Ikhbar.com: Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan pentingnya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Menurut Prof. Rokhmin, ajaran Islam memiliki dimensi yang utuh dan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam Kunjungan Peringatan Haul Almarhumin Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Sabtu, 1 Agustus 2026. Anggota Komisi IV DPR RI tersebut menyebut syariat, thariqah, serta bimbingan para kiai dan ulama sebagai fondasi penting dalam membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab.
“Syariat, thariqah, serta bimbingan para kiai dan ulama menjadi fondasi penting dalam membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab,” ujar Prof. Rokhmin.
Baca: Prof. Rokhmin Jelaskan Keseimbangan Doa dan Ikhtiar sebagai Kunci Hadapi Dampak El-Nino
Menurut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University tersebut, keberagamaan perlu tercermin dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai Islam dapat diwujudkan melalui kejujuran, keadilan, kerja keras, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepedulian kepada sesama, serta perlindungan terhadap masyarakat yang lemah.
Penerapan nilai-nilai tersebut juga berkaitan dengan cara masyarakat mengelola sumber daya dan kekayaan alam. Prof. Rokhmin menekankan bahwa kekayaan alam harus dikelola untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
“Islam harus diwujudkan melalui kejujuran, keadilan, kerja keras, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepedulian kepada sesama, perlindungan terhadap masyarakat lemah, serta pengelolaan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu.
Prof. Rokhmin kemudian mengaitkan penerapan nilai Islam dengan berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, korupsi, dan lemahnya produktivitas dinilai dapat dihadapi secara bertahap apabila ajaran Islam dijalankan secara benar, menyeluruh, dan konsisten.
Karena itu, menurut Prof. Rokhmin, keimanan, ibadah, etos kerja, kepedulian sosial, dan amanah kekuasaan perlu berjalan beriringan. Keimanan diharapkan melahirkan etos kerja, ibadah menumbuhkan kepedulian kepada sesama, sedangkan kekuasaan harus dijalankan sebagai amanah untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Baca: Kejar Sewajarnya, Ikhlas Sepenuhnya: Nasihat Prof. Rokhmin Dahuri soal Rezeki
Gagasan tersebut berujung pada cita-cita membangun Indonesia sebagai baldatun thayyibatun, negeri yang baik, sejahtera, berkeadilan, dan diridai Allah SWT. Cita-cita tersebut, menurut Prof. Rokhmin, membutuhkan kepemimpinan yang amanah, masyarakat produktif, penguasaan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, serta pembangunan yang berlandaskan keadilan sosial.
“Islam harus menjadi kekuatan yang membangun peradaban, bukan sekadar simbol. Keimanan harus melahirkan etos kerja, ibadah harus menumbuhkan kepedulian sosial, dan kekuasaan harus dijalankan sebagai amanah untuk menghadirkan keadilan serta kesejahteraan,” tegas Prof. Rokhmin.