Ikhbar.com: Banyak orang membaca Ayat Kursi (QS Al-Baqarah: 255) sebagai rutinitas. Namun, sebagian belum memahami cara mengamalkannya secara tepat dan konsisten. Dalam tradisi pesantren, ayat ini diyakini memiliki faidah besar sebagai perlindungan diri sekaligus penguat hubungan murid dengan guru.
Hal tersebut ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Dr. KH Maman Imanulhaq, dalam “Serial Kajian Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadaratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari (Season 4)” di Aula Lantai 1 Kantor DPP PKB, Jakarta.
“Saya ingin mengijazahkan ayat kursi kepada semua yang hadir dan yang menyimak. Dan saya dapat ijazah ini langsung dari Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid),” ujarnya, dikutip pada Selasa, 3 Maret 2026.

Baca: Riwayat Kedekatan Gus Dur dan Kiai Maman
Kiai Maman, sapaan yang dikenal luas, kemudian memandu pembacaan Ayat Kursi secara lengkap.
Allah Swt berfirman:
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Setelah dibaca satu kali, lanjut Kiai Maman, bagian penutup diminta diulang tiga kali sebelum dilanjutkan dengan doa.
“Baca ayat kursi ini… dibaca tiga kali ‘Wa lā ya’ūduhū ḥifẓuhumā wa Huwa al-‘Aliyyu al-‘Aẓīm’, setelah itu langsung baca ‘Allāhumma ihfaẓnā wa asātīżanā. Ya Allah jagalah kami dan jagalah guru-guru kami’,” tuturnya.
Baca: Tutorial Sowan ke Pesantren, Kiai Maman Ingatkan Santri hanya Boleh Ketuk Pintu Tiga Kali
Menurut Kiai Maman, pengulangan bagian akhir tersebut memiliki alasan. Amalan itu dijalankan sebagai permohonan perlindungan kepada Allah sekaligus ikhtiar menjaga diri dan lingkungan.
Anggota Komisi VIII DPR RI tersebut juga menekankan pentingnya menyertakan doa untuk guru dalam setiap amalan. Dalam kajian kitab yang membahas adab murid kepada guru, mendoakan guru dipandang sebagai bagian dari menjaga keberkahan ilmu. Hubungan murid dengan guru tidak berhenti di ruang belajar. Ikatan itu berlanjut melalui doa.
Kiai Maman mengingatkan bahwa amalan yang dibaca dengan kesadaran dan adab akan memberi dampak lebih kuat dibanding rutinitas tanpa pemahaman. Ayat Kursi, menurutnya, dibaca karena kandungan tauhid dan nilai penjagaan di dalamnya.
Kiai Maman juga mengingatkan agar kecintaan kepada ulama tetap berada dalam koridor ajaran Islam. Penghormatan kepada guru harus berjalan seiring dengan komitmen pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Dengan membagikan ijazah Ayat Kursi, Kiai Maman berharap jamaah menjadikannya amalan rutin, terutama pada bulan Ramadan, sebagai perlindungan diri sekaligus penguat hubungan dengan guru.
“Dalam tradisi pesantren, bacaan, doa, dan adab menjadi satu kesatuan yang tidak dipisahkan,” katanya.