Ikhbar.com: Rabiul Awal menjadi salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam karena pada bulan ini Nabi Muhammad Saw dilahirkan. Kelahiran Rasulullah Saw menjadi bagian penting dalam sejarah Islam karena melalui beliau Allah Swt menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Rabiul Awal kemudian dikenal luas sebagai bulan Maulid. Pada bulan ini, umat Islam mengenang kelahiran Nabi Muhammad Saw sekaligus mengisinya dengan berbagai ibadah dan amal kebajikan sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah Saw.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus Al-Makki melalui katanya Kanzun Najah wa as-Surur menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan selama Rabiul Awal. Menuritnya, amalan tersebut antara lain memperbanyak puasa dan selawat kepada Nabi Muhammad Saw.
Tradisi memuliakan bulan kelahiran Rasulullah Saw juga dilakukan melalui sedekah, penyediaan makanan, memperbanyak amal kebajikan, serta mempelajari kisah kelahiran dan perjalanan hidup beliau.
Syekh Abdul Hamid Al-Makki menuliskan:
إِعْلَمْ أَنَّهُ يُطْلَبُ فِي هَذَا الشَّهْرِ كَثْرَةُ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ تَعَالَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَزَادَهُ شَرَفًا وَكَرَمًا لَدَيْهِ. لِأَنَّ هَذَا الشَّهْرَ الْعَظِيمَ قَدْ ظَهَرَ فِيهِ الْخَيْرُ الْعَمِيمُ وَطَلَعَ فِيْهِ سَعْدُ السُّعُودِ، بِإِشْرَاقِ طَلْعَةِ نَبِيِّنَا السَّنِيَّةِ عَلَى الْوُجُودِ …وَلَا زَالَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ يَحْتَفِلُوْنَ بِشَهْرِ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَعْمَلُوْنَ الْوَلَائِمَ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ لَيَالِيَهُ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ بِهِ وَيَزِيْدُونَ فِي الْمَبَرَّاتِ، وَيَعْتَنُونَ بِقِصَّةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ
“Ketahuilah, pada bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak puasa dan membaca selawat kepada Nabi kita, pemimpin seluruh manusia, semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam kepadanya serta menambah kemuliaan dan kehormatan beliau di sisi-Nya. Sebab, pada bulan yang agung ini telah tampak kebaikan yang melimpah dan terbit keberuntungan yang besar dengan hadirnya cahaya Nabi kita yang mulia ke alam semesta. Sejak dahulu, kaum muslimin memuliakan bulan kelahiran Nabi Saw. Mereka mengadakan jamuan, bersedekah pada malam-malamnya dengan berbagai bentuk sedekah, menunjukkan kegembiraan, memperbanyak amal kebajikan, serta memberikan perhatian terhadap kisah kelahiran beliau. Dari amalan tersebut tampak berbagai limpahan kebaikan dan keberkahan.”
Berdasarkan keterangan tersebut, terdapat tiga amalan yang dapat diperbanyak umat Islam pada bulan Maulid, yakni memperbanyak selawat, melaksanakan puasa, dan memperingati Maulid Nabi Saw.
Memperbanyak selawat
Memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Saw menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Rabiul Awal. Selawat merupakan doa dan bentuk penghormatan seorang Muslim kepada Rasulullah Saw.
Perintah berselawat disebutkan secara langsung dalam QS. Al-Ajzab: 56. Allah Swt berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Keutamaan selawat juga disebutkan dalam hadis. Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“Barang siapa berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali kebaikan, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR Ahmad).
Keutamaan selawat juga dijelaskan Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin. Ia menjelaskan adanya keistimewaan dalam perintah berselawat kepada Nabi Saw.
فَفِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ بِهَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ صَلَّى عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوَّلًا، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ يُصَلُّوا عَلَيْهِ، فَثَبَتَ بِهَذَا أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ
“Dalam berbagai ibadah lainnya, Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Tetapi dalam hal berselawat kepada Nabi Saw, Allah terlebih dahulu berselawat kepada beliau, kemudian memerintahkan para malaikat-Nya untuk berselawat kepadanya, lalu memerintahkan orang-orang beriman agar turut berselawat kepada beliau. Dari sini dapat dipahami bahwa berselawat kepada Nabi Saw memiliki kedudukan yang sangat utama di antara berbagai bentuk ibadah.”
Memperbanyak selawat pada bulan Rabiul Awal menjadi salah satu bentuk pengamalan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Amalan ini dapat dilakukan secara rutin dalam berbagai kesempatan.
Melaksanakan puasa
Puasa menjadi amalan berikutnya yang dapat dilakukan pada bulan Rabiul Awal. Salah satu dasarnya terdapat dalam kebiasaan Rasulullah Saw melaksanakan puasa pada hari Senin.
Ketika ditanya mengenai alasan berpuasa pada hari Senin, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kelahiran beliau sekaligus hari ketika beliau mendapatkan wahyu.
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
“Nabi Saw ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab: Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu.” (HR Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan hubungan antara puasa Senin dan peristiwa kelahiran Rasulullah Saw. Puasa menjadi salah satu bentuk ibadah yang dilakukan Rasulullah Saw untuk menyikapi hari yang memiliki makna khusus dalam perjalanan kenabian beliau.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menjelaskan kandungan hadis tersebut dalam kitabnya.
وَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَتْ عَلَيَّ فِيْهِ النُّبُوَّةُ، إِشَارَةٌ إِلَى اسْتِحْبَابِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الَّتِي تَتَجَدَّدُ فِيْهَا نِعَمُ اللهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ. فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ إِظْهَارُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَبَعْثَتُهُ، وَإِرْسَالُهُ إِلَيْهِمْ… فَصِيَامُ يَوْمٍ تَجَدَّدَتْ فِيْهِ هَذِهِ النِّعَمُ مِنَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ حَسَنٌ جَمِيلٌ، وَهُوَ مِنْ بَابِ مُقَابَلَةِ النِّعَمِ فِي أَوْقَاتِ تَجَدُّدِهَا بِالشُّكْرِ
“Dalam sabda Nabi Saw saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari ketika aku dilahirkan dan pada hari itu pula kenabian diturunkan kepadaku. Hadis ini mengisyaratkan anjuran berpuasa pada hari-hari ketika nikmat Allah Ta’ala kembali dikenang dan diperbarui bagi para hamba-Nya. Sebab, di antara nikmat Allah yang paling agung bagi umat ini adalah diutus dan dihadirkannya Nabi Muhammad SAW kepada mereka sebagai rasul. Karena itu, berpuasa pada hari yang menjadi momentum datangnya nikmat-nikmat tersebut merupakan amalan yang baik dan terpuji. Hal ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat Allah pada waktu ketika nikmat itu kembali dikenang dan dirasakan.”
Puasa, terutama puasa Senin, dapat menjadi salah satu amalan yang dilakukan selama bulan Maulid. Amalan tersebut berkaitan dengan kebiasaan Rasulullah Saw dalam menjalankan puasa pada hari kelahiran beliau.
Memperingati Maulid Nabi Saw
Peringatan Maulid Nabi Saw menjadi salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah Saw. Kegiatan tersebut biasanya diisi dengan berbagai ibadah dan amal kebajikan.
Dalam pelaksanaannya, peringatan Maulid dapat berupa pembacaan Al-Qur’an, kisah kelahiran dan perjalanan Rasulullah Saw, selawat, sedekah, serta penyediaan makanan bagi jemaah. Berbagai kegiatan tersebut dilaksanakan dalam satu rangkaian majelis untuk mengenang kelahiran Nabi Saw.
Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Husnul-Maqshud fil-’Amal al-Maulidi menjelaskan mengenai bentuk peringatan Maulid yang diisi dengan kegiatan tersebut.
أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطًا يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِهِ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّرِيْفِ
“Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi Saw serta tanda-tanda yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Setelahnya, dihidangkan makanan untuk disantap bersama. Kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut. Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi Saw serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia.”