DNA Adidaya Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Arsitek Peradaban Abbasiyah

Sejarah Iran merupakan narasi panjang tentang daya tahan.
Ilustrasi. Olah Digital oleh IKHBAR

Ikhbar.com: Langit Teheran dan sejumlah kota strategis Iran belakangan diwarnai deru proyektil serta ketegangan militer akibat gesekan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Di balik agresi modern tersebut, terlihat respons yang bagi banyak pengamat Barat terasa ganjil. Masyarakat di dataran tinggi ini tidak bereaksi seperti negara yang berada di ambang kehancuran.

Ketangguhan ini tidak lahir dari kekosongan politik pascarevolusi 1979. Ketangguhan tersebut merupakan hasil akumulasi panjang kesinambungan peradaban yang mampu menyerap sekaligus menguasai struktur kekuasaan yang datang silih berganti.

Sejarawan sekaligus profesor studi Iran di Harvard University, AS, Richard Nelson Frye, dalam The Golden Age of Persia (1975), menyebut Iran sebagai “a continuous cultural entity”, yakni entitas budaya yang tetap berlanjut meskipun mengalami pergantian kekuasaan dan agama.

Dengan sudut pandang ini, Iran melihat dirinya sebagai kelanjutan peradaban yang panjang. Dalam kajian sosiologi, hal ini sejalan dengan konsep resistance identity yang dikemukakan sosiolog Spanyol, Manuel Castells dalam The Power of Identity (1997), yaitu identitas yang dibangun kelompok tertekan dengan bertumpu pada sejarah dan memori kolektif sebagai benteng perlawanan.

Sejarah Iran merupakan narasi panjang tentang daya tahan. Entitas budaya ini tetap bertahan meskipun menghadapi penaklukan berulang, mulai dari invasi Arab pada abad ke-7 hingga tekanan geopolitik modern.

Baca: Asal-usul Selat Hormuz: Dari Nama Dewa hingga Kisah Khalid bin Walid Tumbangkan Penguasa Persia

Akar hegemoni dan cetak biru imperium

Jauh sebelum Islam lahir, Persia telah menetapkan standar negara adidaya melalui Kekaisaran Akhemeniyah.

Sejarawan Yunani klasik, Herodotus (abad ke-5 SM), dalam Histories, mencatat bahwa di bawah Darius I, Persia membangun Royal Road yang membentang dari Susa ke Sardis sepanjang kurang lebih 2.699 kilometer. Jalan ini memungkinkan sistem kurir kerajaan mengirim pesan hanya dalam sembilan hari, jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan biasa yang bisa mencapai tiga bulan.

Dalam deskripsinya yang terkenal, Herodotus menulis, “Neither snow nor rain nor heat nor gloom of night stays these couriers…” (Tak ada salju, hujan, panas, atau gelap malam yang menghalangi para kurir ini), menggambarkan efisiensi sistem komunikasi imperium tersebut.

Selain logistik, Persia menunjukkan kecanggihan ekonomi. Darius I memperkenalkan koin emas Darik dan perak Siglos dengan standar kemurnian tinggi. Studi tentang mata uang Akhemeniyah menunjukkan bahwa koin ini menjadi alat tukar internasional selama lebih dari satu abad dan membangun kepercayaan dalam sistem perdagangan.

Di bidang administrasi, sistem satrapi memungkinkan pembagian wilayah ke dalam provinsi dengan otonomi terbatas, tetapi tetap berada dalam kendali pusat. Model ini terbukti efektif dalam mengelola wilayah luas dan kemudian menginspirasi sistem pemerintahan setelahnya, termasuk dalam administrasi Islam awal.

Memasuki era Sassanid (205–651 M), struktur ini berkembang menjadi lebih terpusat dan kompleks. Dalam Encyclopaedia Iranica, kelas birokrat dabīr dijelaskan sebagai tulang punggung administrasi negara yang dilatih secara ketat dan berperan menjaga stabilitas pemerintahan. Setelah Persia ditaklukkan oleh pasukan Muslim, sistem administratif ini tidak dihapus, melainkan dipertahankan dan diadaptasi.

Baca: Taktik Geopolitik Nabi

Perjumpaan strategis dengan energi Islam

Perjumpaan Persia dengan Islam berlangsung melalui proses integrasi yang produktif.

Salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw, Salman Al-Farisi, menjadi simbol penting dalam proses ini. Dalam Sirah Ibn Hisham, karya Imam Abd al-Malik Ibn Hisham (wafat 218 H), yang merujuk pada riwayat Ibn Ishaq, disebutkan bahwa Salman mengusulkan strategi penggalian parit dalam Perang Khandaq tahun 627 M.

Strategi Khandaq yang berasal dari tradisi militer Persia ini menjadi faktor kunci yang menggagalkan serangan koalisi terhadap Madinah.

Setelah fase penaklukan, pengaruh Persia semakin kuat dalam sistem pemerintahan Islam. Sejarawan besar Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Tabari (wafat 310 H), dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, mencatat bahwa kekalahan Persia dalam Perang Al-Qadisiyyah (636 M) dan Nihawand (642 M) mengakhiri kekuasaan politik Sassanid, tetapi tidak menghapus sistem administratifnya.

Khalifah Umar bin Khattab mengadopsi institusi Diwan, yang berasal dari istilah Persia “dpywʾn”, sebagai sistem pencatatan negara untuk mengatur gaji tentara dan administrasi pajak. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak diikuti penghapusan sistem, melainkan pengambilalihan dan penyesuaian.

Baca: Gelap-Terang Sejarah Abbasiyah

Arsitek kejayaan dan dominasi intelektual

Setelah kekuasaan politik berpindah, pengaruh Persia menguat di ranah intelektual.

Sejarawan Muslim klasik, Abd al-Rahman Ibn Khaldun (wafat 808 H), dalam Al-Muqaddimah, menyatakan bahwa mayoritas ulama dalam peradaban Islam berasal dari kalangan non-Arab, khususnya Persia.

Ibn Khaldun menulis, “Ahl al-‘ilm fi al-Islam aktharuhum min al-‘ajam” (Mayoritas ahli ilmu dalam Islam berasal dari non-Arab), sebuah pengakuan atas dominasi intelektual Persia dalam dunia Islam.

Fakta ini terlihat pada tokoh-tokoh seperti Sibawaih, penulis Al-Kitab dalam bidang tata bahasa Arab, Imam Abu Hanifah sebagai pendiri mazhab Hanafi dengan garis keturunan Persia, serta Ibnu Sina yang karya medisnya Al-Qanun fi al-Tibb menjadi rujukan global selama berabad-abad.

Dominasi ini mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah. Sejarawan Muslim Ali ibn al-Husain al-Mas‘udi (wafat 346 H), dalam Muruj al-Dhahab, mencatat peran penting elite Persia dalam struktur kekuasaan Abbasiyah.

Keluarga Barmakid muncul sebagai aktor kunci dalam birokrasi negara. Mereka mengelola administrasi sekaligus menjadi patron ilmu pengetahuan dengan mendukung perkembangan Bayt al-Hikmah di Baghdad. Dari sini berkembang tradisi penerjemahan besar-besaran karya Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab.

Momentum ini diperkuat oleh penyebaran teknologi kertas setelah Pertempuran Talas (751 M). Kehadiran kertas membuat produksi buku lebih murah dan luas, sehingga penyebaran ilmu pengetahuan berlangsung cepat dan mendorong lahirnya Zaman Keemasan Islam.

Baca: Jejak Muslim Terbangkan Pamor Kertas

Resiliensi kontemporer dan masa depan

Dalam konteks masa kini, pola historis tersebut masih terlihat.

Kajian geopolitik modern menunjukkan bahwa wilayah pengaruh Iran saat ini yang meliputi Irak, Suriah, dan Lebanon memiliki kemiripan dengan wilayah strategis Imperium Sassanid dalam menghadapi Bizantium. Hal ini menunjukkan kesinambungan cara pandang geopolitik yang panjang.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, Iran menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam produksi ilmiah dan menjadi salah satu negara dengan perkembangan cepat dalam beberapa dekade terakhir. Di sektor kedirgantaraan, kemampuan meluncurkan satelit secara mandiri sejak 2009 menjadi indikator kapasitas teknologi strategis yang terus berkembang.

“DNA Adidaya” Iran bekerja melalui perpaduan resiliensi institusional, adaptabilitas intelektual, dan memori sejarah yang panjang.

Sejarah Persia tidak berhenti saat kekuasaan runtuh. Sejarah tersebut bertransformasi, masuk ke dalam struktur Islam, lalu membentuk ulang wajah peradaban dari dalam.

Iran hari ini merupakan kelanjutan dari proses panjang tersebut, sebuah peradaban yang berulang kali jatuh secara politik, tetapi tetap bertahan secara kultural. Dari Persepolis hingga pusat riset modern, garisnya tetap terjaga, berubah bentuk tanpa kehilangan inti.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.