Ikhbar.com: Pemerintah Iran dengan tegas mengatakan bahwa pihaknya belum berencana menghadiri putaran lanjutan perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Sikap tersebut muncul ketika masa gencatan senjata dua pekan antara kedua negara segera berakhir dan ketegangan di kawasan kembali meningkat.
Teheran menilai blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih menjadi hambatan utama bagi kelanjutan dialog. Situasi makin rumit setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan aksi militer terhadap kapal Iran di sekitar Selat Hormuz pada Ahad, 19 April 2026.
“Saat ini belum ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran berikutnya perundingan Iran-AS,” tulis medianpemerintah Iran, IRIB pada Senin, 20 April 2026.
Baca: Iran Ancam Tutup Lagi Selat Hormuz jika Blokade AS Berlanjut
Iran menegaskan pencabutan blokade AS menjadi syarat penting jika pembicaraan ingin diteruskan. “Pencabutan blokade Amerika Serikat merupakan prasyarat untuk negosiasi,” ujar sumber tersebut.
“Suasana keseluruhan belum bisa dinilai sangat positif,” tulis laporan Fars News Agency dan Tasnim News Agency.
Media resmi Iran juga menyoroti sikap Washington dalam proses tersebut. “Tuntutan Washington tidak masuk akal dan tidak realistis,” tulis kantor berita IRNA.
“Dalam kondisi seperti ini, belum ada prospek jelas bagi negosiasi yang membuahkan hasil,” lanjut laporan IRNA.
Masa gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai sejak 8 April dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April 2026. Hingga kini, Iran dan Amerika Serikat baru menjalani satu sesi perundingan selama 21 jam di Islamabad pada Jumat, 11 April 2026, namun belum menghasilkan kesepakatan.
“Kami menawarkan Kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya,” tulis Trump pada Ahad, 19 April 2026.
Trump juga kembali menyampaikan ancaman terhadap Iran apabila perundingan tidak mencapai hasil. Pernyataan itu memperlihatkan kerasnya posisi Washington menjelang berakhirnya gencatan senjata.
Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat sebagai respons atas gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon. Namun jalur strategis itu kembali ditutup sehari kemudian setelah Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal Teheran.
“Langkah ini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei.
“Hukuman kolektif ilegal terhadap rakyat Iran,” lanjut Baqaei.
Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sedikit kapal tanker minyak dan gas yang sempat melintas pada Sabtu pagi saat jalur dibuka sementara. Memasuki Ahad pagi, perairan itu kembali kosong dari lalu lintas kapal.
Sebelumnya, tiga insiden berupa tembakan dan ancaman terhadap kapal-kapal komersial menunjukkan tingginya risiko bagi setiap upaya penyeberangan di kawasan tersebut.