Mengapa Raja Saudi Dijuluki Pelayan Kota Suci? Ini Penjelasan Kiai Muhammad Bj

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz. GETTY IMAGES/Anadolu

Ikhbar.com: Di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara, ibadah haji mengajarkan ritual sekaligus adab. Salah satu pelajaran penting yang kerap terabaikan ialah kerendahan hati dalam melayani.

Hal itu disampaikan Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Muhammad Bin Ja’far (Bj), saat menyampaikan ceramah dalam acara Walimah Safar Ustaz Ahmad Kaelani di Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Selasa, 14 April 2026.

“Di Tanah Suci, posisi sebagai pelayan justru menjadi kehormatan,” katanya.

Kiai Muhammad Bin Ja’far (kiri) menyampaikan tausiah dalam acara Walimah Safar Ustaz Ahmad Kaelani di Desa Japurabakti, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Selasa (14/4/2026). Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa ibadah haji merupakan panggilan Allah dan tidak sepenuhnya dapat diukur dengan logika dan perhitungan manusia. Dok. IKHBAR

Baca: Keistimewaan Ibadah Haji, Kiai Muhammad Bj: Satu-satunya Perintah yang Diawali dan Diakhiri ‘Lillah’

Dalam penjelasannya, Kiai Muhammad menyinggung gelar yang digunakan penguasa Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, sebagai Khadimul Haramain Asy-Syarifain (Pelayan Dua Kota Suci/Masjid Suci Makkah dan Madinah). Bagi Kiai Muhammad, gelar tersebut mencerminkan cara pandang dalam memuliakan tamu Allah Swt.

“Raja itu bangga menjadi pelayan jemaah haji,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam ibadah haji semua manusia berada pada kedudukan yang sama. Tidak ada ruang untuk kesombongan, baik karena jabatan, kekayaan, maupun latar belakang sosial.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Cirebon itu menekankan bahwa pelayanan terhadap jemaah haji merupakan bagian dari ibadah. Menurutnya, nilai amalnya besar karena berkaitan langsung dengan kenyamanan orang lain dalam beribadah.

“Melayani jemaah haji merupakan pekerjaan yang bernilai ibadah,” katanya.

Kiai Muhammad juga menyinggung peran petugas haji yang sering tidak terlihat, tetapi memiliki kontribusi penting. Mereka menyiapkan kebutuhan jemaah hingga memastikan kelancaran ibadah. Seluruhnya termasuk pelayanan yang bernilai tinggi.

Di sisi lain, Kiai Muhammad mengingatkan jemaah agar menjaga sikap selama berhaji. Kelelahan fisik yang pasti terjadi tidak seharusnya berubah menjadi keluhan berlebihan.

“Jangan anggap kota suci seperti di daerah sendiri, jaga adab dan akhlak,” katanya.

Baca: Kiai Muhammad Bj: Ibadah Haji tak Bisa Diukur dengan Logika dan Matematika

Kiai Muhammad juga menyebut pengalaman haji identik dengan tantangan fisik. Namun, di balik itu terdapat nilai yang lebih besar.

“Capek pasti, tapi itu bisa hilang karena nikmat nilai ibadah. Dan jangan kapok,” ujarnya.

Bagi Kiai Muhammad, haji menjadi ruang latihan untuk membentuk sikap rendah hati. Baik jemaah maupun pelayan, semuanya dituntut menempatkan diri di hadapan Allah tanpa membawa atribut dunia.

“Ibadah haji bukan hanya perjalanan, tetapi juga proses pembelajaran tentang cara memuliakan orang lain dan merendahkan diri di hadapan Tuhan,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.