Ikhbar.com: Kesehatan santri perlu dijaga melalui kebiasaan makan yang baik, pemantauan kondisi tubuh, dan pengelolaan makanan yang terencana. Pesantren dapat memulai pembenahan tanpa harus menunggu fasilitas lengkap, selama langkah yang dipilih sesuai kebutuhan dan dijalankan secara berkelanjutan.
Ahli gizi sekaligus Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) KHAS Kempek Cirebon, Ustazah Yuswati, SKM., M.Kes., menjelaskan tiga prioritas yang dapat diterapkan pesantren, yakni mengenali masalah kesehatan santri, memperbaiki kualitas makanan, dan membangun sistem pemantauan.
“Prioritas pertama adalah mengenali masalah,” ungkap Ustazah Yuswati kepada Ikhbar.com, Rabu, 21 Oktober 2026.

Baca: Gizi Santri dan Masa Depan Pendidikan Pesantren: Dari Kualitas Menu hingga Sistem Kesehatan
Menurut Ustazah Yuswati, langkah awal dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dasar mengenai jumlah santri, kelompok usia, pola makan, serta keluhan kesehatan yang sering muncul. Pengukuran berat dan tinggi badan secara berkala membantu pengelola memahami kondisi santri sekaligus menentukan masalah yang perlu ditangani terlebih dahulu.
Pemantauan perlu menggunakan indikator yang sesuai dengan usia. Pada anak dan remaja berusia 5–19 tahun, indeks massa tubuh menurut umur dapat digunakan sebagai salah satu indikator skrining. Penilaian status gizi juga perlu mempertimbangkan hasil pengukuran dan kondisi kesehatan, bukan hanya penampilan fisik.
“Santri yang tampak sehat belum tentu terbebas dari masalah gizi. Gejala seperti pucat, cepat lelah, pusing, perubahan berat badan yang mencolok, atau gangguan aktivitas perlu ditindaklanjuti. Jika ditemukan risiko kesehatan, pesantren dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkapnya.
Perhatian khusus perlu diberikan terhadap risiko anemia pada remaja putri yang telah menstruasi. Pemeriksaan hemoglobin dan program suplementasi dapat dilakukan bersama puskesmas sesuai sasaran. Penanganan tidak boleh hanya didasarkan pada dugaan karena anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor.
Langkah kedua ialah memperbaiki kualitas menu dan keamanan pangan. Ustazah Yuswati menyarankan pembenahan secara bertahap, mulai dari memastikan ketersediaan sumber protein, menambah variasi sayuran, menyediakan air minum yang aman, hingga menetapkan standar porsi.
“Menu sehat tidak harus terdiri atas bahan pangan mahal. Pesantren dapat mengombinasikan nasi, telur atau ikan, tempe, sayuran, dan buah sesuai ketersediaan,” kata Ustazah Yuswati.
Baca: Kuliner Islam Pelopor Makanan Sehat Dunia
“Pemilihan bahan yang beragam membantu memenuhi kebutuhan zat gizi, sedangkan penyesuaian porsi perlu mempertimbangkan usia dan aktivitas santri,” sambungnya.
Menurut Ustazah Yuswati, kualitas makanan juga ditentukan oleh cara pengolahan dan penyimpanan. Bahan mentah harus dipisahkan dari makanan matang, peralatan dapur dibersihkan dengan benar, dan penjamah makanan menjaga kebersihan tangan. Air yang digunakan untuk mengolah hidangan pun harus memenuhi persyaratan keamanan.
“Tim dapat mengevaluasi menu, sisa makanan, kebersihan dapur, dan keluhan santri setiap bulan, lalu meninjau indikator status gizi sesuai interval yang tepat,” kata Ustazah Yuswati.
Evaluasi sisa makanan membantu pengelola mengetahui apakah hidangan yang disediakan benar-benar dikonsumsi. Jika sayuran sering tersisa, misalnya, pesantren dapat meninjau cara pengolahan, variasi menu, atau porsi yang disajikan. Masukan santri juga dapat menjadi bahan perbaikan agar makanan lebih disukai tanpa mengurangi nilai gizinya.
Langkah ketiga ialah membangun sistem pemantauan yang melibatkan berbagai pihak. Pengasuh dan pimpinan pesantren dapat menetapkan kebijakan serta menyediakan sumber daya. Pengelola dapur bertanggung jawab atas perencanaan menu, sedangkan tenaga kesehatan membantu edukasi, skrining, dan rujukan. Santri turut berperan melalui masukan serta penerapan kebiasaan makan sehat.
Kerja sama dengan perguruan tinggi kesehatan dan puskesmas dapat memperkuat pelaksanaan program. Perguruan tinggi dapat mendukung edukasi gizi, evaluasi penyelenggaraan makanan, pemantauan status gizi, serta penelitian terapan. Program perlu dirancang bersama pihak pesantren agar sesuai dengan kebutuhan dan berlanjut setelah kegiatan selesai.
Pesantren juga perlu menetapkan indikator yang realistis. Keragaman menu, keteraturan sarapan, akses terhadap air minum, kebersihan dapur, sisa makanan, dan cakupan pemantauan kesehatan dapat dicatat secara berkala. Data awal berfungsi sebagai pembanding untuk menilai perkembangan program.
Penilaian hasil harus dilakukan secara hati-hati. Perubahan prestasi akademik atau kemampuan menghafal Al-Qur’an tidak dapat langsung dikaitkan dengan perbaikan gizi karena keduanya juga dipengaruhi metode belajar, kualitas tidur, motivasi, dan kondisi psikologis.
Ustazah Yuswati menekankan bahwa pembenahan kesehatan santri dapat dimulai melalui langkah sederhana yang kemudian disempurnakan berdasarkan hasil evaluasi.
“Perubahan yang sederhana, terukur, dan berkesinambungan justru sering menjadi fondasi yang paling kuat,” tutur Ustazah Yuswati.