Ikhbar.com: Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat (AS) di tengah konflik yang masih berlangsung. Penolakan ini mempertegas sikap Iran yang belum bersedia menghentikan operasi militer tanpa adanya kesepakatan yang dianggap adil.
Informasi dari sumber pejabat Iran yang tidak diungkap identitasnya menyebutkan, tawaran tersebut disampaikan melalui perantara negara ketiga pada Rabu, 2 April 2026. Namun, Teheran memilih menolak usulan itu dan tidak membuka ruang pertemuan dengan mediator untuk pembahasan lanjutan.
“Iran menolak proposal tersebut,” demikian laporan dari Middle East Eye dikutip pada Sabtu, 4 April 2026.
Baca: Sebulan Perang AS-Israel vs Iran, 3.206 Orang Tewas
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa Iran lebih dahulu mengajukan permintaan gencatan senjata. Pernyataan itu langsung dibantah oleh otoritas Teheran yang menegaskan tidak pernah mengajukan permintaan tersebut.
Upaya diplomasi yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Pakistan, dilaporkan tidak membuahkan hasil. Penolakan Iran untuk bertemu pejabat AS di Islamabad menjadi salah satu penyebab mandeknya proses mediasi. Teheran menilai sejumlah tuntutan dari Washington tidak dapat diterima.
Sebagai syarat penghentian konflik, Iran mengajukan dua poin utama, yakni penarikan pasukan AS dari kawasan Timur Tengah serta pembayaran kompensasi atas kerusakan infrastruktur akibat perang.
Sejumlah negara lain seperti Turki, Mesir, dan Qatar turut berupaya menjembatani perundingan. Namun, Qatar dilaporkan menolak tekanan untuk mengambil peran sebagai mediator utama dalam konflik tersebut.
Situasi di lapangan masih memanas seiring kebuntuan jalur diplomatik. Penilaian intelijen AS menyebut Iran masih memiliki sekitar setengah dari kekuatan peluncur rudal serta drone kamikaze, meskipun telah lebih dari satu bulan menghadapi serangan gabungan dari AS dan Israel.
Militer Iran pada hari yang sama mengklaim berhasil menjatuhkan jet tempur AS jenis F-15E di wilayah barat daya negaranya.
Seorang juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya menyatakan pesawat tersebut “hancur total”. Pihak militer AS kemudian mengonfirmasi bahwa pesawat yang jatuh adalah F-15E, bukan F-35 seperti yang sebelumnya diklaim Iran.
Operasi pencarian awak pesawat dilakukan oleh kedua pihak. Laporan media AS menyebut satu dari dua awak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian.
Selain itu, media Amerika juga melaporkan satu pesawat tempur AS jenis A-10 jatuh di kawasan Teluk dekat Selat Hormuz, dengan pilot berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan konflik masih terus berlanjut di tengah belum tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara pihak-pihak yang terlibat.