Ikhbar.com: Pesantren memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan utama dalam membangun ekosistem informasi digital nasional. Di tengah derasnya arus disinformasi, hoaks, dan polarisasi di ruang digital, lembaga pendidikan Islam dinilai memiliki modal sosial, intelektual, dan moral yang kuat untuk menghadirkan narasi yang berkeadaban serta memperkuat ketahanan informasi bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia (RI), Hj. Meutya Viada Hafid, dalam prolog buku Jurnalisme Pesantren: Sanad, Kaidah, hingga Kaifiah Pengembangan Media Kaum Sarungan karya CEO Ikhbar Group, KH Sobih Adnan.
“Hubungan pesantren dengan perkembangan teknologi informasi bukanlah sesuatu yang baru, melainkan kelanjutan dari tradisi intelektual yang telah lama tumbuh di lingkungan pesantren,” tulis Menteri Meutya, dikutip pada Kamis, 18 Juni 2026.
Baca: Peluncuran Buku Jurnalisme Pesantren Warnai Haul dan Imtihan Ke-47 Ponpes Ketitang Cirebon
Digitalisasi tradisi
Menteri Meutya memandang pesantren telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa selama berabad-abad. Memasuki era ekonomi informasi digital, peran tersebut semakin relevan karena pesantren memiliki kapasitas sebagai penjaga nilai sekaligus penghasil narasi yang memberi arah bagi kehidupan masyarakat.
Dalam prolog itu, mantan news anchor Metro TV tersebut menjelaskan bahwa tradisi pesantren selalu mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perjalanan dari pembelajaran kitab kuning menuju pemanfaatan platform digital menunjukkan kesinambungan tradisi keilmuan yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
Menurut Menkomdigi, Indonesia yang memiliki lebih dari 39.000 pesantren dan jutaan santri merupakan kekuatan besar yang dapat berkontribusi dalam ekonomi informasi digital.
“Di tengah kondisi ketika data menjadi sumber daya strategis dan perhatian publik menjadi aset yang diperebutkan, pesantren dinilai mampu menghadirkan konten yang bermakna, memperkuat literasi, sekaligus mengembangkan inovasi digital yang berlandaskan Pancasila dan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.
Bagi Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) RI, pembangunan ekosistem digital tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur maupun pengembangan teknologi. Hal yang tidak kalah penting ialah memastikan ruang digital dipenuhi informasi yang bertanggung jawab serta mampu memperkuat kehidupan berbangsa.
“Ekonomi informasi digital bukan hanya soal infrastruktur serat optik atau kecerdasan buatan, tetapi juga tentang siapa yang menguasai narasi, siapa yang membentuk opini publik, dan siapa yang menjaga ruang bersama dari pencemaran hoaks serta polarisasi,” tulis Menkomdigi.
“Pesantren, dengan kearifan lokal dan otoritas keagamaannya, berada di posisi yang sangat strategis untuk memimpin transformasi ini,” sambungnya.
Baca: Buku Jurnalisme Pesantren Perkuat Peran Santri di Dunia Media
Agenda bersama
Kemenkomdigi menempatkan penguatan literasi media dan digital di lingkungan pesantren sebagai salah satu agenda prioritas. Kebijakan tersebut berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta digital, serta penguatan tata kelola informasi yang bertanggung jawab.
Melalui kolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) RI dan pondok pesantren di berbagai daerah, pemerintah mendorong integrasi literasi digital yang mencakup aspek teknis, etika, dan kemampuan berpikir kritis. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong santri menjadi pembuat konten yang bertanggung jawab serta memiliki kesadaran terhadap dampak informasi yang diproduksi.
Dalam konteks tersebut, Menkomdigi menilai buku Jurnalisme Pesantren lahir pada momentum yang tepat. Pengalaman penulis sebagai jurnalis selama lebih dari satu dekade yang kini menjadi salah satu anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Ketitang Cirebon dinilai menghadirkan sudut pandang yang mempertemukan praktik jurnalisme profesional dengan tradisi keilmuan pesantren.
Menurut Menteri Meutya, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa tata kelola informasi dapat dibangun di atas nilai-nilai pesantren melalui konsep sanad, kaidah, dan kaifiah. Perspektif tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan narasi nasional di tengah derasnya arus informasi global.
“Pesantren, melalui jurnalisme yang dikembangkan di dalamnya, dapat menjadi counter-narrative terhadap arus global yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan kita,” ungkapnya.
Baca: Imam Syafi’i pun Pernah Dituduh Lakukan Kampanye Hitam
Menjawab tantangan disinformasi
Menkomdigi menilai tantangan bangsa di ruang digital semakin kompleks. Penyebaran hoaks, disinformasi, dan narasi ekstrem berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut bahkan kerap memanfaatkan isu agama maupun pesantren untuk memecah belah masyarakat.
Di sisi lain, pesantren memiliki modal yang sulit digantikan, yakni kepercayaan masyarakat, jaringan kelembagaan yang menjangkau berbagai daerah, serta tradisi intelektual yang menempatkan sikap kritis dan etika sebagai fondasi pembelajaran. Modal itu membuka peluang bagi pesantren untuk berperan sebagai pemeriksa fakta berbasis komunitas, penghasil konten moderat, sekaligus pendidik digital bagi generasi muda.
Karena itu, Menteri Meutya mengajak santri memanfaatkan kemampuan menulis, memproduksi konten, dan menggunakan teknologi digital untuk memperkuat nilai-nilai kebaikan. Ajakan yang sama juga disampaikan kepada pengelola media pesantren agar terus meningkatkan profesionalisme tanpa melepaskan karakter keislaman dan kebangsaan.
Dukungan tersebut juga ditujukan kepada pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi kemasyarakatan, platform digital, hingga dunia usaha agar bersama-sama membangun gerakan nasional “Pesantren Digital Berdaya”. Menurut Menkomdigi, peluncuran dan bedah buku dalam rangkaian Pekan Peringatan Haul KH Salwa Yasin, KH Asror Hasan, KM Adnan Amin Asror, serta Haflah Imtihan Ke-47 Pondok Pesantren Ketitang Cirebon menjadi momentum penting untuk melanjutkan warisan ilmu para kiai dalam menjawab tantangan zaman.
Menutup prolognya, Menteri Meutya menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 membutuhkan pesantren yang mampu berkembang di tengah perubahan digital dan terus mengambil peran dalam membangun peradaban bangsa.
“Indonesia masa depan adalah Indonesia yang unggul dalam ekonomi informasi digital. Untuk mewujudkannya, kita memerlukan pesantren yang tidak hanya survive, tetapi thrive di era digital. Mari kita bersama-sama menjadikan pesantren sebagai mercusuar informasi yang terang benderang, menerangi jalan bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.