Ikhbar.com: Puasa selama ini dipahami sebagai ibadah yang lekat dengan manusia, yakni menahan makan, minum, dan dorongan hawa nafsu sejak fajar hingga magrib. Dalam khazanah tasawuf, pengertiannya jauh lebih luas.
Imam Abu al-Mawahib ‘Abd al-Wahhab bin Ahmad al-Sya‘rani mengemukakan gagasan yang tajam. Seluruh makhluk, menurutnya, berada dalam keadaan puasa. Dalam Al-Fath al-Mubin fi Jumlah min Asrar al-Din aw Asrar Arkan al-Islam, Imam Al-Sya’rani menulis:
الْمَوْجُودَاتُ كُلُّهَا تَصُومُ
“Semua makhluk ada dalam keadaan puasa.”
Pernyataan tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan simbolik. Puasa dipandang sebagai hukum yang meliputi seluruh tatanan ciptaan, bukan ritual musiman.
Baca: Daftar Analogi Puasa dalam Kamus Sufi
Puasa sebagai hukum keterikatan
Imam Al-Sya‘rani menjelaskan:
ثُمَّ اعْلَمْ يَا أَخِي أَنَّ اعْتِبَارَ الصَّوْمِ عَامٌّ فِي الْمَوْجُودَاتِ كُلِّهَا، قَدْ شَمِلَهَا جَمِيعًا، فَإِنَّ الصَّوْمَ مِنْ مَعَانِيهِ إِمْسَاكُ جَمِيعِ الْمَوْجُودَاتِ وَتَقْيِيدُهَا عَنِ الْخُرُوجِ عَنْ وَظَائِفِهَا الَّتِي قُيِّدَتْ بِهَا، فَإِذَا نَظَرْتَ إِلَى الْمَوْجُودَاتِ كُلِّهَا وَجَدْتَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهَا قَدْ لَزِمَ مَا قُيِّدَ بِهِ، وَأُمِرَ بِهِ
“Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa puasa berlaku umum atas seluruh makhluk. Salah satu maknanya adalah penahanan dan pembatasan agar setiap makhluk tidak keluar dari fungsi yang telah ditetapkan baginya. Jika diperhatikan, masing-masing terikat pada ketentuan dan perintah yang diberikan.”
Puasa, dalam pengertian ini, bermakna kepatuhan pada batas. Gunung tetap pada posisinya. Laut tidak melewati garis yang ditentukan. Matahari terbit dan tenggelam sesuai peredaran yang telah diatur. Segalanya berjalan dalam koridor perintah.
Imam Al-Sya‘rani menggambarkan keadaan tersebut:
فَتَرَى الثَّقِيلَ قَدْ أُمْسِكَ فِي مَقَامِهِ لَا يَنْتَقِلُ، وَالْخَفِيفَ لَا يَصْعَدُ مِنْ مَقَامِهِ، فَكُلُّ شَيْءٍ مَزْمُومٌ بِزِمَامِ الْأَمْرِ، وَمُمْسَكٌ بِإِمْسَاكِ الَّذِي يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا، وَذَلِكَ صِيَامٌ كُلُّهُ فِي حَقِّ كُلِّ مَوْجُودٍ مِمَّا يُنَاسِبُ كُلَّ مَوْجُودٍ
“Engkau akan melihat yang berat tertahan di tempatnya dan tidak berpindah, yang ringan tidak naik dari posisinya. Segala sesuatu terikat oleh tali perintah dan berada dalam genggaman Zat yang menahan langit dan bumi agar tidak bergeser. Itulah puasa setiap makhluk sesuai dengan hakikatnya.”
Keteraturan alam itulah bentuk puasa. Tidak ada unsur yang berjalan di luar hukum yang mengaturnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang dikutip dalam teks tersebut menguatkan penjelasan ini. Allah Swt berfirman:
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللّٰهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
“Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah? Padahal, hanya kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (QS. Āli ‘Imrān: 83)
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).” (QS. Āli ‘Imrān: 19)
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Āli ‘Imrān: 85)
Dalam penjelasan Imam Al-Sya‘rani, Islam menunjuk pada kepasrahan total kepada hukum Allah. Seluruh alam telah berada dalam kepatuhan tersebut. Mereka berpuasa dengan cara tidak melampaui batas penciptaan.
Baca: Apakah Allah Pernah Tersenyum?
Pengecualian dua makhluk
Imam Al-Sya‘rani kemudian membawa pembahasan ini ke dimensi yang lebih dalam:
فَصَوْمُ الْعَالَمِ ضَبْطُهُ نَفْسَهُ، وَإِمْسَاكُهُ ذَاتَهُ بِانْحِيَازِهِ إِلَى بَارِئِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، خُضُوعًا لِحُكْمِ الْأَمْرِ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا، وَالِانْقِبَاضُ عَنْ أَنْ يَسْتَرِقَّهُ شَيْءٌ غَيْرُ اللَّهِ تَعَالَى
“Puasa alam semesta adalah kemampuan menahan diri dengan berpihak kepada Penciptanya, tunduk pada ketentuan-Nya, baik secara sukarela maupun terpaksa, serta tidak membiarkan diri diperbudak oleh selain Allah.”
Puasa berarti membebaskan diri dari penguasaan selain Allah. Seluruh makhluk selain manusia dan jin berada dalam keadaan tersebut tanpa pilihan.
Imam Al-Sya‘rani menegaskan:
وَهَذَا إِذَا نَظَرْتَهُ بِحَقِيقَةِ النَّظَرِ وَجَدْتَهُ عَامًّا فِي جَمِيعِ جَوَاهِرِ الْعَالَمِ كُلِّهِ، كَوْنًا وَشَرْعًا، وَحَالًا وَمَقَالًا، إِلَّا الثَّقَلَيْنِ، فَإِنَّهُمَا خَالَفُوهُ شَرْعًا وَكَوْنًا
“Jika dilihat secara mendalam, puasa ini berlaku atas seluruh unsur alam, baik secara kausal maupun syariat, dalam keadaan maupun pernyataan, kecuali dua makhluk, yaitu manusia dan jin, karena keduanya dapat menyimpang secara syariat dan kausal.”
Manusia dan jin memiliki kehendak. Dari situlah kemungkinan pembangkangan muncul. Alam tunduk tanpa ruang penolakan. Manusia dapat keluar dari garis yang ditetapkan. Puasa Ramadan hadir sebagai sarana mengembalikan manusia pada keteraturan tersebut.
Dalam teks yang sama disebutkan:
وَلِهَذَا وَرَدَ فِي الْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى فِي كُلِّ رَمَضَانَ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ لِانْقِطَاعِهِمْ عَنْ أَسْبَابِ الْهَوَى الَّتِي اسْتَرَقَتِ الْخَلْقَ، إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ، وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dalam riwayat-riwayat sahih disebutkan bahwa pada setiap Ramadan Allah membebaskan hamba-hamba dari neraka karena mereka memutus sebab-sebab hawa nafsu yang memperbudak makhluk, kecuali yang dikehendaki Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Di sini tampak kaitan antara puasa manusia dan tatanan alam. Alam tidak dikuasai hawa nafsu. Manusia kerap jatuh dalam pengaruhnya. Ramadan memberi ruang untuk memutus ketergantungan tersebut.
Baca: Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 183: Cara Puasa Umat Terdahulu
Kembali selaras dengan tatanan alam
Jika seluruh alam telah berpuasa dalam arti tunduk dan menjaga batas, Ramadan menjadi kesempatan bagi manusia untuk menyelaraskan diri dengan hukum itu. Puasa melatih pengendalian dorongan yang mendorong manusia keluar dari perannya sebagai hamba.
Gunung tidak melampaui tempatnya. Laut tidak menuntut lebih dari garisnya. Matahari tidak keluar dari edarannya. Semua berada dalam kendali bi-zimāmi al-amr (dengan tali perintah). Dalam ungkapan Imam Al-Sya‘rani, semuanya mamsūk (tertahan) oleh Allah yang mengendalikan langit dan bumi agar tidak bergeser.
Manusia sering bergerak melampaui batas karena kebebasan yang dimiliki. Puasa menjadi latihan untuk menahan diri dan kembali pada ketentuan yang telah digariskan.