Prof. Rokhmin: Potensi Ekonomi Biru Indonesia hampir Rp25 Ribu Triliun

Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri saat berdiskusi di Gedung DPR RI. Dok DPR

Ikhbar.com: Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB-University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. menyebut potensi ekonomi 11 sektor blue economy (ekonomi biru) Indonesia mencapai USD1,4 triliun per tahun atau sekitar Rp24,97 kuadriliun (kurs Rp17.839/dolar AS). Nilai tersebut sedikit lebih besar dibandingkan produk domestik bruto Indonesia yang dalam opininya berada di kisaran USD1,38 triliun.

Potensi tersebut mencakup berbagai sektor kelautan yang dinilai menjadi bagian dari keunggulan komparatif Indonesia. Prof. Rokhmin menyebut kekuatan tersebut sebagai agro-maritim, yang mencakup sumber daya berbasis daratan dan laut.

“Di laut kita memiliki blue economy yang luar biasa besar yang meliputi 11 sektor,” tulis Prof. Rokhmin dalam opini berjudul “Pembangunan Blue Economy Menuju Indonesia Emas 2045” di Sukabumi Update, Rabu, 23 September 2026.

Baca: Prof. Rokhmin Dorong Perubahan Paradigma Pembangunan Berbasis Laut

Sebelas sektor tersebut terdiri atas perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan dan seafood (hasil laut), industri bioteknologi kelautan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata bahari, transportasi laut, industri dan jasa maritim, hutan pesisir seperti mangrove, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, serta sumber daya kelautan lainnya atau emerging sectors (sektor-sektor yang sedang berkembang).

Menurut Prof. Rokhmin, keseluruhan sektor tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar. Nilainya mencapai USD1,4 triliun per tahun, sedikit lebih besar dibandingkan produk domestik bruto Indonesia yang disebut sekitar USD1,38 triliun.

“Potensi ekonomi kesebelas sektor itu mencapai USD1,4 triliun per tahun atau lebih besar sedikit dari PDB Indonesia saat ini, sekitar USD1,38 triliun,” tulisnya.

Besarnya potensi tersebut juga dikaitkan dengan penciptaan lapangan kerja. Pengembangan 11 sektor ekonomi biru disebut berpotensi menciptakan lebih dari 45 juta lapangan kerja atau sekitar sepertiga angkatan kerja Indonesia saat ini.

“Potensi lapangan kerja yang bisa diciptakan lebih dari 45 juta orang, sepertiga dari angkatan kerja Indonesia saat ini,” tulis Prof. Rokhmin.

Selain sumber daya energi dan mineral, Prof. Rokhmin menyebut Indonesia mempunyai keunggulan komparatif yang jelas pada sektor agro-maritim. Posisi sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya darat dan laut menjadi salah satu modal yang dapat dikembangkan.

“Selain ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat jelas, yakni: Agro-Maritim,” tulisnya.

Baca: Kunjungi Tiongkok, Prof. Rokhmin Jajaki Kerja Sama Akuakultur

Posisi geografis Indonesia juga dinilai memberikan keuntungan strategis. Dalam opini tersebut disebutkan sekitar 45 persen perdagangan global, dengan nilai mencapai USD15 triliun per tahun, dikapalkan melalui ALKI atau Alur Laut Kepulauan Indonesia.

Untuk mengembangkan potensi tersebut, Prof. Rokhmin mendorong penerapan skala ekonomi, teknologi mutakhir, inovasi, serta teknologi Industri 4.0. Teknologi yang disebut antara lain kecerdasan buatan, drone, bioteknologi, dan nanoteknologi. Pengembangan juga diarahkan melalui sistem manajemen rantai pasok terintegrasi serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Caranya, mari kita kembangkan dan kelola kesebelas sektor Blue Economy di atas dengan menerapkan economy of scale, teknologi mutakhir (inovasi) termasuk Industry 4.0 seperti AI, drone, bioteknologi dan nanoteknologi, ISCM (Integrated Supply Chain Management System), dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development),” tulis Prof. Rokhmin.

“Penguatan sumber daya manusia, riset, inovasi, investasi, kemudahan berbisnis, dan kebijakan politik ekonomi juga diperlukan agar pengembangan ekonomi biru dapat meningkatkan daya saing serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.