Ikhbar.com: Hingga April 2026, ketegangan di Selat Hormuz belum benar-benar mereda. Sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, perairan sempit yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini terus menjadi titik konflik antara kekuatan Barat, Amerika Serikat (AS)-Israel, dan Iran. Ancaman penutupan jalur tersebut menjadi kartu geopolitik yang kerap dimainkan Teheran saat tekanan dari Barat meningkat.
Setiap hari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi celah laut selebar 54 kilometer itu. Selat Hormuz merupakan titik krusial dalam perekonomian global. Penutupan jalur ini, meski hanya sehari, dapat mengguncang harga energi di berbagai belahan dunia.
Di balik dinamika politik modern, muncul pertanyaan yang jarang dibahas, dari mana asal nama “Hormuz”?
Sebagian sejarawan menelusurinya ke akar kepercayaan Persia kuno, yakni nama dewa cahaya dalam tradisi Zoroaster. Sebagian lain mengaitkannya dengan Kerajaan Hormuz yang berjaya antara abad ke-11 hingga ke-17.
Ada pula versi dalam tradisi sejarah Islam, yaitu kisah seorang penguasa Persia dengan mahkota bernilai seratus ribu dirham, serta duel mautnya dengan sosok yang dijuluki “Pedang Allah”, Khalid bin Walid.
Baca: Sebulan Perang AS-Israel vs Iran, 3.206 Orang Tewas
Penguasa bermahkota seratus ribu dirham
Di Kekaisaran Sassanid, kehormatan bangsawan tidak diukur dari luas wilayah, melainkan dari nilai mahkota yang dikenakan. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi pula kedudukannya di hadapan kaisar.
Hormuz, seorang Marzban atau gubernur perbatasan wilayah Dast Meisan dan pelabuhan Uballa (dekat Basra modern), mengenakan qalansuwah (mahkota) senilai seratus ribu dirham. Posisi tersebut menempatkannya tepat di bawah kaisar dalam hierarki kekuasaan.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa orang-orang Persia menetapkan nilai topi kebesaran berdasarkan garis keturunan dan kedudukan.
“Barangsiapa yang kemuliaannya telah sempurna, maka nilai topinya adalah seratus ribu dirham. Dan Hormuz termasuk orang yang kemuliaannya telah sempurna.”
Jika dikonversi dengan nilai saat ini, seratus ribu dirham perak setara lebih dari Rp4 miliar. Mahkota itu menjadi simbol kekuasaan sekaligus penegasan status sosial.
Reputasi Hormuz di kalangan masyarakat Arab perbatasan sudah dikenal sebelum perang pecah. Ia dikenal karena kekerasan dalam menghadapi suku-suku Arab di daratan dan armada dagang India di lautan.
Kebencian mereka terhadap Hormuz, bahkan melahirkan ungkapan “Akfar min Hormuz” (lebih kafir daripada Hormuz) dan “Akhbats min Hormuz” (lebih buruk daripada Hormuz). Nama Hormuz menjadi ukuran keburukan dalam pergaulan sehari-hari.
Baca: Sahabat Nabi Paling Pemberani, Abu Bakar atau Ali?
Surat dari “Pedang Allah”
Tahun 633 Masehi, pasukan Islam baru saja menyelesaikan perang melawan kelompok murtad di Jazirah Arab. Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq, khalifah pertama, kemudian mengarahkan perhatian ke wilayah Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Persia Sassanid yang mulai melemah akibat konflik panjang dengan Kekaisaran Byzantium. Khalid bin Walid ditugaskan memimpin ekspedisi tersebut.
Sebelum pertempuran dimulai, Khalid mengirim surat kepada Hormuz yang berbunyi:
“Maka masuklah ke dalam urusan kami (Islam), maka kami akan membiarkanmu dan tanahmu… Jika tidak, maka hal itu akan terjadi padamu meski kamu membencinya, melalui tangan kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”
Bagi Hormuz, surat tersebut merupakan penghinaan. Sebagai bangsawan tinggi dengan kekuasaan besar, ia tidak memandang pasukan Arab sebagai ancaman serius. Ia segera melaporkan situasi itu kepada kaisar dan mempersiapkan pasukan.
Dalam pandangannya, pasukan Arab hanyalah syirdzimah, alias kelompok kecil yang mudah dikalahkan.
Baca: Kisah Reshuffle Mengagumkan di Masa Kejayaan Islam
Duel maut di Kazhimah
Pertempuran pun meletus di Kazhimah, wilayah yang kini termasuk bagian utara Kuwait, pada bulan Muharram tahun 12 Hijriah. Peristiwa ini dikenal sebagai Dzatus Salasil atau “Pemilik Rantai”, merujuk pada strategi yang diterapkan Hormuz.
Ia memerintahkan prajuritnya untuk saling mengikat dengan rantai besi agar tidak melarikan diri. Tujuannya memperkuat barisan. Sejumlah komandan memperingatkan risiko besar jika pasukan harus mundur, tetapi peringatan itu diabaikan.
Sebelum pertempuran besar dimulai, Hormuz menantang Khalid untuk duel satu lawan satu di hadapan kedua pasukan. Khalid menerima tantangan tersebut. Meskipun, ternyata, Hormuz telah bersekongkol dengan pasukan pilihannya untuk menyerang secara tiba-tiba.
“Hormuz menantang Khalid untuk duel, sementara ia telah bersekongkol dengan rekan-rekannya untuk mengkhianati Khalid,” tulis Imam Ibnu Katsir.
Saat duel berlangsung, pasukan penyergap bergerak. Untungnya, tangan kanan Khalid bin Walid, Al-Qa’qa’ ibn Amr al-Tamimi membaca situasi lebih cepat. Ia segera menyerang kelompok tersebut sebelum sempat mengepung pemimpinnya itu. Dalam waktu yang sama, Khalid berhasil menjatuhkan Hormuz dan mengakhiri perlawanan dalam duel tersebut.
Mahkota senilai seratus ribu dirham itu kemudian jatuh ke tangan Khalid. Khalifah Abu Bakar menyerahkannya kembali kepada Khalid sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan tersebut.
Baca: Anak Kecil yang Tak Gentar dengan Khalifah Umar
Nama yang bertahan melampaui zaman
Kematian Hormuz menjadi titik balik dalam pertempuran. Strategi rantai yang dirancang untuk menjaga barisan justru berbalik menjadi jebakan ketika pasukan kehilangan kendali. Setelah pemimpinnya gugur, pasukan Persia tidak memiliki ruang untuk mundur.
Kemenangan di Kazhimah membuka jalan bagi penaklukan wilayah pesisir Teluk Persia dan menjadi awal melemahnya Kekaisaran Sassanid.
Nama “Hormuz” yang kini dikenal luas diduga berasal dari istilah yang lebih tua, yaitu Hormoz, turunan dari Ahura Mazda dalam kepercayaan Zoroaster. Ada juga pendapat yang mengaitkannya dengan Kerajaan Hormuz yang memindahkan pusat perdagangan ke pulau di selat tersebut pada masa berikutnya.
Nama tersebut kemungkinan telah ada jauh sebelum peristiwa di Kazhimah. Dalam tradisi sejarah Islam, nama itu kerap dikaitkan dengan sosok panglima Persia yang gugur dalam duel melawan Khalid bin Walid. Kisah tersebut turut memperkuat ingatan historis tentang kawasan yang hingga kini memegang peran penting dalam jalur energi dunia.