50 Dai Cirebon Ikuti Pelatihan Strategi Dakwah Keuangan Syariah di Al-Mumtaz

Para peserta Pelatihan Dai Finansial bersama Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi (PPE) Al-Muntaz Karangsembung. Foto: Ikhbar/FSJ

Ikhbar.com: Sebanyak 55 dai dan daiyah dari sewilayah III Cirebon mengikuti Pelatihan Dai Konvensional: Teknik, Media, dan Strategi Dakwah Keuangan Syariah yang digelar di halaman Pondok Pesantren Ekonomi (PPE) Al-Mumtaz Karangsembung Cirebon, Rabu, 13 Mei 2025.

Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi (PPE) Al-Mumtaz Karangsembung Cirebon, Dr. KH Sigit Nurhendi, menegaskan bahwa kehadiran pesantren ekonomi merupakan respons strategis terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan keumatan yang berkembang di masyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta dari wilayah 3 Cirebon yang sebelumnya melewati proses seleksi ketat. Dari sekitar 100 pendaftar, hanya 55 peserta yang dinyatakan lolos untuk mengikuti pelatihan. Program ini juga dirancang berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan dakwah ekonomi syariah di tengah masyarakat.

Kiai Sigit menyampaikan bahwa pesantren saat ini tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan agama semata. Menurutnya, pesantren harus memiliki kepekaan terhadap persoalan ekonomi yang dihadapi umat.

Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi (PPE) Al-Mumtaz Karangsembung Cirebon, Dr. KH Sigit Nurhendi. Foto: Ikhbar/FSJ

Baca: SMAN 1 Lemahabang Cirebon Gandeng Ikhbar Gelar Pelatihan AI

“Hadirnya Pondok Pesantren Ekonomi Al-Mumtaz Karangsembung Cirebon ini sudah menjadi kebutuhan kita semua. Ini merupakan respons strategis terhadap problematika ekonomi, sosial, dan keumatan,” ujar Kiai Sigit.

Ia menjelaskan, paradigma pesantren perlu diperluas agar tidak hanya fokus pada aspek tarbiyah atau pendidikan keagamaan. Pesantren, kata dia, harus mampu menjadi basis pemberdayaan umat, khususnya dalam menghadapi persoalan ekonomi masyarakat.

Menurut Kiai Sigit, konsep tersebut juga sejalan dengan fungsi masjid yang tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi. Karena itu, ia mendorong lahirnya berbagai lembaga dan kegiatan pemberdayaan berbasis masjid.

“Masjid bukan sekadar pusat kegiatan ibadah, tetapi juga pusat ekonomi, sosial, dan pendidikan. Maka harus dilahirkan lembaga-lembaga di masjid, termasuk kegiatan sosial dan ekonomi,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi sosial di sekitar lingkungan masyarakat yang masih diwarnai kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan.

“Bagaimana rasanya kalau masjidnya bagus, tetapi di sekitarnya masih banyak kemiskinan, kelaparan, dan anak-anak yang tidak sekolah. Maka ini menjadi tanggung jawab kita semua,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Sigit turut menyinggung persoalan judi online dan pinjaman online di kalangan mahasiswa. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan saat mengisi seminar di salah satu kampus, ditemukan angka yang cukup memprihatinkan terkait keterlibatan mahasiswa dalam praktik tersebut.

“Beberapa waktu lalu saya mengisi seminar di salah satu kampus. Saya melakukan riset dan menemukan sekitar 64 persen mahasiswa terpapar judol dan pinjol,” ungkapnya.

Melalui pelatihan dai keuangan syariah ini, PPE Al-Mumtaz Karangsembung Cirebon berharap dapat melahirkan dai yang tidak hanya mampu berdakwah secara konvensional, tetapi juga memahami strategi edukasi ekonomi syariah di tengah tantangan sosial masyarakat modern.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.