Ikhbar.com: Setiap kali kalender Hijriah mendekati Ramadan, perhatian umat hampir selalu tertuju pada bulan puasa. Agenda ibadah mulai disusun, target khataman tadarus Al-Qur’an ditetapkan, dan resolusi spiritual dirancang untuk diri sendiri.
Namun, ada satu tahapan penting yang kerap terlewat dari perhatian. Bulan ini sering dilalui tanpa jeda refleksi. Fase tersebut bernama Sya’ban.
Sya’ban jarang dijalani dengan kesadaran penuh. Ketika bulan ini dimulai, banyak orang segera melompatkan pikiran langsung ke bulan suci Ramadan. Nama Sya’ban bahkan hampir tidak sempat disebut secara utuh karena fokus sudah bergeser. Bulan ini dilewati tanpa diposisikan sebagai tahapan yang menentukan.
Padahal, dalam tradisi Nabi Muhammad Saw dan praktik generasi awal, Sya’ban diperlakukan sebagai masa kerja yang serius. Bulan ini berfungsi sebagai waktu penataan, pembersihan, serta penyelesaian berbagai urusan sebelum Ramadan datang dengan tuntutan ibadah yang lebih padat.
Baca: Amalan di Bulan-bulan jelang Ramadan
Mengapa kerap terlewat?
Penjelasan Rasulullah Muhammad Saw tentang posisi Sya’ban kerap dipahami secara tidak lengkap sebagai penanda “bulan yang dilupakan”.
Nabi Saw bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Syaban adalah bulan ketika manusia mulai lalai, yakni masa di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut merupakan waktu diangkatnya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Karena itu, aku sangat menyukai berpuasa saat amalanku diangkat.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Kelalaian yang dimaksud bukan menunjukkan rendahnya nilai Sya’ban, melainkan posisi bulan ini yang berada di antara dua fase besar. Tekanan justru muncul dari keberadaannya di antara Rajab dan Ramadan.
Sya’ban adalah bulan pengangkatan amal. Kesadaran inilah yang mendorong Rasulullah Saw memperbanyak puasa, sebagaimana dijelaskan Sayyidah Aisyah RA:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Rasulullah Saw biasa berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau juga berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dibandingkan puasa di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan dan Idulfitri 2026, Ini Jadwalnya!
Kesinambungan persiapan
Para ulama memosisikan Sya’ban sebagai bagian dari alur persiapan yang berkesinambungan. Abu Bakar Al-Balkhi RA, sebagaimana dikutip Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathā’if al-Ma‘ārif, menempatkan Sya’ban dalam satu rangkaian dengan bulan sebelum serta sesudahnya:
شَهْرُ رَجَبَ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.”
Rumusan tersebut menegaskan bahwa Sya’ban bukan pengulangan Rajab dan bukan pula versi ringkas Ramadan. Sya’ban berfungsi sebagai fase transisi yang menentukan. Tanpa persiapan pada bulan ini, kualitas ibadah Ramadan berisiko tidak seimbang.
Dalam tradisi salaf, Sya’ban dikenal sebagai Syahrul Qurra’. Salamah bin Kuhail meriwayatkan:
كَانَ يُقَالُ: شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ
“Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an.”
Selain Al-Qur’an, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan shalawat. Pada bulan inilah turun firman Allah Swt:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Rasulullah Saw juga bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Baca: Peran Kakek Buyut Nabi dalam Penamaan Syakban dan Penetapan Kalender Arab pra-Islam
Bulan beres-beres
Kesadaran akan posisi Sya’ban sebagai bulan penataan tercermin pada catatan Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Ghunyah, yang dinisbatkan kepada seorang sahabat Nabi Saw bernama Anas bin Malik RA. Di dalamnya digambarkan sejumlah praktik para sahabat ketika memasuki bulan Sya’ban.
Ketika hilal Sya’ban terlihat, para sahabat meningkatkan kesungguhan membaca Al-Qur’an. Aktivitas tersebut dijalankan sebagai pembiasaan ritme ibadah yang lebih disiplin, bukan sebagai ritual seremonial menjelang Ramadan. Al-Qur’an dihadirkan secara intens sebelum Ramadan datang dengan tuntutan ibadah yang lebih padat.
Pada saat bersamaan, urusan sosial diselesaikan. Orang-orang yang memiliki kecukupan harta menyegerakan pembayaran zakat agar kaum lemah tidak memasuki Ramadan dalam kondisi kekurangan. Kesiapan ibadah dipahami seiring dengan tanggung jawab sosial. Ramadan dijalani sebagai ibadah kolektif, bukan urusan pribadi semata.
Penataan juga menjangkau ranah publik dan ekonomi. Perkara hukum yang tertunda diselesaikan, para pedagang melunasi utang serta menertibkan piutang, dengan tujuan jangan sampai ada beban urusan dunia yang terbawa hingga ke bulan berikutnya.
Seluruh langkah tersebut mengarah pada satu tujuan, yakni menyambut Ramadan dalam keadaan tertib dan lapang. Sya’ban dijalani sebagai fase beres-beres. Fokusnya bukan sekadar penambahan amalan, tetapi penuntasan hal-hal yang berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah.
Ibnu Rajab Al-Hanbali RA merangkum makna Sya’ban sebagai berikut:
لما كان شعبان كالمقدمة لرمضان شرع فيه ما يشرع في رمضان من الصيام و قراءة القرآن ليحصل التأهب لتلقي رمضان و ترتاض النفوس بذلك على طاعة الرحمن
“Ketika Sya’ban bagai pembukaan bagi Ramadan, maka disyari’atkan padanya ibadah yang di syari’atkan pada Ramadan berupa puasa dan membaca Al-Qur’an agar bersiap-siap menghadapi bulan Ramadan dan jiwa-jiwa menjadi terlatih untuk melakukan ibadah tersebut diatas ketaatan kepada Ar-Rahman (Allah).”
Baca: Cara Mudah Menghafal Nama-nama Bulan Hijriah
Dalam Madza fi Sya’ban, Abuya As-Sayid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani menuliskan:
مَنْ عَوَّدَ نَفْسَهُ فِيْهِ بِاْلاِجْتِهَادِ فَازَ فِي رَمَضَانَ بِحُسْنِ اْلأِعْتِيَادِ
“Barang siapa membiasakan diri bersungguh-sungguh beribadah di bulan Sya’ban, maka akan meraih keberhasilan melalui kebiasaan baik di bulan Ramadan.”
Karena itu, Sya’ban paling tepat dipahami sebagai bulan deadline. Peran bulan ini bersifat menentukan. Ramadan bukan ruang untuk memulai dari nol. Ramadan merupakan masa panen. Kualitas panen tersebut ditentukan oleh apa yang dituntaskan atau dibiarkan tertunda selama Sya’ban.