Ikhbar.com: Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., mendorong penguatan hilirisasi minyak sawit agar Indonesia memperoleh nilai tambah lebih besar dari komoditas unggulannya. Menurutnya, pengolahan minyak sawit mentah menjadi beragam produk jadi perlu diperkuat untuk memperluas manfaat ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja di dalam negeri.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 tersebut menekankan pentingnya pembenahan subsistem hilir dalam agribisnis dan akuabisnis agar hasil produksi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
“Di sektor hilir, jangan hanya menjual bahan mentah. Contohnya, crude palm oil (CPO atau minyak sawit mentah) jangan hanya dijual dalam bentuk mentah. Produk itu harus diolah menjadi berbagai produk, seperti margarin, minyak goreng, bahan kosmetik, dan sebagainya,” ujar Prof. Rokhmin, saat menjadi pembicara dalam program Jendela Negeri, dengan tema “Menjaga Petani, Mengamankan Pangan Negeri”, di TVRI, Jumat, 9 Oktober 2026.
Baca: Prof. Rokhmin di TVRI: Percuma Swasembada jika Petani dan Nelayan belum Sejahtera!
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University itu menjelaskan bahwa agribisnis dan akuabisnis memiliki tiga subsistem utama, yakni produksi, penyediaan sarana produksi, serta pascapanen dan pemasaran. Pembenahan ketiganya diperlukan agar sektor pertanian dan perikanan semakin produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam pandangannya, penguatan sektor hilir merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia dari hasil produksi dalam negeri. Pengolahan bahan mentah menjadi produk turunan bernilai tambah lebih tinggi juga berpotensi memperluas kesempatan kerja di industri pengolahan.
Prof. Rokhmin menyebut sekitar 80 persen sawit Indonesia diekspor dalam keadaan mentah. Ia juga menyampaikan bahwa produksi minyak sawit mentah Indonesia hampir mencapai 50 juta ton, sedangkan Malaysia menghasilkan sekitar 17 juta ton.
“Sekitar 80 persen sawit Indonesia diekspor dalam keadaan mentah. Padahal, kita merupakan produsen CPO terbesar, dengan produksi hampir 50 juta ton. Negara tetangga kita, Malaysia, hanya sekitar 17 juta ton,” katanya.
Baca: Prof. Rokhmin Dorong Sagu Jadi Alternatif Gandum untuk Bahan Baku Mi
Menurut Prof. Rokhmin, besarnya produksi perlu diimbangi kemampuan industri dalam negeri mengolah sawit menjadi berbagai produk turunan. Jika sebagian besar komoditas dipasarkan tanpa pengolahan lanjutan di dalam negeri, peluang memperoleh manfaat ekonomi dari proses tersebut berpotensi dinikmati negara pengimpor yang mengolahnya menjadi barang jadi.
“Akibatnya, nilai tambah dan lapangan kerja justru banyak dinikmati negara yang mengimpor CPO kita,” ujar Prof. Rokhmin.
Ia menegaskan bahwa industri pascapanen perlu mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan pertanian. Prinsip tersebut juga berlaku bagi komoditas lain yang menghadapi persoalan pemasaran dan rendahnya nilai tambah di tingkat produsen.
Hilirisasi perlu menjadi bagian dari pembenahan sistem agribisnis secara menyeluruh. Produksi harus ditunjang ketersediaan sarana yang memadai, sedangkan hasil panen perlu ditangani dan dipasarkan melalui sistem yang dapat meningkatkan nilai ekonominya. Seluruh upaya tersebut juga perlu memperhatikan kepentingan pelaku usaha kecil, termasuk petani.
“Itulah sebabnya industri pascapanen harus menjadi perhatian,” kata Prof. Rokhmin.
Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.