BUMA Jadi Agregator Usaha Kader, Ini Model Bisnis yang Sedang Dikembangkan GP Ansor

GP Ansor meluncurkan program strategis “Kelompok Usaha Gotong Royong” yang bergerak serentak di 22.800 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia, di Dome Bale Rame, Kabupaten Bandung, 17 Oktober 2025. Dok BUMA GROUP

Ikhbar.com: Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor menempatkan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi kader sekaligus membangun kemandirian organisasi. BUMA dirancang sebagai entitas bisnis profesional yang terpisah dari kerja-kerja struktural Ansor yang bersifat nirlaba, akan tetapi tetap berakar pada nilai dan kepentingan organisasi.

CEO PT Aneka Media Raya (salah satu unit usaha di bawah BUMA), Coki Lubis, menjelaskan bahwa pembentukan BUMA berangkat dari pembacaan langsung atas kondisi ekonomi kader di lapangan. Dalam berbagai pertemuan daerah, Coki menemukan fakta bahwa sebagian kader, termasuk anggota Banser, masih menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga.

“Ini yang menggelitik, kesejahteraan kader memang sudah harus dibangun,” kata Coki saat menjadi narasumber program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “BUMA & Media: Arah Baru Gerakan Ansor dan Pesantren” di Ikhbar TV, dikutip pada Selasa, 20 Januari 2026.

Baca: Membangun Kelas Menengah Baru: Menilik Strategi Kemandirian Ekonomi GP Ansor dan Pesantren

Menurut Coki, BUMA tidak dimaksudkan menjadi korporasi murni yang berdiri jauh dari organisasi. Seluruh saham perusahaan tetap dimiliki Ansor, tetapi pengelolaannya dilakukan secara profesional agar mampu bermitra dengan dunia usaha tanpa hambatan struktural.

“Model ini memungkinkan kerja sama dilakukan secara business to business (b-to-b) tanpa mengganggu aktivitas organisasi,” ujarnya.

Pemerhati media sekaligus CEO PT Aneka Media Raya, Coki Lubis (Kanan), saat menjadi narasumber dalam dalam program Sinikhbar | Siniar Ikhbar bertajuk “BUMA & Media: Arah Baru Gerakan Ansor dan Pesantren” di Ikhbar TV. Dok IKHBAR

Dalam praktiknya, BUMA mengambil peran sebagai agregator usaha kader. Berbagai unit usaha yang telah tumbuh di daerah, mulai dari jasa perjalanan, perdagangan komoditas, hingga layanan profesional, tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. BUMA hadir sebagai pusat pengelolaan yang menghubungkan usaha-usaha tersebut dengan jaringan pasar, pembiayaan, dan kolaborasi yang lebih luas.

“Aktivasi potensi yang ada di Ansor sebenarnya sudah berjalan, bukan tidak ada,” kata Coki.

Tantangannya, lanjut dia, selama ini potensi tersebut berkembang secara terpisah dan sulit naik kelas karena tidak terhubung dalam satu ekosistem ekonomi yang tertata.

Untuk itu, BUMA memfokuskan diri pada pengembangan sumber daya manusia profesional di sejumlah sektor strategis. Industri dan manufaktur, teknologi informasi dan digital, multimedia dan industri kreatif, keuangan dan perpajakan, perdagangan komoditas, pariwisata, hingga koperasi dan kewirausahaan menjadi bidang garapan utama. Pendekatan ini menegaskan bahwa penguatan ekonomi kader tidak berhenti pada usaha skala kecil, tetapi diarahkan agar mampu masuk ke sektor dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sejumlah entitas usaha telah berada di bawah naungan BUMA, antara lain PT Sahabat Kokoh Teknologi, PT Aneka Media Raya, PT Taxfos Nusantara Utama, PT Sahabat Bintang Perkasa, serta PT Sorban Nusantara Utama yang bergerak di bidang perjalanan wisata.

“Keberagaman portofolio ini mencerminkan arah BUMA yang tidak bergantung pada satu sektor dan membangun fondasi ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan,” kata Coki.

Baca: Mengapa Pesantren Perlu Terhubung dengan Jaringan Global?

Selain mengelola perusahaan, BUMA juga menjalankan fungsi pengembangan kapasitas kader. Program pelatihan dan sertifikasi disiapkan melalui kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk pendirian Ansor University. Materi pelatihan mencakup bidang ekonomi dan bisnis, agribisnis, perpajakan, keuangan, hingga sektor pariwisata dan kelautan, yang dapat diakses oleh individu maupun komunitas kader.

Coki menegaskan bahwa pengembangan BUMA tidak berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Pendekatan yang ditempuh mencakup pengelolaan aset, pengembangan investasi, serta pemberdayaan desa dan penguatan kedaulatan pangan berbasis lokal. Dengan pola ini, BUMA diharapkan menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan kader, desa, dan organisasi dalam satu ekosistem yang saling menopang.

Bagi GP Ansor, BUMA diposisikan sebagai alat konsolidasi ekonomi kader.

“Kalau ekonomi kader kuat, organisasi akan lebih mandiri, dan gerakan bisa berjalan dengan lebih leluasa,” ujar Coki.

Obrolan selengkapnya bisa disimak di:

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.