Ikhbar.com: Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo KH Muhammad Syafi’i mendorong madrasah agar mampu mencetak lulusan siap kerja melalui penguatan pendidikan vokasi. Langkah ini dinilai penting supaya madrasah dapat menjawab kebutuhan tenaga terampil di tengah agenda pembangunan nasional.
Ia menyoroti arah kebijakan pemerintah yang kini fokus pada industrialisasi, hilirisasi, hingga swasembada pangan. Menurutnya, pendidikan Islam perlu menyesuaikan diri agar peserta didik tidak hanya memiliki bekal keagamaan, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
“Peluang kerja terbuka sangat besar, tetapi kurikulum kita belum sepenuhnya menjawab kebutuhan itu,” ujar Wamenag Romo Syafi’i dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Romo KH Muhammad Syafi’i menjelaskan Kementerian Agama (Kemenag) sedang menata ulang Direktorat Jenderal Pendidikan Islam setelah terbentuknya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren. Penataan tersebut diarahkan untuk memperkuat fungsi pendidikan Islam agar lebih responsif terhadap tantangan zaman.
Salah satu perhatian utama dalam reformulasi itu ialah penguatan pendidikan kejuruan di bawah Ditjen Pendidikan Islam, termasuk di lingkungan madrasah. Kebijakan tersebut dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan yang menuntut kompetensi praktis.
Menurut dia, reformasi pendidikan Islam tidak cukup berhenti pada perubahan administratif atau normatif semata. Restrukturisasi kelembagaan harus dibarengi penegasan kembali peran pendidikan Islam secara nyata di tengah masyarakat.
Baca: Wamenag: Pesantren Adalah Benteng Kerukunan Bangsa
“Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan madrasah kejuruan, program vokasi di perguruan tinggi keagamaan Islam, serta kolaborasi lintas kementerian,” kata dia.
Wamenag juga menekankan bahwa sains, teknologi, dan ekonomi sejatinya tidak terpisah dari nilai-nilai Islam. Ia menilai pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum justru menghambat kemajuan pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, pemikir Islam, Haidar Bagir menyoroti pentingnya penyusunan visi pendidikan yang dimulai dari gambaran lulusan yang ingin dihasilkan. Menurutnya, arah pendidikan harus jelas sejak awal agar kurikulum dapat disusun secara tepat.
Ia menjelaskan sistem pendidikan perlu dibangun melalui tahapan visi-misi, profil lulusan, hingga penyusunan kurikulum. Pendidikan juga perlu memberi ruang bagi kecerdasan intelektual, kemampuan saintifik, serta pembentukan karakter.
Terkait pesantren, Haidar menyebut lembaga tersebut memiliki ciri khas yang tidak dimiliki sistem pendidikan modern, yakni perpaduan rasionalitas dan spiritualitas, posisi adab dalam epistemologi, serta transmisi ilmu nonformal melalui hubungan kiai dan santri.
“Distingsi ini harus dirumuskan secara jelas agar pesantren tetap menjaga nilai dasarnya dalam arus modernisasi,” ujarnya.