan Sayyidah Nafisah menyatu dengan askese yang ketat. Dalam riwayat disebutkan bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari dan tekun berpuasa.
Ketika dinasihati agar meringankan diri, Sayyidah Nafisah menjawab, “Bagaimana aku dapat meringankan diriku, sementara di hadapanku ada rintangan-rintangan yang tidak dapat dilalui kecuali oleh orang-orang yang beruntung.”
Nyai Tho’ah memandang kalimat tersebut sebagai cermin kesadaran hidup yang terarah.
“Beliau memaknai kehidupan sebagai perjalanan yang penuh ujian. Karena itu, disiplin spiritualnya sangat kuat,” ujarnya.
Bahkan disebutkan bahwa Sayyidah Nafisah menggali kuburnya sendiri dan menjadikannya tempat ibadah.
“Sayyidah Nafisah membaca Al-Qur’an berulang kali di dalamnya sebagai persiapan menghadapi kematian,” kata Nyai Tho’ah.

Baca: Sejarah yang Hilang, Pentingnya Pengarusutamaan Peran Ulama Perempuan
Relevansi bagi perempuan hari ini
Bagi Nyai Tho’ah, membaca ulang sosok Sayyidah Nafisah berarti menghidupkan kembali memori kolektif tentang legitimasi perempuan dalam otoritas keagamaan.
“Beliau mengajar, menjadi rujukan, memimpin ruang spiritual, dan tetap menjaga integritas pribadinya. Itu model keulamaan yang utuh,” katanya.
Penulis buku Dakwah Ekologi (2022) itu menegaskan bahwa sejarah Islam mencatat peran perempuan berada di pusat tradisi ilmu.
“Kita tidak sedang menciptakan wacana baru, kita sedang mengingat kembali warisan yang sudah ada,” pungkas Nyai Tho’ah.