KOPRI PMII Minta Bacalon Ketum PBNU Paham Kebutuhan Gen Z

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Korps PMII Putri (KOPRI), Wulansari Aliyatul Solikhahi saat mengikuti diskusi bertajuk “Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua”, Selasa, 11 Agustus 2026. Foto: Ikhbar/Vina

Ikhbar.com: Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Korps PMII Putri (KOPRI), Wulan Sari Aliyatul Solikhahi menilai, bakal calon pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) ke depan harus memahami karakter dan kebutuhan generasi muda, terutama Gen Z.

Menurutnya, kemampuan membaca perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika media sosial (medsos) menjadi bagian penting dalam menjaga relevansi NU.

Pandangan tersebut disampaikan Wulan dalam diskusi bertajuk “Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua”, Selasa, 11 Agustus 2026.

Wulan mengatakan, generasi muda tidak lagi tepat ditempatkan hanya sebagai penerus organisasi. Anak muda perlu dipandang sebagai bagian dari NU yang memiliki peran dalam kehidupan organisasi saat ini.

Baca: Musyawarah AHWA Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ndalem Kiai Wahab

“Kalau dulu sering dibilang bahwa anak muda adalah masa depan NU, hari ini tidak bisa. Kita harus menganggap bahwa anak muda adalah bagian dari NU hari ini,” ujar Wulan.

Menurut Wulan, perhatian terhadap generasi muda semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Kepemimpinan NU hasil Muktamar Ke-35 NU akan berhadapan dengan perubahan komposisi generasi yang turut memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.

Ia menilai NU juga perlu menunjukkan manfaat yang nyata bagi generasi muda. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuan organisasi dalam menjawab kebutuhan dan persoalan yang dihadapi anak muda.

“Kita harus bisa menyampaikan bahwa anak muda dari NU itu bisa dapat apa atau NU bisa memberikan manfaat apa untuk anak-anak muda,” katanya.

Wulan menyebut generasi muda saat ini memiliki karakter yang berbeda. Mereka semakin kritis, terdidik, serta terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat NU perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan menjalankan program agar tetap dapat menjangkau generasi muda.

“Relevansi dengan anak muda itu harus dijaga supaya tetap relevan terhadap kebutuhan anak muda NU yang makin hari makin kritis, makin terdidik, semakin adaptif terhadap teknologi,” tuturnya.

Selain perubahan karakter generasi, Wulan menyoroti meningkatnya kehidupan masyarakat di wilayah perkotaan. Menurutnya, perubahan tersebut menjadi tantangan bagi NU yang selama ini memiliki basis kuat di masyarakat perdesaan.

“NU yang tadinya mayoritas masyarakat di desa itu akan mengalami tantangan yang besar, bagaimana kita bisa menyesuaikan dengan kondisi tersebut dan mempersiapkan hal tersebut,” ujarnya.

Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan juga menjadi perhatian Wulan. Ia menilai pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Wulan, teknologi memang dapat membantu berbagai aktivitas, termasuk pekerjaan akademik. Namun, kemampuan bernalar tetap menjadi bagian penting yang harus dipertahankan.

“Meskipun sekarang skripsi atau tesis banyak dibantu oleh AI, nalar kritis kita itu juga yang menjadi barang penentu,” kata Wulan.

Wulan juga menyoroti pengaruh medsos terhadap cara generasi muda melihat NU. Menurutnya, ruang digital perlu menjadi perhatian karena sebagian besar anak muda berinteraksi dan memperoleh informasi melalui platform tersebut.

“Kalau kita enggak mengintervensi perkembangan algoritma di sosial media hari ini, maka anak-anak muda ini semakin akan bahkan mungkin enggak mau kalau ngaku dirinya NU,” ujarnya.

Ia menyebut narasi negatif mengenai NU yang beredar di media sosial sebagai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Komunikasi NU dengan generasi muda, menurutnya, perlu mampu menjawab dinamika tersebut.

“Kalau ngomong tentang NU itu lebih banyak cenderung ke negatifnya, nah ini tantangan bersama yang harus kita jawab,” katanya.

Wulan menilai pemimpin NU mendatang perlu memiliki integritas sekaligus kemampuan memahami perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Pemimpin juga perlu memahami karakter generasi muda dan perkembangan teknologi.

Menurutnya, kepemimpinan NU perlu mampu menghubungkan tradisi organisasi dengan perubahan zaman. Hal itu mencakup perkembangan teknologi, AI, media sosial, perubahan demografi, serta kebutuhan generasi muda.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.