Jadi Satu-satunya yang Feminin: Mengungkap Rahasia Linguistik Bulan Jumadil Awal maupun Akhir

Namun, tidak banyak yang mengetahui keunikan linguistik di balik penamaan bulan kelima dan keenam Hijriah ini.
Ilustrasi. Olah digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Umat Islam akrab dengan sistem penanggalan Hijriah untuk menentukan awal puasa, perayaan hari besar, dan pelaksanaan ibadah haji. Sebagian besar dari mereka juga hafal urutan bulan dalam kalender tersebut, mulai dari Muharam hingga Zulhijah.

Namun, tidak banyak yang mengetahui keunikan linguistik di balik penamaan bulan kelima dan keenam. Dari 12 bulan dalam kalender Hijriah, terdapat satu nama yang digunakan untuk dua bulan berturut-turut, yang keduanya memiliki keistimewaan dalam tata bahasa Arab klasik karena berjenis feminin, berbeda dari nama-nama bulan lainnya.

Baca: Cara Mudah Menghafal Nama-nama Bulan Hijriah

Jejak musim ekstrem di Jazirah Arab

Pembentukan kosakata Arab klasik berkaitan erat dengan kondisi alam dan lingkungan masyarakat penuturnya. Bangsa Arab pada masa lampau menamai waktu berdasarkan fenomena alam yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk masyarakat nomaden. Kata “Jumada” berasal dari akar kata jamada yang secara harfiah berarti membeku atau mengeras.

Menurut penjelasan etimologis yang berkembang dalam literatur bahasa Arab, penamaan Jumada berkaitan dengan kondisi air yang membeku pada masa penamaan bulan-bulan tersebut. Fenomena ini dikaitkan dengan musim dingin di Jazirah Arab, ketika suhu rendah dapat menyebabkan air membeku di sejumlah wilayah. Nama Jumada kemudian digunakan untuk menandai periode yang dikaitkan dengan kondisi tersebut.

Al-Allamah Ibnu Manzhur, pakar bahasa sekaligus penulis kamus Lisan al-Arab, menjelaskan asal-usul nama tersebut sebagai berikut.

وَجُمَادَى مِنْ أَسْمَاءِ الشُّهُورِ مَعْرِفَةٌ سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِجُمُودِ الْمَاءِ فِيهَا عِنْدَ تَسْمِيَةِ الشُّهُورِ

“Dan ‘Jumada‘ adalah salah satu nama bulan yang makrifat (spesifik), dinamakan demikian karena membekunya air pada bulan tersebut ketika masa awal penamaan bulan-bulan.”

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penamaan bulan dalam tradisi Arab berkaitan dengan pengamatan terhadap lingkungan alam. Nama Jumada menjadi salah satu contoh bagaimana fenomena alam tercermin dalam kosakata yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga masa peradaban Islam.

Baca: Mengapa Kalender Jawa Mirip Penanggalan Hijriah?

Pengecualian kaidah tata bahasa

Keunikan nama Jumada juga terlihat dalam kaidah tata bahasa Arab. Ilmu nahwu membagi kata benda menjadi dua kelompok berdasarkan jenis gramatikalnya, yaitu maskulin atau mudzakkar dan feminin atau mu’annats. Dalam penyebutan nama-nama bulan Hijriah, Jumada al-Ula dan Jumada al-Akhirah memiliki kedudukan khusus karena keduanya diperlakukan sebagai kata feminin.

Para ahli bahasa Arab, termasuk kalangan mazhab Kufah, mengkaji penggunaan bahasa berdasarkan tradisi penuturan masyarakat Arab. Dalam kaidah tersebut, kata Jumada diperlakukan sebagai feminin. Karena itu, bentuk yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab adalah Jumada al-Ula untuk bulan kelima dan Jumada al-Akhirah untuk bulan keenam. Kata awwal berjenis maskulin, sedangkan ula merupakan bentuk feminin yang digunakan dalam penamaan bulan kelima.

Abu Zakariya al-Farra’, pakar tata bahasa Arab dari mazhab Kufah, menegaskan pengecualian tersebut dalam karyanya, Al-Ayyam wa al-Layali wa asy-Syuhur.

قَالَ الْفَرَّاءُ: كُلُّ الشُّهُورِ مُذَكَّرَةٌ إِلَّا جُمَادَيَيْنِ؛ فَمُؤَنَّثَانِ، وَيُقَالُ: هَذَا شَهْرُ كَذَا وَكَذَا، وَهَذِهِ جُمَادَى الْأُولَى وَجُمَادَى الْآخِرَةُ

“Al-Farra’ berkata: Seluruh bulan adalah mudzakkar (maskulin) kecuali dua bulan Jumada, keduanya adalah mu’annats (feminin). Maka diucapkan: Ini bulan anu dan anu (dengan kata tunjuk maskulin hadza), dan Ini Jumada al-Ula serta Jumada al-Akhirah (dengan kata tunjuk feminin hadzihi).”

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa jenis gramatikal dalam bahasa Arab memengaruhi bentuk kata yang digunakan dalam kalimat.

Nama Jumada menjadi pengecualian yang menarik karena kedua bulan tersebut menuntut penggunaan bentuk feminin dalam penyesuaian kata, termasuk kata tunjuk.

Baca: Peran Kakek Buyut Nabi dalam Penetapan Kalender Arab pra-Islam

Nama kuno sebelum era Islam

Sejarah penamaan bulan dalam tradisi Arab telah berlangsung sebelum Islam. Literatur bahasa mencatat bahwa masyarakat Arab pada masa Jahiliah mengenal sejumlah nama bulan yang berbeda dari penamaan yang digunakan sekarang. Catatan tersebut menunjukkan adanya perubahan kosakata seiring perkembangan tradisi penanggalan.

Bulan kelima yang kini dikenal sebagai Jumadil Awal disebut Hanin dalam salah satu tradisi penamaan kuno. Kata tersebut berkaitan dengan makna kerinduan atau rintihan. Sementara itu, bulan keenam memiliki nama Rubba, sebagaimana dicatat dalam literatur leksikografi Arab. Meski demikian, penjelasan mengenai alasan penggunaan nama-nama tersebut perlu dibedakan dari makna katanya agar tidak menimbulkan kesimpulan historis yang melampaui sumber.

Ibnu Khalawaih mencatat nama-nama bulan tersebut berdasarkan tradisi penamaan Arab sebelum Islam:

وَأَسْمَاءُ الشُّهُورِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ … وَجُمَادَى الْأُولَى: الْحَنِينُ. وَجُمَادَى الْآخِرَةِ: رُبَّى

“Adapun nama-nama bulan pada masa Jahiliah … dan Jumadil Awal disebut Al-Hanin, sementara Jumadil Akhir disebut Rubba.”

Baca: 3 Alasan Muharam Jadi Bulan Pertama Kalender Hijriah

Kalender sebagai perekam sejarah

Perubahan nama dari Hanin menjadi Jumada memperlihatkan bahwa penamaan bulan dalam tradisi Arab tidak bersifat tetap sepanjang sejarah. Kosakata yang digunakan untuk menandai waktu mengalami perubahan, sebagaimana tercermin dalam catatan para ahli bahasa. Meski demikian, perubahan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa masyarakat Arab beralih dari pengamatan perilaku hewan ke pengamatan iklim sebagai dasar penamaan bulan.

Dalam perkembangan kalender Islam, sistem penanggalan Hijriah menggunakan peredaran bulan sebagai dasar perhitungan waktu. Kalender ini terdiri atas 12 bulan lunar yang mengikuti siklus bulan dan tidak menetap pada musim tertentu. Sistem tersebut berbeda dari kalender yang menyesuaikan tahun lunar dengan tahun matahari melalui penambahan bulan sisipan.

Bahasa Arab menyimpan jejak sejarah melalui kosakata dan kaidahnya. Nama Jumada memperlihatkan hubungan antara penamaan waktu, pemahaman terhadap alam, dan tata bahasa. Keistimewaan Jumada al-Ula dan Jumada al-Akhirah terletak pada kedudukan keduanya sebagai nama bulan yang secara gramatikal berjenis feminin, sebuah kekhasan dalam sistem penamaan bulan Hijriah.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.