Dosen PPL UIN Cirebon: Menulis Adalah Cara Mengabadikan Sejarah

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Ustaz Muhamad Sofi Mubarok, M.H.I., (kiri) dan Ny. Hj. Ery Khaeriyah, S.Ag., M.A (kanan) saat memberikan sambutan. Foto: IKHBAR/Fatah

Ikhbar.com: Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan menulis sebagai sarana menyampaikan gagasan, merekam pengalaman, dan mendokumentasikan perjalanan zaman. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa untuk berkontribusi di tengah masyarakat.

Pesan itu disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Ustaz Muhamad Sofi Mubarok, M.H.I., dalam penutupan Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa di Kantor Redaksi Ikhbar.com, Kompleks Pondok Pesantren Keritang, Cirebon, Kamis, 9 Oktober 2026.

Ia menegaskan, mahasiswa sebagai agen perubahan perlu membuktikan gagasannya melalui karya nyata. Salah satu caranya ialah membangun kebiasaan menulis, sehingga pemikiran yang dimiliki dapat disampaikan dan dibaca oleh masyarakat luas.

“Mahasiswa itu agen perubahan, jangan cuma bisa ngomong, tapi bisa nulis,” ujarnya.

Baca: Pemred Ikhbar.com Tutup PPL Mahasiswa UIN Cirebon, Karya Peserta Disiapkan Jadi Buku

Menurutnya, menulis memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan gagasan sekaligus merekam pemikiran yang dapat dipelajari kembali pada masa mendatang. Tulisan juga dapat menjadi sarana untuk menghubungkan pengalaman masa kini dengan peristiwa yang telah berlalu maupun gagasan tentang masa depan.

Ia menggambarkan menulis sebagai perjalanan melintasi waktu. Melalui tulisan, seseorang dapat mengenali kembali pemikiran, pengalaman, dan peristiwa yang pernah terjadi, sekaligus menyampaikan gagasan kepada generasi berikutnya.

“Kalau kamu tidak menemukan mesin waktu untuk bisa melakukan petualangan ke masa lalu atau masa depan, maka menulislah. Menulis itu perlintasan sejarah,” kata Ustaz Sofi.

Dosen Pembimbing Lapangan lainnya, Ny. Hj. Ery Khaeriyah, S.Ag., M.A menyebut bahwa setiap orang memiliki kecenderungan dan cara tersendiri dalam mengekspresikan diri melalui tulisan. Perbedaan tersebut membuat proses menulis dapat menjadi pengalaman personal bagi setiap penulis.

Ia menyampaikan, menulis dapat menjadi sarana untuk melepaskan beban pikiran dan menyalurkan emosi. Dalam prosesnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam karena berusaha menuangkan berbagai hal yang dirasakan dan dipikirkan ke dalam tulisan.

“Setiap orang punya passion-nya masing-masing. Menulis bisa sebagai pelepasan beban, bisa pelampiasan emosi,” tuturnya.

Ny. Ery juga mengingatkan pentingnya menjadikan pengalaman pribadi sebagai bahan tulisan. Hal-hal yang dialami, dirasakan, dan dipikirkan dapat menjadi sumber untuk mengembangkan gagasan, sehingga tulisan memiliki keterkaitan dengan kehidupan penulis.

Menurutnya, penulis kerap menuangkan hal-hal yang dekat dengan pikirannya. Karena itu, mengenali pengalaman dan memahami apa yang sedang dirasakan dapat membantu seseorang menemukan bahan untuk ditulis.

“Menulis apa yang ada dalam diri kita. Itu diambil dari pengalaman, apa yang kita rasakan. Kebanyakan penulis tidak jauh dari apa yang ada di pikiran,” jelasnya.

Ikuti dan baca artikel kami lainnya di Google News.