Ikhbar.com: Guru Besar Emeritus Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan, IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. tampil sebagai salah satu pembicara kunci dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Forum yang digelar Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) tersebut mempertemukan akademisi dan pakar dari sejumlah negara untuk membahas masa depan maritim, teknologi, tata kelola, dan ekonomi biru.
Dalam forum bertema “Securing the Maritime Future. Mengamankan Masa Depan Maritim” dengan tema pendukung “Advancing Smart Technology and Governance for a Resilient Blue Economy. Memajukan Teknologi Cerdas dan Tata Kelola untuk Ekonomi Biru yang Tangguh”, Prof. Rokhmin membawa materi berjudul “Blue Economy: A Gamechanger for Achieving Golden Indonesia 2045 and a Better World. Ekonomi Biru: Pengubah Permainan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan Dunia yang Lebih Baik”. Paparan tersebut menempatkan blue economy (ekonomi biru) sebagai salah satu pendekatan penting untuk mengubah potensi kelautan Indonesia menjadi kekuatan pembangunan jangka panjang.
“Blue economy tidak seharusnya dipandang sebagai salah satu sektor ekonomi di antara banyak sektor. Ekonomi biru harus menjadi platform baru bagi transformasi struktural Indonesia,” kata Prof. Rokhmin, Jumat, 2 Oktober 2026.

Baca: Prof. Rokhmin Dijadwalkan Jadi Pembicara Utama Konferensi Perikanan Internasional
Prof. Rokhmin mengawali pemaparan sebelum pakar dunia lainnya, seperti Prof. Som Nath Sachdeva dari Kurukshetra University, India, Prof. Vishva Nath Attri dari Indian Ocean Rim Association dan University of Mauritius, serta Prof. Anna Borourueva dari Far Eastern State Technical Fisheries University, Rusia. Sejumlah pembicara dari Prancis, Finlandia, Maroko, Iran, dan Korea Selatan juga tercantum dalam forum tersebut.
Menurut Prof. Rokhmin, besarnya potensi laut Indonesia harus diikuti kemampuan untuk mengolah sumber daya menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan bernilai tinggi. Dalam materi yang dipaparkan, 11 sektor ekonomi kelautan Indonesia disebut memiliki potensi ekonomi sekitar USD1,348 triliun (setara Rp24.130,5 triliun berdasarkan kurs Rp17.898,00 per USD pada 2 Oktober 2026), dengan potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 45 juta orang atau 36 persen dari total angkatan kerja Indonesia.
“Masa depan Indonesia sebagai negara maju akan sangat bergantung pada kemampuan kita mentransformasikan potensi kelautan dan pesisir yang sangat besar menjadi kegiatan ekonomi yang produktif, kompetitif, bernilai tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Rokhmin.
Baca: Kunjungi Tiongkok, Prof. Rokhmin Jajaki Kerja Sama Akuakultur
Anggota Komisi IV DPR RI tersebut juga menekankan bahwa sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Dibutuhkan pengetahuan, teknologi, inovasi, investasi produktif, industrialisasi, peningkatan nilai tambah, pasar yang kompetitif, dan distribusi manfaat yang adil untuk mengubah keunggulan komparatif berbasis sumber daya alam menjadi keunggulan kompetitif.
“Kekayaan sumber daya alam tidak secara otomatis menciptakan kesejahteraan,” jelas Prof. Rokhmin.
Gagasan tersebut ditempatkan dalam konteks semakin strategisnya wilayah pesisir dan laut bagi kehidupan manusia. Prof. Rokhmin menyebut laut berperan dalam ketahanan pangan, energi, farmasi, biomaterial, pariwisata, transportasi, stabilitas iklim, konservasi keanekaragaman hayati, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Abad ke-21 bahkan disebut semakin menjadi “Ocean Century. Abad Kelautan”.
“Jika didukung sains, teknologi, inovasi, kewirausahaan, investasi berkelanjutan, tata kelola laut yang efektif, dan kolaborasi Penta Helix, ekonomi biru dapat menjadi pengubah permainan bagi Indonesia Emas 2045,” tutur Prof. Rokhmin.