Siaga Dampak El Nino, Belajar dari Mitigasi Bencana dan Pangan Para Nabi

Kisah Nabi Yusuf AS menunjukkan bagaimana persediaan pangan dikelola ketika menghadapi tujuh tahun masa subur sebelum memasuki tujuh tahun paceklik.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026 kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman terhadap sektor pangan. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dampak El Nino tidak berhenti pada kekeringan, tetapi juga memengaruhi produksi pertanian, perkebunan, peternakan, hingga kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor tersebut.

Pakar kelautan dan perikanan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi kekeliruan saat menghadapi El Nino pada 2023. Menurut Anggota Komisi IV DPR RI itu, dampaknya berujung pada meningkatnya impor beras sehingga pengalaman tersebut semestinya menjadi pelajaran penting dalam menyusun langkah antisipasi yang lebih matang.

“Kita tahun lalu itu waktu El Nino 2023, pemerintah waktu itu agak menggampangkan. Dampaknya luar biasa. Kita terpaksa mengimpor beras tahun 2024 hampir 5 juta ton. Bayangkan,” ujar Prof. Rokhmin dalam Talk Highlight di Radio Elshinta, dikutip pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Baca: 5 Indikator Ketahanan Pangan menurut Prof. Rokhmin

Ketahanan pangan tak melulu soal beras

Prof. Rokhmin menilai keberhasilan menghadapi El Nino tidak boleh diukur hanya dari besarnya stok beras nasional. Menurutnya, yang lebih penting ialah kemampuan menjaga produktivitas seluruh komoditas pangan agar tidak menurun akibat kekeringan, kenaikan suhu, maupun kebakaran hutan.

Pangan, kata mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, mencakup jagung, kedelai, sayuran, buah-buahan, hasil perkebunan, peternakan, hingga perikanan. Seluruh sektor tersebut saling berkaitan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Karena itu, pemerintah perlu memetakan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, memperbaiki jaringan irigasi, membangun embung, memanen air hujan, serta memastikan distribusi logistik berjalan baik agar wilayah yang mengalami defisit tetap memperoleh pasokan pangan.

Prinsip tersebut sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an yang mengajarkan pentingnya mempersiapkan masa depan melalui ikhtiar yang terencana.

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

“(Yusuf) berkata, ‘Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yūsuf: 47)

Ayat tersebut menggambarkan pentingnya perencanaan, penyimpanan hasil panen, dan kesiapan menghadapi masa sulit. Nilai itu tetap relevan dalam menjawab tantangan perubahan iklim saat ini.

Anggota DPR RI sekaligus Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri. Dok IST

Baca: Taktik Nabi Yusuf di Masa Paceklik

Strategi Nabi Yusuf dan Nabi Nuh

Dalam pandangan Pembina Pondok Pesantren Al-Muflihin Gebang, Cirebon tersebut, ajaran Islam telah lama memberikan teladan mengenai mitigasi bencana dan manajemen pangan. Kisah Nabi Yusuf AS menunjukkan bagaimana persediaan pangan dikelola ketika menghadapi tujuh tahun masa subur sebelum memasuki tujuh tahun paceklik.

Prof. Rokhmin menilai pelajaran tersebut layak menjadi inspirasi dalam membangun sistem pangan nasional yang lebih tangguh.

“Nabi Yusuf adalah manusia pertama di bumi yang mengeluarkan jurus manajemen stok pangan dan pascapanen supaya tidak terjadi kelebihan dan kekurangan,” katanya.

Selain itu, kisah Nabi Nuh AS juga menunjukkan bahwa ikhtiar harus dilakukan jauh sebelum bencana datang. Nabi Nuh AS membangun bahtera ketika banjir belum terjadi sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah sekaligus wujud kesiapsiagaan menghadapi musibah.

Semangat tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah Muhammad Saw yang mengajarkan agar setiap ikhtiar dilakukan secara sungguh-sungguh sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Nabi Saw bersabda:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi)

Pesan tersebut menggambarkan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha. Ikhtiar yang maksimal merupakan bagian dari ajaran Islam.

Baca: Awal Mula Banjir Besar di Masa Nabi Nuh

Doa dan ikhtiar berjalan beriringan

Prof. Rokhmin menilai masyarakat tidak boleh memisahkan usaha dan doa dalam menghadapi ancaman El Nino. Persiapan teknis tetap diperlukan melalui pembangunan infrastruktur air, perbaikan irigasi, peningkatan kapasitas petani, hingga penguatan koordinasi antarlembaga.

Di sisi lain, umat beragama dianjurkan memperbanyak doa agar Allah Swt memberikan perlindungan dari berbagai bencana.

“Etos atau akhlak Islam yang benar itu manusia punya dua hak yang harus dilaksanakan, yaitu hak berikhtiar dan berdoa. Tetapi hasil harus diserahkan kepada Allah, tawakal,” ujar Prof. Rokhmin.

Menurutnya, keseimbangan tersebut membuat seseorang tetap optimistis dalam bekerja tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah meskipun hasil yang diperoleh tidak selalu sesuai harapan.

Baca: Analogi Masuk Akal Ikhtiar dan Tawakal ala Buya Said Aqil

Mengubah cara berpikir menghadapi krisis

Prof. Rokhmin juga menyoroti lemahnya koordinasi antarkementerian maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Padahal, data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah tersedia jauh sebelum puncak El Nino sehingga dapat menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi.

Selain memperkuat koordinasi, Indonesia juga dinilai perlu memperbaiki cara berpikir dalam merancang kebijakan. Pengalaman menghadapi El Nino yang terus berulang selama puluhan tahun semestinya menjadi bahan evaluasi agar kebijakan tidak selalu bersifat reaktif.

“Kita lupa sejarah. Harusnya data historis menjadi pembelajaran cerdas supaya kita jangan seperti keledai, jatuh di lubang yang sama,” ujarnya.

Menurut Prof. Rokhmin, pemerintah perlu memperkuat budaya pencegahan daripada bergerak setelah dampaknya meluas. Upaya tersebut meliputi penyediaan cadangan air, peningkatan kualitas logistik pangan, pembangunan embung, hingga perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan.

Prof. Rokhmin optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan tersebut karena kekayaan sumber daya alam, pengalaman panjang menghadapi perubahan iklim, serta nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan pentingnya ikhtiar, perencanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

“Apabila seluruh unsur dapat bergerak selaras, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat, dampak El Nino dapat ditekan sekaligus menjadi momentum memperkuat ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.