Jemaah Haji Indonesia Dapat 27 Kali Makan selama di Madinah

Ilustrasi katering jemaah haji di Madinah. Foto: Dok. PPIH

Ikhbar.com: Jemaah haji Indoneisa dipastikan mendpat layanan konsumsi sebanyak 27 kali makan selama berada di Madinah, Arab Saudi. Fasilitas tersebut telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan jemaah gelombang pertama yang segera tiba di Kota Nabi.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan 23 dapur katering guna melayani konsumsi jemaah haji Indonesia selama di Madinah. Seluruh menu dirancang dengan cita rasa Nusantara agar tetap akrab di lidah jemaah saat menjalankan ibadah di Arab Saudi.

PPIH memastikan semua penyedia layanan katering telah melalui tahapan seleksi yang ketat. Dengan demikian, makanan yang diterima jemaah tetap terjaga mutu, rasa, dan kelayakannya.

Kepala Seksi Konsumsi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Beny Darmawan mengatakan seluruh dapur yang bertugas sudah lolos proses verifikasi pemerintah Indonesia.

“Seluruhnya sudah diseleksi oleh Kemenhaj Republik Indonesia,” ujar Beny dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 20 April 2026.

Baca: Baznas Buka Peluang Bayar Dam Haji di Tanah Air

Selama kurang lebih sembilan hari di Madinah, setiap jemaah akan menerima makan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan menjelang malam. Total layanan konsumsi yang diterima mencapai 27 kali makan.

PPIH juga menyiapkan bahan pendukung masakan dari Tanah Air demi menjaga cita rasa makanan. Seluruh bumbu didatangkan langsung dari Indonesia dalam bentuk pasta maupun racikan siap pakai.

Cara tersebut dinilai lebih praktis dan efisien dibanding membawa bahan mentah dalam jumlah besar ke Arab Saudi.

Selain bumbu, setiap dapur diwajibkan memiliki tenaga juru masak asal Indonesia. Ketentuannya, minimal tersedia dua koki utama serta empat asisten koki pada masing-masing penyedia katering.

“Itu menjadi kewajiban dan alhamdulillah mampu dipenuhi oleh seluruh dapur yang sudah diseleksi Kemenhaj,” kata Beny.

Layanan konsumsi juga memperhatikan kebutuhan jemaah lanjut usia (lansia). Makanan dapat disesuaikan terutama dari sisi tekstur agar lebih mudah dikonsumsi.

“Kalau untuk lansia ini sesuai kontrak yang sudah dibuat, jamaah bisa minta menu. Sebenarnya menu sama, tapi biasanya nasi buat bubur atau lebih lunak agar bisa lebih dicerna,” ujarnya.

Pengawasan makanan dilakukan secara berjenjang sebelum dibagikan kepada jemaah. Pemeriksaan dilakukan di tiga titik, yakni kantor Daker Madinah, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan sektor tempat jemaah menginap.

Petugas konsumsi di hotel juga melakukan pengecekan akhir sebelum makanan dibagikan kepada jemaah.

“Pengawasan terakhir nanti ada petugas konsumsi di hotel yang memeriksa makanannya. Pengawasan juga sudah dilakukan di kantor Daker dan KKHI,” kata Beny.

Sistem pengawasan tersebut disiapkan agar makanan yang diterima jemaah tetap aman, layak konsumsi, dan sesuai standar pelayanan haji Indonesia di Madinah.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.